Perekonomian di Tanjungpinang digerakkan pedagang etnis Tionghoa
 Jumat, 16 Februari 2018 14:27 WIB
 
Seorang pedagang jamu tradisional menjajakan dagangannya di pasar kliwon, 
Kudus, Jateng, Rabu (4/1). Jamu tradisional yang digunakan untuk menyembuhkan 
berbagai penyakit hasil akulturasi budaya antara jamu tradisional Tionghoa dan 
Jawa ini dijual Rp 9 ribu - Rp 15 ribu per paket. (FOTO ANTAR/Andreas Fitri 
Atmok)

Warga etnis Tionghoa sejak dahulu sampai sekarang terkenal lihai berdagang. 
Banyak yang sukses."
Tanjungpinang (ANTARA News) - Pemerintah Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau 
menyatakan, perekonomian di ibu kota Kepulauan Riau mayoritas digerakkan warga 
etnis Tionghoa.

"Warga etnis Tionghoa sejak dahulu sampai sekarang terkenal lihai berdagang.. 
Banyak yang sukses," kata Sekda Tanjungpinang Riono di Tanjungpinang, Jumat.

Ia mengatakan, Tanjungpinang pada hari pertama perayaan Imlek tampak lengang, 
karena nyaris tidak ada aktivitas perdagangan. Biasanya, aktivitas perdagangan 
dimulai pada hari ketiga atau kelima Imlek.

"Pada hari pertama dan kedua Imlek ribuan toko dan kios di Tanjungpinang tutup. 
Hal itu disebabkan para pedagang merayakan Imlek. Hampir semua swalayan pun 
tutup karena pemiliknya merayakan Imlek," ucapnya.

Riono mengemukakan, warga etnis tionghoa di Tanjungpinang tidak hanya menguasai 
perekonomian berskala kecil dan sedang, melainkan juga usaha berskala besar, 
seperti pembuatan kapal, perumahan, restoran dan perhotelan.

"Banyak warga etnis Tionghoa di Tanjungpinang menjadi pengusaha sukses. Mereka 
menggeluti usahanya secara serius," ucapnya.

Menurut dia, warga etnis Tionghoa sejak zaman Kerajaan Riau-Lingga terkenal 
lihai menggeluti sektor perdagangan. Mereka juga membangun sejumlah kawasan 
perdagangan yang diberikan raja-raja terdahulu, seperti Senggarang.

"Di Senggarang pula raja mengijinkan warga etnis Tionghoa untuk membangun 
tempat ibadah, yang dikenal dengan nama Kelenteng Akar," tuturnya.

Kehadiran pedagang dari kalangan etnis Tionghoa sejak dahulu membantu memajukan 
perekonomian Kepri, khususnya Tanjungpinang. Mereka pun semakin lama hidup 
membaur dengan masyarakat dari suku lainnya.

"Kalau dahulu sampai orde baru mereka dikenal sebagai suku yang eksklusif 
karena kurang berbaur. Sejak reformasi kondisi itu sudah berubah, kehidupan 
masyarakat berbaur, tidak dipengaruhi suku," katanya. 
Pewarta: Nikolas Panama
Editor: Kunto Wibisono

Kirim email ke