*Mengapa jauh sebelumnya tidak ada yang memberikan laporan terjadi
kekuarangan makanan bagi penduduk?? Tidak ada hubungan radio? Kelaparan
yang disengajakan? Gubernurnya tidur menunggu pujian Jakarta? Tidak
mengherankan jika berita yang akan datang bahwa banyak penduduk di Azmat
pindah agama. *


http://properti.kompas.com/read/2018/02/09/100000121/biaya-pembangunan-infrastruktur-di-asmat-dua-kali-lebih-mahal



Biaya Pembangunan Infrastruktur di Asmat Dua Kali Lebih Mahal

Dani Prabowo <http://indeks.kompas.com/profile/488/Dani.Prabowo>

Kompas.com - 09/02/2018, 10:00 WIB

[image: Seorang ibu mendampingi anaknya Yakubus (kiri) saat perawatan di
Aula Gereja Protestan, Agats, Kabupaten Asmat, Papua, Senin (22/1/2018).
Jumlah anak penderita gizi buruk dan campak yang dirawat sebanyak 85 orang
diantaranya di RSUD Agats 40 anak dan 45 anak di aula gereja Protestan
Indonesia.]Seorang ibu mendampingi anaknya Yakubus (kiri) saat perawatan di
Aula Gereja Protestan, Agats, Kabupaten Asmat, Papua, Senin (22/1/2018).
Jumlah anak penderita gizi buruk dan campak yang dirawat sebanyak 85 orang
diantaranya di RSUD Agats 40 anak dan 45 anak di aula gereja Protestan
Indonesia.(ANTARA FOTO / M AGUNG RAJASA)



*JAKARTA, KOMPAS.com* - Sejumlah proyek infrastruktur
<http://indeks.kompas.com/tag/infrastruktur> jalan akan digarap di
Kabupaten Asmat <http://indeks.kompas.com/tag/Asmat>, Papua. Hal ini untuk
memudahkan akses masyarakat menuju sejumlah fasilitas umum dan fasilitas
sosial, seperti sekolah dan rumah sakit.

Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR Arie Setiadi Moerwanto
mengatakan, anggaran yang dibutuhkan untuk membangun jalan di Asmat cukup
mahal, bila dibandingkan kualitas jalan yang sama di Pulau Jawa.

*Baca juga : Sulitnya Medan Asmat dan Upaya Mewujudkan Harapan
<http://properti.kompas.com/read/2018/02/08/220000521/sulitnya-medan-asmat-dan-upaya-mewujudkan-harapan>*

Hal ini tidak terlepas dari keterbatasan bahan baku yang ada di wilayah
kabupaten tersebut.

Seperti batu yang harus dikirim dari wilayah Surabaya, Poso atau Palu.

"Minimum bisa dua kali lipat dari anggaran biasanya," kata Arie di
kantornya, Kamis (8/2/2018).

Sebagai gambaran, bila biasanya dibutuhkan anggaran sekitar Rp 12 juta
untuk membangun jalan beton per meter, di Asmat dibutuhkan sekitar Rp 24
juta per meter.

[image: Seorang ibu memberikan susu kepada anaknya di Rumah Sakit Umum
Daerah (RSUD) Agats, Kabupaten Asmat, Papua, Sabtu (27/1/2018). Data
terakhir jumlah pasien campak dan gizi buruk di RSUD tersebut mencapai 88
dengan rincian penderita campak 7 pasien, gizi buruk 73 pasien, gizi buruk
plus campak 2 pasien dan gizi kurang 6 pasien.]Seorang ibu memberikan susu
kepada anaknya di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Agats, Kabupaten Asmat,
Papua, Sabtu (27/1/2018). Data terakhir jumlah pasien campak dan gizi buruk
di RSUD tersebut mencapai 88 dengan rincian penderita campak 7 pasien, gizi
buruk 73 pasien, gizi buruk plus campak 2 pasien dan gizi kurang 6
pasien.(ANTARA FOTO/M AGUNG RAJASA)

Adapun jalan yang hendak dibangun dirancang selebar empat meter. Jalan itu
menghubungkan wilayah kampung lama yang masih menggunakan kayu sebagai
jalan eksisting, menuju kampung baru sebagai lokasi rumah sakit umum daerah
(RSUD).

Selain itu, juga akan dibangun jembatan gantung sepanjang 72 meter yang
akan menggantikan jembatan lama.

Sekadar informasi, jembatan kayu eksisting saat ini sudah lapuk bahkan
nyaris terputus. Untuk akses transportasi menuju RSUD, masyarakat biasanya
menggunakan perahu lantaran kabupaten itu dikelilingi rawa-rawa.

"Jangan hitung *internal rate of return* (IRR). Kalau gitu, kita enggak
akan bangun-bangun di Papua," tambah Arie.

[image: Dua orang anak dari kampung Warse, Distrik Jetsy menunggu perawatan
setibanya di RSUD Agats, Kabupaten Asmat, Papua, Senin (22/1/2018).
Sebanyak 15 anak dievakuasi menuju Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Agats
untuk diberikan perawatan dan pengobatan.]

Dua orang anak dari kampung Warse, Distrik Jetsy menunggu perawatan
setibanya di RSUD Agats, Kabupaten Asmat, Papua, Senin (22/1/2018).
Sebanyak 15 anak dievakuasi menuju Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Agats
untuk diberikan perawatan dan pengobatan.(ANTARA FOTO / M AGUNG RAJASA)

Mahalnya anggaran pembangunan infrastruktur juga disampaikan Direktur
Keterpaduan Infrastruktur <http://indeks.kompas.com/tag/infrastruktur>
Pemukiman Dwityo Akoro Soeranto.

Biasanya, untuk membangun sebuah sistem Penyediaan Air Minum dan Sanitasi
Berbasis Masyarakat (Pamsimas) dibutuhkan biaya sekitar Rp 200 juta hingga
Rp 300 juta.

"Di sana bisa 2-3 kali lipat," ungkap Dwityo.

Pemerintah sendiri berencana membangun setidaknya 3 pamsimas untuk setiap
distrik. Sementara, di sana terdapat sekitar 23 distrik yang akan dibangun
pamsimas.

*Sering dikira dikorupsi*

Arie mengaku, beberapa waktu lalu sempat mendapat protes dari Bupati Asmat,
Elisa Kambu. Pasalnya sering kali muncul kritikan bila pembangunan
infrastruktur di sana kurang terlihat, meski anggaran yang diberikan
pemerintah pusat sudah cukup besar.

[image: Warga menggendong anaknya saat dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah
(RSUD) Agats, Kabupaten Asmat, Papua, Senin (22/1/2018). Jumlah anak
penderita gizi buruk dan campak yang dirawat di kawasan tersebut sebanyak
85 orang diantaranya di RSUD Agats 40 anak dan 45 anak di aula gereja
Protestan Indonesia.]Warga menggendong anaknya saat dirawat di Rumah Sakit
Umum Daerah (RSUD) Agats, Kabupaten Asmat, Papua, Senin (22/1/2018). Jumlah
anak penderita gizi buruk dan campak yang dirawat di kawasan tersebut
sebanyak 85 orang diantaranya di RSUD Agats 40 anak dan 45 anak di aula
gereja Protestan Indonesia.(ANTARA FOTO / M AGUNG RAJASA)

"Sekian triliun digelontorkan itu kok pembangunannya tidak ada. Jangan
disamakan dengan yang ada di sana," kata dia menirukan protes Elisa.

"Berat kalau di sana (bicara sudah) digelontorkan (tapi minim hasil),
seolah-olah sudah terjadi korupsi. Padahal tidak, berat di sana (Asmat),"
keluh Arie.

Arie mengatakan, pembangunan infrastruktru di sana memang harus dimulai
dari awal. Sebab, fasilitas yang ada saat ini, banyak yang rusak.

Untuk itu, pemerintah pusat bekerja sama dengan pemerintah daerah membangun
wilayah tersebut. Misalnya, untuk pembangunan infrastruktur akan ditangani
pemerintah pusat.

Sementara untuk penyediaan lahan, akan menjadi kontribusi dari pemerintah
daerah. Demikian halnya dalam persoalan akses menuju ke sana.

Kirim email ke