Keuskupan Agats mestinya punya alat komunikasi untukmenghubungi "dunia luar". 
Begitu juga pemprov dan MRP 
(Majelis Rakyat Papua). Mustahil mereka tidak punya. 
Terkait pembangunan infrastruktur,  Yang jelas tidak ada 
ialah, niat pemerintah pusat untuk melaksanakan kata-katanya 
sendiri.

Gaembar-gembor mau mempercepat pembangunan di Papua 
tetapi yang dibangun di sana acuma jalan darat, jembatan dsb 
yang sebetulnya cukup ditangani pemerintahan daerah. 
Pemerintah pusat harusnya berpikir lebih ke skala nasional 
& internasional. Faktanya, sudah 3 tahun kita tidak mendengar 
kabar tentang 'tol laut' yang dijanjikan untuk mempercepat 
pembangunan Indonesia timur. Entah skala apa yang digunakan 
pemerintahan Luhut-Jokowi ketika menyerahkan begitu saja 
3 KEK di 3 provinsi utara kepada investor OBOR. Seolah 
pemerintahan Jokowi-Luhut tak punya posisi tawar untuk 
mendorong sang investor membantu pembangunan KEK di 
Sorong yang sudah 10 tahun terkatung-katung pembangunannya.
--- ilmesengero@... wrote:
Mengapa jauh sebelumnya tidak ada yang memberikan laporan terjadikekuarangan 
makanan bagi penduduk?? Tidak ada hubungan radio?Kelaparan yang disengajakan? 
Gubernurnya tidur menunggu pujianJakarta? Tidak mengherankan jika berita yang 
akan datang bahwabanyak penduduk di Azmat pindah agama.
http://properti.kompas.com/read/2018/02/09/100000121/biaya-pembangunan-infrastruktur-di-asmat-dua-kali-lebih-mahal
Biaya Pembangunan Infrastruktur diAsmat Dua Kali Lebih 
MahalDaniPrabowoKompas.com - 09/02/2018, 10:00 WIB 
Seorang ibu mendampingi anaknya Yakubus (kiri) saat perawatan di Aula Gereja 
Protestan, Agats, Kabupaten Asmat, Papua, Senin (22/1/2018). Jumlah anak 
penderita gizi buruk dan campak yang dirawat sebanyak 85 orang diantaranya di 
RSUD Agats 40 anak dan 45 anak di aula gereja Protestan Indonesia.(ANTARA FOTO 
/ M AGUNG RAJASA) 
   
  JAKARTA, KOMPAS.com - Sejumlah proyekinfrastrukturjalan akan digarap di 
Kabupaten Asmat,Papua. Hal ini untuk memudahkan akses masyarakat menuju 
sejumlahfasilitas umum dan fasilitas sosial, seperti sekolah dan rumah 
sakit.Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR Arie SetiadiMoerwanto 
mengatakan, anggaran yang dibutuhkan untuk membangun jalandi Asmat cukup mahal, 
bila dibandingkan kualitas jalan yang sama diPulau Jawa.Baca juga : 
SulitnyaMedan Asmat dan Upaya Mewujudkan Harapan Hal ini tidak terlepas dari 
keterbatasan bahan baku yang ada diwilayah kabupaten tersebut.Seperti batu yang 
harus dikirim dari wilayah Surabaya, Poso atauPalu."Minimum bisa dua kali lipat 
dari anggaran biasanya,"kata Arie di kantornya, Kamis (8/2/2018).Sebagai 
gambaran, bila biasanya dibutuhkan anggaran sekitar Rp 12juta untuk membangun 
jalan beton per meter, di Asmat dibutuhkansekitar Rp 24 juta per meter. 
Seorang ibu memberikan susu kepada anaknya di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) 
Agats, Kabupaten Asmat, Papua, Sabtu (27/1/2018). Data terakhir jumlah pasien 
campak dan gizi buruk di RSUD tersebut mencapai 88 dengan rincian penderita 
campak 7 pasien, gizi buruk 73 pasien, gizi buruk plus campak 2 pasien dan gizi 
kurang 6 pasien.(ANTARA FOTO/M AGUNG RAJASA)
Adapun jalan yang hendak dibangun dirancang selebar empat meter.Jalan itu 
menghubungkan wilayah kampung lama yang masih menggunakankayu sebagai jalan 
eksisting, menuju kampung baru sebagai lokasirumah sakit umum daerah 
(RSUD)..Selain itu, juga akan dibangun jembatan gantung sepanjang 72 meteryang 
akan menggantikan jembatan lama.Sekadar informasi, jembatan kayu eksisting saat 
ini sudah lapukbahkan nyaris terputus. Untuk akses transportasi menuju 
RSUD,masyarakat biasanya menggunakan perahu lantaran kabupaten itudikelilingi 
rawa-rawa."Jangan hitung internal rate of return (IRR). Kalaugitu, kita enggak 
akan bangun-bangun di Papua," tambah Arie.  Dua orang anak dari kampung Warse, 
Distrik Jetsy menunggu perawatan setibanya di RSUD Agats, Kabupaten Asmat, 
Papua, Senin (22/1/2018). Sebanyak 15 anak dievakuasi menuju Rumah Sakit Umum 
Daerah (RSUD) Agats untuk diberikan perawatan dan pengobatan.(ANTARA FOTO / M 
AGUNG RAJASA)Mahalnya anggaran pembangunan infrastruktur juga 
disampaikanDirektur Keterpaduan InfrastrukturPemukiman Dwityo Akoro 
Soeranto.Biasanya, untuk membangun sebuah sistem Penyediaan Air Minum 
danSanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) dibutuhkan biaya sekitar Rp200 juta 
hingga Rp 300 juta."Di sana bisa 2-3 kali lipat," ungkap Dwityo.Pemerintah 
sendiri berencana membangun setidaknya 3 pamsimas untuksetiap distrik. 
Sementara, di sana terdapat sekitar 23 distrik yangakan dibangun 
pamsimas.Sering dikira dikorupsiArie mengaku, beberapa waktu lalu sempat 
mendapat protes dariBupati Asmat, Elisa Kambu. Pasalnya sering kali muncul 
kritikan bilapembangunan infrastruktur di sana kurang terlihat, meski 
anggaranyang diberikan pemerintah pusat sudah cukup besar. Warga menggendong 
anaknya saat dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Agats, Kabupaten Asmat, 
Papua, Senin (22/1/2018). Jumlah anak penderita gizi buruk dan campak yang 
dirawat di kawasan tersebut sebanyak 85 orang diantaranya di RSUD Agats 40 anak 
dan 45 anak di aula gereja Protestan Indonesia.(ANTARA FOTO / M AGUNG 
RAJASA)"Sekian triliun digelontorkan itu kok pembangunannya tidakada. Jangan 
disamakan dengan yang ada di sana," kata diamenirukan protes Elisa."Berat kalau 
di sana (bicara sudah) digelontorkan (tapi minimhasil), seolah-olah sudah 
terjadi korupsi.. Padahal tidak, berat disana (Asmat)," keluh Arie.Arie 
mengatakan, pembangunan infrastruktru di sana memang harusdimulai dari awal. 
Sebab, fasilitas yang ada saat ini, banyak yangrusak.Untuk itu, pemerintah 
pusat bekerja sama dengan pemerintah daerahmembangun wilayah tersebut. 
Misalnya, untuk pembangunan infrastrukturakan ditangani pemerintah 
pusat.Sementara untuk penyediaan lahan, akan menjadi kontribusi daripemerintah 
daerah. Demikian halnya dalam persoalan akses menuju kesana.

Kirim email ke