Kisah Para Pejuang Kemerdekaan yang Bernasib Suram

 
Reporter: Irfan Teguh
20 Februari, 2018
https://tirto.id/kisah-para-pejuang-kemerdekaan-yang-bernasib-suram-cE4ma.. 
Kisah-kisah yang ditulis Pramoedya banyak yang berasal dari kenyataan sosial di 
masa revolusi.
Para veteran perang kerap kesulitan, bahkan gagal, menyesuaikan diri dengan 
kebebasan di masa kemerdekaan.tirto.id - Setelah perang kemerdekaan berakhir, 
tak semua kombatan yang berjuang membela Indonesia menjadi berjaya hidupnya. 
Jiwa keperwiraan yang dipanggul di setiap pertempuran dan sepanjang revolusi, 
mesti luluh lantak ditekuk kenyataan yang mencegat di garis depan berikutnya.

Pramoedya Ananta Toer (selanjutnya ditulis Pram), yang mengalami masa revolusi 
dan sempat melewatkannya sebagai kombatan, menulis beberapa cerpen untuk 
mengabadikan kondisi para mantan pejuang itu. Beberapa di antaranya: "Demam", 
"Terondol", dan "Jalan Kurantil No. 28", cerpen-cerpen yang relatif kurang 
dikenal pembaca.  

"Demam" (1950) dan "Terondol" (1947) dihimpun dalam buku Menggelinding 1 yang 
diterbitkan oleh Lentera Dipantara pada 2004, dua tahun sebelum Pram meninggal. 
Sementara "Jalan Kurantil No. 28" terdapat dalam buku Subuh (pertama terbit 
tahun 1951).

Pram memang menulis banyak buku, yang dalam kata-katanya disebut sebagai 
anak-anak rohaninya: ada yang terkenal dan panjang umur, ada juga yang kurang 
popular atau bahkan mati muda. Namun demikian, ia tak pernah membeda-bedakan 
anak-anak rohaninya.   

Dalam esai "Kesusastraan dan Perjuangan" yang dimuat dalam Mimbar Penyiaran 
DUTA tahun 1952 ia menjelaskan, “Kesusastraan sebagai pancaran dari kegiatan 
jiwa, bahkan perjuangan jiwa, adalah dokumentasi manusia yang tegas..”


Baca juga: Kenapa Google Doodle Rayakan Pramoedya Ananta Toer?
Kirno, Oestin, Mahmud Aswan
Ketika Belanda menduduki kota, Kirno serta pasukannya mundur bergerilya ke 
hutan-hutan di Mantingan. Ia jatuh sebagai korban dan menggelepak di rumah 
seorang lurah: kakinya buntung, matanya buta.  

Saat perang berakhir, ia mengutuk keadaan dirinya. Kirno menjadi seorang 
pemarah. Ati, kekasihnya, diusir dari rumah ketika mencoba menemuinya yang 
mula-mula setelah kecamuk revolusi. Hanya Tini, adiknya, yang menjadi penghibur 
batin Kirno. Bocah itu kerap disuruhnya bernyanyi untuk mengobati semua luka 
jiwa.

“Terbayang dalam kepalanya betapa bebasnya dulu mempergunakan kaki dan matanya, 
sekalipun dalam zaman penjajahan. Ya, sekalipun demokrasi dan kemerdekaan tak 
diteriakkan orang. Dan dalam negara demokrasi dan merdeka ia kehilangan haknya 
untuk berjalan dan melihat. Ya, sekalipun demokrasi menjamin kebebasan 
perseorangan. Sekali lagi ia mengeluh. Sekali lagi. Dan sekali lagi,” tulis 
Pram. (hlm. 476).

Kedatangan Ati, perempuan yang dipujanya sebelum dan semasa perang, menjadi 
jalan bagi Kirno untuk menumpahkan segala kekecewaan dan kemarahannya kepada 
dunia. Hidup, penderitaan, dan segala perasaan yang sesak di dada ia tumpahkan.

“Ati kawan-kawanku mati seorang-seorang dan dilupakan orang. Dan aku pun mati 
dilupakan orang sekarang. Bukankah itu sudah adat dunia sesudah perang selesai. 
Ati? Perang selesai dan masing-masing yang masih hidup boleh memperoleh 
kedudukannya masing-masing dalam masyarakat yang dibentuknya sendiri. Bukankah 
itu sudah adat dunia sesudah perang, Ati?” (hlm. 477)


Baca juga: 
  a.. Revolusi RI: Saat Jagoan dan Preman Menjadi Tentara 
  b.. Pekerja Seks dalam Revolusi Kemerdekaan Indonesia

Di atas kursi roda (Pram menyebutnya kereta) Kirno terus mengeluarkan segala 
isi hatinya. Ati sang kekasih barangkali dianggapnya sebagai dunia itu sendiri, 
tempat semua cita dan bunga harapan bersemi. Dalam kondisi tak 
berdaya—kemana-mana didorong adiknya, Kirno akhirnya menyerah. Telah habis 
segala asa. Sudah tumpas semua harap. Namun meski begitu, sebelum ia menyuruh 
Ati pergi, sempat juga ia mengenangkan sisa-sisa keinginannya.  

“Waktu engkau pergi, aku sudah buta, aku pun sudah tak bisa berjalan lagi, Ati. 
Ingin betul aku selalu duduk di sampingmu. Ingin betul aku selalu mendengar 
suaramu. Ati. Tapi jangan datang padaku hanya suara saja. Ya, hanya suaramu 
saja yang menunjukkan padaku engkau masih ada. Suara—dan perasaan sedikit. Dan 
kenang-kenangan sedikit. Pergilah engkau, Ati. Pulanglah engkau. Itu lebih baik 
untukku,” ujarnya. (hlm. 484)

Kisah tersebut ditulis Pram dalam cerpen "Demam" yang pertama kali dimuat dalam 
Mimbar Indonesiatahun 1950.

Sementara dalam "Jalan Kurantil No. 28" yang dihimpun dalam Subuh (1952), Pram 
menceritakan seorang mantan serdadu yang meskipun fisiknya masih lengkap, namun 
kepribadiannya telah hilang.

“Sepatu itu melangkah-langkah jua, pendek-pendek lesu dan tetap. Warnanya 
hitam—bekas sepatu serdadu Gurkha. Baru sekali ini sepatu itu menciumi aspal 
Jalan Kurantil. Dulu sepatu itu gagah, mengkilat dan galak juga. Dia pernah 
menginjak dada bangkai berpuluh-puluh prajurit dari berbagai bangsa dan di 
berbagai medan perang. Tapi kini sudah hilang keindahan dan kegagahannya. 
Tumitnya sudah miring. Hitamnya telah berbulu-bulu putih-putih, hidung 
bopeng-bopeng, dan jahitannya sudah banyak yang rantas. Langkahnya tak tegap 
lagi, tapi melangkah juga. Di dalamnya tersembunyi kaki yang kecil, tipis, dan 
kehijau-hijauan, dan di atasnya menjulur betis yang tipis, lutut, paha, 
kemudian celana pendek militer. Dulu betis itu besar dan bertenaga juga, 
walaupun tak mengalami perang di mana-mana. Hanya sekali itu mengalami 
pertempuran, di Jalan Kramat. Perbandingan antara betis dan sepatu besar itu 
jadi perhatian semua orang yang melihatnya. Tapi betis itu berjalan saja, 
sekalipun orang menamai kaki kijang atau kaki pinokio.” (hlm. 26)


Baca juga: Memahami Gurkha, Tentara dari Negeri Atap Dunia

Teeuw dalam naskahh "Revolusi Indonesia dalam Imajinasi Pramoedya Ananta Toer" 
yang dimuat di Jurnal Kebudayaan Kalam 6 Thn. 1995 menjelaskan bahwa kutipan 
tersebut adalah awal cerita yang amat mengerikan.  

“Awal ceritanya sangat mengerikan, dievokasi dehumanisasi dan desintegrasi 
seorang manusia; tokoh ini menjadi fungsi ‘bungkusan pakaian’-nya yang serba 
kumal. Kepribadiannya tidak ada lagi. Ia terdiri dari daging yang dibungkus 
dalam sepatu dan pakaian lain yang telah ada sejarahnya di luar dia, bahkan 
badannya sendiri telah tua,” tulisnya. (hlm. 35)

Mahmud Aswan nama mantan serdadu itu. Setelah meringkuk dalam penjara sebagai 
tawanan perangselama empat tahun, ia pergi ke Jalan Kurantil No. 28 untuk 
kembali ke pada istrinya tercinta. Namun rupanya tak ada tempat lagi baginya di 
dunia ini, ia mendapati istri, anak dan rumahnya semuanya telah diambil alih 
oleh temannya. Mahmud limbung, dengan sisa tenaga yang masih dimilikinya ia 
mendekati sungai Ci Liwung dan menceburkan diri. Konon perang telah 
dimenangkan, tapi bagi Mahmud yang ada hanya kekalahan. Keluarga—yang kata Pram 
sebagai mula kehidupan manusia, payung yang melindungi keturunan manusia dari 
hujan dan terik pergaulan hidup, telah direnggut orang lain.  

Dalam "Terondol", cerpen yang pertama kali dimuat dalam Sadar (No. 2 Th. II, 16 
Mei 1947), Pram tak berkisah tentang gerilyawan republik, namun orang Indonesia 
mantan tentara Belanda yang baru pulang tugas dari Australia. Oestin namanya.

Setelah pendudukan Jepang berakhir, ia kembali ke Indonesia hendak menemui 
keluarganya di kampung. Surat dikirimkan, tapi balasan yang datang membuatnya 
berdegup. Karena ia dianggap telah mati dalam pertempuran laut, istrinya 
menikah lagi dan telah menambah dua orang anak.


Baca juga: Teruo Nakamura, Serdadu Jepang Terakhir di Indonesia

Kecewa ada, tapi tak lekas membuatnya putus asa. Dikirimkan lagi surat kedua, 
kali ini meminta agar anaknya diantarkan ke Jakarta. Namun ternyata anaknya tak 
diizinkan menemui bapaknya.  

“Sekali ini ia menangis. Ia merasa sedih. Karena itu ia merasa hidup kembali. 
Tetapi ia benci pada hidup seperti itu. Ah! Apalagi kalau ia membuka kopor, 
tampak setelan piama. Ia mau mengistimewakan keturunannya di antara anak-anak 
sebayanya. Hambar saja harapannya. Walaupun gunung, kalau dipacul setiap hari, 
datar juga akhirnya. Demikian pula dengan harapan. Kecewa dan kecewa, berbaris; 
lemah juga ketabahannya,” tulis Pram. (hlm. 45)

Tak kuat menahan kecewa yang datang bertubi, akhirnya Oestin menyerah. Dadanya 
dimakan TBC, darah keluar. Seminggu ia tak bangun dari tempat tidur. Habis 
kesanggupannya, habis harta benda, habis harapan, habis cita-cita, habis 
segala-galanya. Ia terondol. Seperti ayam tak berbulu kedinginan di dalam hujan.

“Sebulan kemudian perusahaan ibunya bangkrut, badannya! Ia diantarkan kembali, 
berpatok dua,” tulis Pram. (hlm. 45)

Menanggapi cerita "Jalan Kurantil No. 28", A. Teeuw menyebutnya bukan kisah 
yang isinya sangat dalam, tapi menunjukkan empati dan simpati Pram bagi korban 
perjuangan serta keinsafan akan kesia-siaan dan kepercumaan perjuangan 
kemerdekaan yang konon dimenangkan.


Baca juga: 
  a.. Kotoran Sapi di Taman Bunga Pertempuran Surabaya 
  b.. Sastra untuk "Dunia yang Penuh Tipu Cedera"

 share infografik

Teeuw menambahkan bahwa berkat penguasaan bahasa, kekuatan gaya, dan keaslian 
imajinasinya, Pram berhasil mentransformasikan kenyataan revolusi dan 
perjuangan bangsa Indonesia tanpa menjadi propagandis revolusi.

“Tidak menyembunyikan kelemahan manusia, individual maupun kolektif, yang tiap 
kali tergoda hawa nafsu dan keangkaraannya. Justru kejujuran citra revolusi 
yang disajikan Pramoedya menjadikannya meyakinkan, meningkatnya 
kredibilitasnya. Manusia dan kemanusiaan, itulah yang akhirnya menjadi pokok, 
tema utama, dalam kenyataan hulu maupun dalam kenyataan hilir yang kita sebut 
seni,” tulis A. Teeuw dalam "Revolusi Indonesia dalam Imajinasi Pramoedya 
Ananta Toer" yang dimuat di Jurnal Kebudayaan Kalam 6 Thn. 1995.

Cerita Kirno, Oestin, dan Mahmud Aswan adalah kisah manusia-manusia yang 
menjelempah di hadapan realita. Mereka larut dalam peperangan, memperjuangankan 
apa yang mereka yakini benar. Namun setelah perang berakhir, harapannya 
tercabik dan merawankan kemanusiaan.


Baca juga: Jejak Revolusi Perancis di Lagu PKI  
Para Veteran dalam Fakta dan Fiksi
Tokoh-tokoh yang diceritakan Pramoedya dalam naskah-naskah di atas memang 
fiksi. Namun karakter-karakternya diambil dari kisah nyata yang dialami dan 
disaksikan sendiri oleh Pram. 

Masa revolusi antara 1945-1950 (termasuk masa pendudukan Jepang, 1942-1945) 
seakan menjadi sumber inspirasi yang tiada habisnya bagi Pramoedya. Ia banyak 
sekali menulis naskah tentang masa-masa bergolak itu. Selain Menggelinding 1 
dan Subuh yang beberapa ceritanya diulas di sini, ada juga Percikan Revolusi, 
Di Tepi Kali Bekasi, Bukan Pasar Malam, hingga Perburuan.   

Bukan Pasar Malam, sebagai misal. Novelet itu merupakan kisah nyata yang 
dialami Pramoedya sendiri. Ditulis dengan setting setelah revolusi berakhir, 
novelet itu mengisahkan betapa pahitnya kehidupan para kombatan di masa 
pascarevolusi. Sosok yang diceritakan dalam Perburuan, sebagai misal yang lain, 
adalah orang sekampungnya sendiri.


Baca juga: 
  a.. Brutalnya Tentara Belanda Membantai Penduduk Desa di Karawang 
  b.. Memobilisasi Para Residivis demi Mendukung Revolusi RI

Siapa yang diceritakan hidupnya pahit dalam novelet itu? Ya, Pram sendiri.

Topik-topik tentang para mantan pejuang alias veterang perang umumnya 
menggambarkan kesulitan, bahkan kegagalan, mereka menyesuaikan diri dengan 
situasi kemerdekaan. Mereka mengalami kegagapan di tengah situasi baru. Dilamun 
oleh mimpi tentang cerahnya kemerdekaan, mereka justu menghadapi realitas yang 
tidak mudah: kemerdekaan tidak berarti apa-apa bagi perbaikan nasib mereka. 

Salah satu kisah legendaris tentang nasib para pejuang pascarevolusi adalah 
Lewat Djam Malam,sebuah film besutan Usmar Ismail yang naskahnya ditulis oleh 
Asrul Sani. Iskandar, tokoh utama film itu, mengalami depresi karena pengalaman 
perang yang menghantui dan dipersulit oleh rekan-rekan seperjuangannya yang 
justru hidup di atas kecurangan dan korupsi. 

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Irfan 
Teguh 

(tirto.id - irf/zen)

Kirim email ke