Tragedi Berdarah Pembantaian Mangkuk Merah

Penangkapan terhadap warga keturunan Tionghoa yang dituding terlibat PKI. 
FOTO/Istimewa 
Reporter: Iswara N Raditya
19 Februari, 2018
https://tirto.id/tragedi-berdarah-pembantaian-mangkuk-merah-cEUq a.. 
PGRS/Paraku dibantai karena dituding terlibat komunis, lebih dari 5 ribu orang 
tewas, mayoritas etnis Tionghoa.
Peristiwa G30S 1965 tak hanya berbuntut pada pembantaian terhadap orang-orang 
yang dianggap antek PKI di Jawa, tapi yang tak kalah mengerikan terjadi juga di 
Kalimantan.tirto.id - Pada akhir 1967 hingga beberapa bulan setelahnya menjadi 
masa-masa mencekam bagi warga keturunan Tionghoa di Kalimantan bagian utara dan 
barat. Terjadi pengusiran dan pembantaian massal. Ribuan orang peranakan 
Tionghoa tewas dan puluhan ribu lainnya terpaksa mengungsi dan tak sedikit yang 
mengungsi pun meregang nyawa.

Jauh sebelum peristiwa kelam itu, sebelum wilayah yang dekat dengan perbatasan 
Malaysia ini tercemar aroma politik, warga Dayak dan kaum peranakan Tionghoa 
hidup damai dan berdampingan. Bahkan, kedua etnis berbeda tersebut sudah 
menjalin ikatan persaudaraan yang kuat.


Baca juga: Tragedi Pembantaian Bulungan di Perbatasan Malaysia

Namun, semua itu berubah, hubungan harmonis antara warga Dayak dan Tionghoa itu 
sirna setelah terjadinya Gerakan 30 September 1965. Citra Presiden Sukarno 
merosot karena dianggap membela Partai Komunis Indonesia (PKI). Di sisi lain, 
pengaruh Soeharto kian menguat dan menyerukan pembersihan total terhadap mereka 
yang dituding terlibat gerakan tersebut.

Gelombang politisasi yang panas di tingkat nasional akhirnya sampai juga ke 
Kalimantan bagian utara atau yang dulu masih termasuk wilayah Kalimantan Barat. 
Ini akhirnya berbuah peristiwa yang kelam dalam sejarah Indonesia, Peristiwa 
Pembantaian Mangkuk Merah. Pihak tentara disinyalir berada di balik peristiwa 
yang terjadi pada 1967.

Bermula dari Ganyang Malaysia
Sejak awal dekade 1960-an, Presiden Sukarno mulai mengobarkan semangat ganyang 
Malaysia karena negeri jiran yang dianggap antek Inggris berambisi membentuk 
Federasi Malaysia. Sebagian besar warga Kalimantan Utara, terutama dari 
kalangan peranakan Tionghoa, yang tinggal di dekat perbatasan turut menolak 
keras rencana Federasi Malaysia.


Baca juga: Dwifungsi ABRI dan Jalan Terbuka Politik Tentara

Presiden Sukarno kemudian mengirimkan salah seorang Menteri Negara di Kabinet 
Dwikora I, Oei Tjoe Tat, ke perbatasan utara Kalimantan untuk menggalang 
kekuatan dalam rangka kampanye ganyang Malaysia. Oei Tjoe Tat yang kebetulan 
juga keturunan Cina memperoleh sambutan meriah dari masyarakat setempat.

Buah hasil kunjungan Oei Tjoe Tat maka dibentuklah barisan sukarela atas izin 
pemerintah pusat. Organisasi barisan sukarela banyak diminati warga, pihak yang 
bergabung bukan saja warga Kalimantan Utara saja, melainkan pula para pemuda 
dari Singapura, Brunei Darussalam, bahkan dari Malaysia yang tidak setuju 
dengan rencana pembentukan Federasi Malaysia, seperti ditulis Oei Tjoe Tat 
dalam Memoar Oei Tjoe Tat, Pembantu Presiden Soekarno (1995: 144).

Barisan sukarela atau gerilyawan yang dibentuk antara lain Pasukan Rakyat 
Kalimantan Utara (Paraku) yang dikombinasikan dengan Pasukan Gerilya Rakyat 
Sarawak (PGRS) pada 1964. Pasukan gabungan ini kemudian dikenal dengan sebutan 
PGRS/Paraku, yang anggotanya memang didominasi oleh orang-orang keturunan 
Tionghoa yang tinggal di negara-negara serumpun itu.


Baca juga: Republik Lanfang, Republik Pertama di Nusantara

Untuk persiapan menghadapi Malaysia, angkatan perang Indonesia mendirikan 
pangkalan militer utama di Kalimantan Barat. Wilayahnya antara lain Sambas, 
Bengkayang, Ledo, Sanggau Ledo, Putusibau, dan kota-kota perbatasan lainnya.. 
Daerah-daerah itu dijadikan sebagai tempat berkumpulnya para sukarelawan.

Benny G. Setiono dalam Tionghoa dalam Pusaran Politik (2008:836) memaparkan, 
para sukarelawan dilatih oleh instruktur militer Indonesia dan tinggal di 
kamp-kamp latihan di kawasan perbatasan Kalimantan Barat serta Kalimantan 
Utara. PGRS/Paraku tampaknya memang dipersiapkan khusus untuk perang melawan 
negara tetangga.

Namun, kampanye kontra Malaysia pada akhirnya justru menguap. Memanasnya 
situasi dalam negeri Indonesia seiring terjadinya peristiwa G30S 1965 membuat 
Sukarno berada di ujung tanduk. Angin politik pun berganti arah. Kubu komunis 
yang semula bergerak leluasa menjadi terjepit dan mendapati masa-masa paling 
suram.


Baca juga: KAMI Ada untuk Mengganyang PKI

Soeharto yang berhasil mengendalikan kuasa mengerahkan seluruh jejaring negara 
untuk mengganyang PKI sampai ke akar-akarnya. PGRS/Paraku pun kena imbasnya. 
Militer yang mulai meninggalkan Sukarno pun mendapat momen tepat, menggerakkan 
massa Dayak untuk membasmi PGRS/Paraku, termasuk ribuan peranakan Tionghoa yang 
sebenarnya tidak terkait atau bahkan tidak tahu-menahu atas persoalan ini.

Adu Domba Dayak & Tionghoa
PGRS/Paraku yang sebelumnya dibentuk atas izin Sukarno, menyasar militer 
Indonesia lantaran terus diburu dengan tudingan pro-komunis. Pertengahan Juli 
1967, kaum gerilyawan menyerbu lapangan udara TNI-AU di Singkawang dan Sanggau 
Ledo, Kalimantan Barat. Menurut catatan Indonesia Merdekaterbitan Sekretariat 
Negara (Volume 14, 1995: 641), serangan tersebut menewaskan empat orang anggota 
militer. Selain itu, 154 pucuk senjata dan amunisi TNI juga berhasil direbut.


Baca juga: Mengenang Jumat Petaka di Banjarmasin

Namun, upaya militer untuk membalas para gerilyawan mengalami kesulitan. 
Superman melalui tulisan “Peristiwa Mangkuk Merah di Kalimantan Barat Tahun 
1967” (Jurnal Historia, Februari 2017:6) mengungkapkan, terbatasnya pihak 
militer setempat, dalam persenjataan maupun jumlah personel, memicu kendala 
serius.

Di sisi lain, pihak gerilyawan PGRS/Paraku mendapatkan bantuan dari kaum 
pedagang perantara di pedalaman. Mereka menjadi penyuplai logistik dan 
kebutuhan para gerilyawan. Namun, Superman juga menyebutkan bahwa terkadang 
bantuan itu diberikan bukan secara sukarela, tapi lebih cenderung terpaksa 
karena takut.

Pemerintah pusat yang kala itu berada dalam kendali Soeharto pun bereaksi. 
Ancaman PGRS/Paraku yang diduga berbaur dengan kelompok komunis dirasa sudah 
amat mengkhawatirkan. Sehingga, diputuskan segera pengiriman pasukan bantuan. 
M.D. La Ode dalam Politik Tiga Wajah (2013:121) mencatat, setidaknya ada 
sembilan kesatuan militer yang diperbantukan untuk membasmi PGRS/Paraku dalam 
rangkaian Operasi Sapu Bersih.

Kondisi mulai mengarah kepada ancaman konflik SARA. Terjadi pembunuhan orang 
Dayak yang belum diketahui pelakunya di daerah Ledo, Seluas, Pahauman, 
Bengkayang, dan hampir di seluruh wilayah yang terdapat komunitas etnis Cina. 
Situasi ini, papar Superman (2017:7), dimanfaatkan oleh pihak militer untuk 
menjadikan PGRS/Paraku sebagai tersangka pelaku pembunuhan. 


Baca juga: Ali Anyang, Putra Dayak Penegak NKRI

Aroma politisasi sangat kental dalam konflik di Kalimantan barat dan utara kala 
itu. Masyarakat Dayak yang sudah telanjur murka kemudian bertekad untuk 
membalas dendam, dengan dukungan penuh dari TNI yang juga menghendaki 
pembasmian gerilyawan PGRS/Paraku. Sehingga tragedi berdarah yang dikenal 
sebagai Peristiwa Mangkuk Merah akhirnya terjadi.

 share infografik

Tragedi Berdarah Mangkuk Merah
Memanasnya relasi masyarakat Dayak dengan warga keturunan Tionghoa di 
Kalimantan bagian utara dan barat dimanfaatkan betul oleh aparat. Militer pun 
meminta dukungan dari mantan Gubernur Kalimantan Barat sekaligus tokoh yang 
sangat disegani oleh masyarakat Dayak, Johanes Chrisostomus Oevaang Oeray.

Seperti diungkapkan Superman (2017:7), orang-orang Dayak diimbau ikut 
berpartisipasi bersama tentara untuk menumpas PGRS/Paraku. Militer melakukan 
propaganda dengan menyebarkan isu bahwa orang-orang komunis tidak menyukai 
sistem adat Dayak. Para panglima dari kalangan orang Dayak direkrut dengan 
dalih PGRS/Paraku akan menguasai Kalimantan Barat.


Baca juga: Pembantaian Orang-Orang Banda

Disebutkan pula bahwa para pemuka Dayak diprovokasi dan ditanamkan pengertian 
PGRS/Paraku adalah komunis yang tidak beragama dan orang Dayak tidak bisa hidup 
bersama-sama dengan komunis. PGRS/Paraku disebut sebagai Cina-Sarawak yang 
ingin memecah-belah keamanan wilayah Indonesia (Superman, 2017:7).

Melalui siaran Radio Republik Indonesia (RRI) Pontianak pada 21 September 1967, 
Johanes Chrisostomus Oevaang Oeray mengultimatum kepada warga peranakan Cina 
untuk meninggalkan wilayahnya dan pindah ke kota kecamatan terdekat. Pada 11 
Oktober 1967, diumumkan kepada seluruh kepala kampung agar menghadiri pertemuan 
besar dan bersiap-siap melakukan apa yang disebutnya Gerakan Demonstrasi.

Belum diketahui, apakah imbauan tersebut benar-benar datang dari Oeray atau 
bukan. Namun, R. Masri Sareb Putra (2017:114) dalam buku 101 Tokoh Dayak yang 
Mengukir Sejarah 2, meyakini pengumuman itu mencatut nama Oevaang Oeray, 
pemberitaan provokatif tersebut muncul dari Pelaksana Penguasa Perang Daerah 
(Peperalda) dan Kodam XII/Tanjungpura.

Di luar persoalan intrik politik yang sangat mungkin terjadi kala itu, 
masyarakat Dayak di sana sudah tersulut. Tradisi mangkuk merah, yang merupakan 
simbol dimulainya perang dalam tradisi Dayak pun disiapkan.


Baca juga: Kerajaan Tidung Berdiri di Atas Kandungan Minyak Kaltara

Jemmy Setiawan & Winston Neil Rondo dalam Merah Putih Tergadai di Perbatasan 
(2014:202) menjelaskan, mangkuk merah dipakai untuk media persatuan Suku Dayak 
bila merasa kedaulatannya dalam bahaya besar. Panglima suku biasanya 
mengeluarkan mangkuk merah yang berisi arang, daun juang, bulu ayam, dan darah 
babi, untuk diedarkan dari kampung ke kampung secara cepat.

Seorang tokoh Dayak yang menjadi salah satu narasumber dalam buku In The Time 
of Madness: Indonesia on the Edge of Chaos atau Zaman Edan karya Richard Lloyd 
Parry (2008:66) mengatakan:

“Mangkuk merah digunakan untuk memanggil orang-orang. Itu adalah simbol 
komunikasi yang digunakan selama masa darurat. Ketika seorang membawanya dari 
satu suku ke suku lain, itu berarti: Datang dan bantu kami.” 

Mary Somers Heidhues, dalam Golddiggers, Farmers, and Traders in the Chinese 
Districts of West Kalimantan, (2008: 271) mengungkapkan terjadi perburuan warga 
Tionghoa di Kalimantan bagian barat dan utara. Pasukan Dayak menyisir satu demi 
satu wilayah permukiman warga peranakan Tionghoa. Salah satunya pada akhir 
Oktober 1967 yang menyasar wilayah Anjungan, Mandor, dan Menjalin.

Belum Tuntas Hingga Kini
Ditulis dalam buku Tandjungpura Berdjuang terbitan Semdam XII/Tanjungpura 
(1970:270), gerakan Mangkuk Merah berubah menjadi sentimen rasial dengan 
mengidentikkan etnis Tionghoa sebagai anggota PGRS/Paraku. Masyarakat dari 
etnis Tionghoa tanpa pandang bulu menjadi korban dari “gerakan demonstrasi”. 
Aparat pun kewalahan membendung gerakan yang sudah meluas ini.


Baca juga: Mengenang 33 Tahun Tragedi Pembantaian Tanjung Priok

Pada 14 November 1967, bergabung sejumlah sub-suku Dayak lainnya dari 
pedalaman. Aksi kekerasan pun semakin besar. Herman Josef van Hulten dalam 
Catatan Seorang Misionaris: Hidupku di Antara Suku Dayak (1992:285) 
mengkisahkan, mereka bertindak di luar kontrol, membunuh, bahkan dikabarkan 
juga memakan bagian tubuh korban-korban mereka.

Sepanjang pekan-pekan berikutnya, terjadi rangkaian pembantaian massal yang 
banyak menelan korban jiwa. Van Hulten mengungkapkan, kekerasan mencapai 
puncaknya pada November 1967. Para penyerang dengan senjata berburu mulai 
membunuhi orang-orang keturunan Tionghoa dan membakar harta bendanya. Toko-toko 
Cina dibakar dan mayat-mayat korban dibariskan di jalan.


Baca juga: 13 Hari Pembantaian Orang Cina di Jakarta

Menurut riset Superman (2017:10), Peristiwa Mangkuk Merah diperkirakan secara 
langsung menewaskan 2.000 sampai 3.000 orang. Namun, dampak secara tidak 
langsung diperkirakan lebih besar lagi.

Dampak secara tidak langsung itu adalah terjadinya gelombang warga peranakan 
Cina yang mengungsi. Awalnya, sebut van Hulten (1992: 290-292), para pria 
berniat tetap tinggal, tapi pada akhirnya mereka terpaksa ikut mengungsi. 
Sementara kaum perempuan dan anak-anak melarikan diri atau bersembunyi dari 
penyerangan di berbagai tempat.

Diperkirakan, antara 50.000 sampai 80.000 orang Tionghoa bergerak menuju 
pesisir Kalimantan Barat, yakni ke Pontianak dan Singkawang. Lebih dari 5.000 
orang pengungsi tewas karena masalah kesehatan, kebersihan, dan kekurangan 
pangan, baik dalam perjalanan maupun meninggal dunia di tempat pengungsian.. 
Belum lagi yang mengalami trauma hingga kini.

“Lima ribu orang meninggal di pengungsian di Pontianak dan Singkawang lantaran 
minimnya fasilitas sanitasi, kesehatan, dan keterbatasan pasokan pangan,” 
ungkap Tony Wong, saksi hidup yang juga tokoh masyarakat Tionghoa di Kalimantan 
Barat, seperti dilaporkan Suarapemredkalbar.com, 7 Maret 2016.


Baca juga: Pembantaian yang Dilakukan Belanda di Pedalaman Aceh

Setelah puluhan tahun berlalu, pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di 
Kalimantan bagian barat dan utara yang tergolong amat berat itu belum terungkap 
sepenuhnya. Peristiwa Mangkuk Merah pada 1967 menambah daftar panjang tragedi 
kemanusiaan bernuansa politis dan SARA yang pernah terjadi di Indonesia. 

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Iswara 
N Raditya 

(tirto.id - isw/dra)

Kirim email ke