http://nasional.kompas.com/read/2018/02/20/23383971/setara-institute-politisasi-agama-adalah-
cara-terburuk-meraih-kekuasaan
Setara Institute: Politisasi Agama adalah
Cara Terburuk Meraih Kekuasaan
Kristian Erdianto <http://indeks.kompas.com/profile/kristian.erdianto>
Kompas.com - 20/02/2018, 23:38 WIB
Ketua SETARA Institute Hendardi
Ketua SETARA Institute Hendardi(KOMPAS.com/Indra Akuntono)
*JAKARTA, KOMPAS.com* - Ketua Setara Institute Hendardi berharap semua
pihak yang berkontestasi dalam Pilkada
<http://indeks.kompas.com/tag/pilkada> 2018 dan Pemilu 2019
<http://indeks.kompas.com/tag/Pemilu-2019> tidak menggunakan sentimen
SARA <http://indeks.kompas.com/tag/SARA> (suku, agama, ras dan
antargolongan) dalam berkampanye.
Hendardi mengatakan, kampanye <http://indeks.kompas.com/tag/kampanye>
melalui politisasi agama dan ujaran kebencian dapat mengancam kohesi
sosial, kebhinekaan, dan integrasi nasional.
Harapan tersebut termasuk dalam salah satu poin seruan moral dari 186
tokoh masyarakat dari berbagai latar belakang sosial untuk menyerukan
semua pihak menjaga dan memperjuangkan nilai keberagaman.
"Secara aktual seruan moral kebhinekaan ini juga ditujukan untuk
mengingatkan semua pihak yang berkontes dalam 171 Pilkada dan Pemilu
2019 untuk tidak menggunakan sentimen sara
<http://indeks.kompas.com/tag/SARA> dalam berkampanye. Karena dampak
dari itu adalah kohesi sosial kita yang terkoyak-koyak," ujar Hendardi
dalam konferensi pers di Hotel Atlet Century, Jakarta, Selasa (20/2/2018).
*Baca juga : Sebar Ujaran Kebencian dan SARA, Polisi Tangkap Pemilik
Akun Twitter @ibhaskiss
<http://nasional.kompas.com/read/2018/02/20/17551561/sebar-ujaran-kebencian-dan-sara-polisi-tangkap-pemilik-akun-twitter>
*
Hendardi pun menilai berbagai kekerasan bernuansa agama yang belakangan
terjadi disebabkan karena menguatnya politisasi agama untuk kepentingan
tertentu atau kekuasaan.
Politisasi agama tersebut kemudian berwujud bentuk intoleransi,
persekusi, dan diskriminasi.
"Politisasi agama atau identitas adalah cara paling buruk untuk meraih
kekuasaan," tuturnya.
Berbagai kasus kekerasan bernuansa agama yang marak pada awal tahun ini
di berbagai daerah merupakan ancaman serius terhadap kebhinekaan.
Pada awal Februari lalu terjadi kasus persekusi terhadap Biksu Mulyanto
Nurhalim dan pengikutnya di Desa Caringin Kecamatan Legok Kabupaten
Tangerang.
*Baca juga : Potensi Politik SARA di Pilkada 2018 Diyakini Minim,
Kenapa?
<http://nasional.kompas.com/read/2018/01/24/18564911/potensi-politik-sara-di-pilkada-2018-diyakini-minim-kenapa>
*
Kemudian, terjadi serangan di Gereja St. Ludwina Desa Trihanggo
Kecamatan Gamping Kabupaten Sleman pada 11 Februari 2018, yang
menyebabkan soerang pastor dan pengikutnya mengalami luka berat akibat
sabetan senjata tajam.
Sebelumnya juga terjadi dua serangan terhadap tokoh agama, yaitu ulama,
tokoh NU, dan pengasuh Pondok Pesantren Al-Hidayah Cicalengka Bandung,
KH. Umar Basri dan ulama sekaligus Pimpinan Pusat Persis, H. R. Prawoto.
Prawoto dianiaya orang tak dikenal pada Kamis (1/2/2018) hingga nyawanya
tak dapat diselamatkan dan meninggal dunia.
"Berbagai serangan fisik terhadap tokoh-tokoh berbagai agama dan
persekusi terhadap minoritas keagamaan, dan banyak dimensi lain dari
kekerasan yang terjadi, menunjukkan adanya ancaman serius terhadap
kebhinekaan," kata Hendardi.
Presiden Joko Widodo menggelar pertemuan dengan Raja dan Sultan
se-Nusantara di Istana Bogor Jawa Barat.(Kompas TV)