Penguasa Dinasti Han Leluhur Minahasa 
http://id.beritasatu.com/home/penguasa-dinasti-han-leluhur-minahasa/172634
Kamis, 1 Maret 2018 | 7:59
 Seminar “Penguasa Dinasti Han Leluhur Minahasa. 


 
 JAKARTA- Leluhur Minahasa berakar serta bertali-temali dengan eksistensi para 
pejuang dan keturunan dinasti kekaisaran Han. Pertanyaan tentang tiadanya 
tradisi tulisan yang dibawa para leluhur itu, dijawab dengan penegasan bahwa 
mereka yang masuk ke tanah Minahasa ini dilukiskan sebagai “tuur in tana” (tu 
uxin dao na, artinya: “tanah tempat tiba tanpa kesengajaan”), adalah 
bocah-bocah yang belum menyerap ilmu pengetahuan. Min na hai zi = rakyat yang 
membawa anak-anak dari para penguasa. Mereka itulah yang kemudian hari disebut 
waraney atau dalam bahasa Han disebut hua ren na yi, artinya keturunan penguasa 
dinasti Han.
 Untuk membuka tabir tentang leluhur suku bangsa Minahasa di Sulawesi Utara dan 
menelusuri identitas asali manusia Minahasa,  akan digelar Seminar dan Bedah 
Buku “Penguasa Dinasti Han Leluhur Minahasa”, yang diterbitkan Penerbit Pohon 
Cahaya, di Kalbis Institute di Jl. Pulomas Selatan, Jakarta Timur, Senin (5/3) 
pekan depan. 
 Seminar menghadirkan pembicara Weliam Boseke (penulis buku), Prof Dr Perry 
Rumengan MSn-- guru besar Etnomusikolog Universitas Negeri Manado, dan Dr Benni 
A Matindas --budayawan Minahasa. Tampil pula sebagai penanggap adalah Max Wilar 
--moderator “Kawanua Informal Meeting”, dan Mayjen TNI Ivan Ronald Pelealu SE 
MM--Staf Ahli Lemhannas RI dan Ketua Dewan Penasihat Kawanua Katolik.
 Bertindak sebagai moderator seminar dan bedah buku ini adalah Lily Widjaja, 
lulusan universitas di Taiwan, mantan Komisaris Bursa Efek Indonesia, dan 
peraih Golden Eagle Award Tamkang University, Taiwan.
 Latar Belakang Penulisan
 Buku ini membuka tabir tentang leluhur suku bangsa Minahasa di Sulawesi Utara. 
Penulis buku, Weliam Boseke, menghantar pembaca menelusuri identitas asali 
manusia Minahasa. Bermodalkan penguasaan bahasa Han yang cukup baik dan bahasa 
Minahasa cukup dalam, serta didorong oleh rasa ingin tahu yang kuat sejak kecil 
akan upacara ritual Minahasa dengan syair dan nada khasnya, penulis melakukan 
penelitian selama 10 tahun. Adanya kesamaan bunyi bahasa Minahasa dan bahasa 
Tiongkok merangsang penulis untuk meneliti secara serius. Weliam Boseke mencari 
dan mengumpulkan fakta dan bukti-bukti nyata baik yang ada di Minahasa maupun 
di Tiongkok. Kesamaan bunyi dan makna kata-kata dalam bahasa Minahasa dan 
Tiongkok dianalisa, dijelaskan benang merah kaitannya dengan leluhur Minahasa 
dalam buku “Penguasa Dinasti Han Leluhur Minahasa” ini.
 Isi Buku
 Penulis mulai dengan analisis bahasa. Cara yang dibuat Weliam Boseke ini dapat 
dimiripkan dengan cara yang digunakan dalam analisis bandingan bahasa dalam 
sejarah (historical comparative linguistic ). Dengan memahami cara membaca Pin 
Yin, penulis memperlihatkan ada begitu banyak kata penting dalam bahasa 
Minahasa yang ternyata merupakan serapan, bahkan sesungguhnya adalah bahasa 
Tiongkok, yang telah berubah secara struktur dan bentuk tapi bunyi masih 
menunjukkan asal kata. Perubahan bentuk, bunyi, dan makna kata terjadi karena 
konteks yang telah berubah serta telah dipengaruhi oleh bahasa lain. 
  
 Melalui kajian linguistik, penulis menemukan fakta bahwa nyanyian sendu 
“Karema”, yang dibawakan oleh Tonaas Walian dalam doa-doa ritual adat Minahasa, 
bukanlah sekedar nyanyian doa biasa, melainkan memuat ungkapan hubungan batin 
mendalam tak terputus antara anak keturunan dengan leluhur mereka, yaitu para 
pejuang dan bangsawan dinasti Han Raya. Nyanyian sendu “Karema” terhubung 
dengan kisah perang saudara di Tiongkok yang mengakibatkan tragedi terpisahnya 
anak dari orangtua.
  
 Prof Dr Perry Rumengan MSn yang memberi Kata Pengantar pada buku ini 
menyebutkan bahwa dalam teori etnomusikologi nyanyian adalah bukti sejarah yang 
jujur mengandung nilai, moral, kondisi sosial, alam, dan semua fenomena yang 
ditangkap dan dihayati masyarakat setempat. Rumages dan Sazani adalah bentuk 
nyanyian doa masyarakat Minahasa, dan dibawakan Tonaas Walian (pemimpin upacara 
ritual). Fakta ini merupakan bukti kuat dan otentik adanya kondisi Minahasa 
masa lalu yang terkait erat dengan peristiwa nyata di negeri Han, di Tiongkok.
  
 Dalam nyanyian ritual yang pertama dibawakan oleh Karema dan diturunkan kepada 
para Walian itu tersingkaplah rahasia nama-nama fam Minahasa yang terangkai 
menjadi satu bagaikan litani pujian penuh hormat (malesung) kepada A Mang Kai 
Shu Ru An (yang tidak lain adalah Sang Kaisar) dan para pendekar yang setia 
kepadanya. Merekalah sesungguhnya yang disebut Po Yuan (nenek moyang asal) atau 
Opo (pu yun) dari orang Minahasa.
  
 Melalui pendekatan (etno-sosio) linguistik, penulis membuktikan ada begitu 
banyak kata dan ungkapan Minahasa, seperti nama keluarga (fam), nama kampung 
atau wilayah, doa nyanyian ritual kuno, syair lagu dan tarian, nama benda hidup 
dan benda mati, dan lain-lain bisa ditelusuri kembali asal usul dan konteksnya, 
khusus dalam bahasa dan sejarah dinasti kekaisaran Han di Tiongkok, sampai abad 
ke-3 Masehi, yakni masa perang saudara Tiga Negeri, San Guo (Sam Kok).
  
 Penulis juga menguraikan kisah-kisah seputar istana pada zaman Dinasti Han, 
dengan pelbagai tokoh dan perannya. Dramatis dan mengharukan. Antara kesetiaan 
dan penghianatan, keberanian moral dan kompromi kepentingan diri, pengorbanan 
dan ketakutan, keputusasaan dan harapan kuat, antara si pemenang dan si 
pecundang. Kisah-kisah yang melatari perpisahan keluarga yang menyayat hati.
 Kisah Toar Lumimuut dianggap sebagai legenda mitologis untuk menerangkan asal 
usul leluhur yang tidak jelas lagi. Ironisnya, legenda itu menceritakan bahwa 
Toar adalah anak dari Lumimuut itu sendiri. Sebaliknya, penelitian Weliam 
Boseke membuktikan bahwa Toar (Tou Erl) dan Lumimuut (Lui Mi Mu Wu Ti) adalah 
manusia sejarah, juga bukan anak dan ibu. Mereka kemudian saling menyukai dan 
oleh Karema (Kai ren mu) dimohonkan restu untuk dinikahkan dari arwah/leluhur 
kaisar (Xian/Shen Wong = Sien pung) dengan ritual adat. Karema adalah tokoh 
sejarah di negeri Han, yaitu wanita yang bertugas mengurusi ritual doa dalam 
istana. 
  
 Buku ini bukan hanya menggemparkan dan mengharukan, tapi juga membawa banyak 
konsekuensi logis serta implikasi teoretikal dan praktikal dalam kehidupan 
masyarakat adat Minahasa, dan juga negara bangsa Indonesia.
  
 
 Temuan ini bisa menjadi kajian dan refleksi tentang (si) apa itu bangsa 
Indonesia kini dalam konteks masa lalu dan masa depan yang mengaku satu bangsa 
dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Fakta keberagaman dan asal usul 
leluhur yang bisa ditelusuri jauh sebelum masa-masa kerajaan nusantara dan 
budaya agung arkais, memperlihatkan bahwa kita adalah bhinneka tunggal ika. 
(gor)
 

Kirim email ke