Ya, memang pengiriman TKI dan penderitaannya bukan hal baru. Yang relatif baru 
adalah pengorganisasiannya dan perjuangannya untuk menuntut hak-haknya. Itulah 
yang dilakukan berbagai ormas buruh migran yang berita perjuangannya sering 
saya postingkan di milis ini dengan maksud supaya kawan-kawan yang masih peduli 
pada nasib rakyat jelata di tanah air bisa turut mendukungnya dengan berbagai 
cara yang mungkin.  

    On Thursday, March 1, 2018 1:12 PM, "Sunny ambon [email protected] 
[GELORA45]" <[email protected]> wrote:
 

       Masalahperlakuan sewenang-wenang yang melanggar Hak Azasi Manusia 
terhadapTKI bukan baru, sudah puluhan tahun. TKI dikirim ke luarnegerikarena 
kemiskian dan lapangan kerja di tempat asal TKI tidak adaatau tidak dapat 
menampung tenagaa kerja yang bertambah tiap tahundisebabkan oleh pertumbuhan 
penduduk. NTT adalah sebagian dariwilayah yang disebut Indonesia Timur. 
Indonesia Timur termusukwilayah termiskin. Mengapa termiskin dan terkebelakang 
dibandingkandengan Jawasentris? Apakah karena wilayah berpenduduk banyak orang 
kafir dan oleh sebab itu diterbengkalaikan atau tidak atau kurangmempunyai 
andil dalam perjuangan kemerdekaan RI? 
Agaknyadalam perkembangan selanjutnya bagi wilayah-wilayah terkebelakang 
inisulit mengejar kesetaraan dengan Jawasentris, pengejaran hanya akanseperti 
orang mengejar untuk mencapai horizon, horizon tetapi jauh didepan. Situasinya 
wilayah-wilayah di luar lingkungan Jawasentrishanya menjadi sumber bahan mentah 
dan pasar konsumsi produkdihasilkan sentris 
tersebut.http://www.floresa.co/2018/02/19/adelina-lisao-tki-asal-ntt-yang-tewas-setelah-ditempatkan-di-kandang-anjing/

Adelina Sau, TKI Asal NTT yang TewasSetelah Ditempatkan di Kandang Anjing
19/02/2018  
 AdelinaSau, TKI asal NTT meninggal di Malaysia setelah majikannyamembiarkannya 
tidur di kandang anjing dan tidak diberi makan. (Foto:Ist)Floresa.co– Kisah 
tragis dialami Adelina Sau, Tenaga KerjaIndonesia Indonesia (TKI), asal Desa 
Abi, Kecamatan Oenino, KabupatenTimor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur.Ia 
kembali ke kampung halamannya pada Sabtu, 17 Februari 2018dalam keadaan sudah 
tidak bernyawa.Perempuan berusia 21 tahun tersebut meninggal di Rumah 
SakitBukit Mertajam, Malaysia pada Minggu, 11 Februari setelah dievakuasidari 
rumah majikannya sehari sebelumnya.Situasinya yang mengenaskan diketahui 
setelah para tetangga dirumah majikannya melihat ia tidur di kandang anjing 
setiap malambersama dengan seekor anjing milik majikannya 
itu.AdvertisementPerwakilan Kementerian Luar Negeri, Tody Baskoro 
membenarkanpengalaman getir yang dialami Adelina.Akibatnya, kata dia, kondisi 
fisik Adelina menjadi sakit dan takterurus.“Dari hasil pemeriksaan oleh 
otoritas di Malaysia, bukanpenyiksaan secara fisik yang diterima oleh Adelina, 
tapi karena tidakdiberi makan sehingga kelaparan,” jelas Tody kepada 
sejumlahwartawan di Bandara El Tari Kupang, Sabtu, 17 Februari.Menurut Tody, 
luka yang ada di kaki Adelina merupakan luka bebasgigitan anjing.Namun 
lanjutnya, untuk membuktikan kebenaran luka tersebut, masihmenunggu hasil 
postmortem.Sebelumnya, Menteri Tenaga Kerja M Hanif Dhakiri menegaskan,majikan 
harus bertanggung jawab atas kematian Adelina.“Kami minta pihak majikan 
bertanggung jawab,” ujar Hanif diKompleks Istana Presiden, Jakarta, Senin, 12 
Februari.Jajaran di kementeriannya, lanjut Hanif, telah berkoordinasidengan 
Duta Besar Indonesia untuk Malaysia yang berkedudukan di KualaLumpur untuk 
menyelesaikan permasalahan ini.Menurut laporan Strait Times, polisi diMalaysia 
sudah memeriksa 19 orang terkait kasus ini, termasuk dokteryang merawatnya dan 
para tetangga di dekat rumah Adlina bekerja.Menangkap CaloSementara itu, Wahyu 
Susilo, Direktur Eksekutif Migrant Caremenyatakan,  pengusutan kasus kematian 
Adelina seharusnya takhanya menyasar majikannya.Ia menilai, Adelina juga 
terindikasi menjadi korban perdaganganmanusia.Untuk itu, Wahyu mendorong agar 
aparat hukum Indonesia danMalaysia bekerja sama menelusuri jejak pihak yang 
merekrut Adelina,mengurus proses di masa transitnya, sampai saat dia 
menemukanmajikan.Wahyu berpendapat keterlibatan calo, agen, serta aparat 
pemerintahmaupun korporasi harus betul-betul dibongkar di kasus ini.Migrant 
Care mencatat Adelina menjadi korban kesembilan di kasuskematian beruntun para 
pekerja migran asal NTT selama 2018.Sementara di 2016, ada 46 kasus kematian 
dan 62 korban meninggallainnya tercatat pada 2017.“Pemerintah Indonesia harus 
mendesak pemerintah Malaysia untukmemastikan proses hukum terhadap majikan 
(yang mempekerjakan Adelina)berlangsung secara adil dengan hukuman yang 
setimpal,” kata Wahyuseperti dilansir Tirto.id.Wahyu juga mendesak pemerintah 
tidak diskriminatif dalam mendorongpengusutan kasus ini meskipun status Adelina 
adalah pekerja migranilegal di Malaysia.“Pemerintah Indonesia terkesan lamban 
bergerak ketika menghadapikasus TKI (Tenaga Kerja Indonesia) berstatus ilegal,” 
ujar dia.Wahyu menambahkan, kasus ini juga perlu menjadi momentum 
untukmenuntaskan nota kesepahaman (MoU) terkait perlindungan asisten 
rumahtangga dengan Malaysia yang berakhir sejak Mei 2016.Wahyu pun menilai 
kasus ini menguji keseriusan Indonesia danMalaysia menjalankan ASEAN Consensus 
on Protection and Promotion onHuman Rights of Workers yang ditandatangani pada 
November 2017.“Di dalam MoU itu, ada ketentuan-ketentuan yang ada dalamkontrak 
kerja. Mulai dari kebebasan memegang paspor, hak untukmendapatkan libur, hak 
berkomunikasi, dan standar upah layak,” ujardia.Kepala Pusat Studi Migrasi 
Migrant Care, Anis Hidayah juga menilailangkap pemerintah mengatasi persoalan 
kekerasan terhadap pekerjamigran masih belum optimal.“Namun kami mengapresiasi 
pemulangan dan penguburan jenazahAdelina. Ini merupakan satu langkah baik,” 
ucap Anis.Hanya Tamat SDJuru bicara keluarga Adelina, Ambrosius Ku, mengatakan, 
Adelinahanya tamatan sekolah dasar (SD).“Saat Adelina menjadi TKW di Malaysia, 
hanya menggunakan ijazahSD,” ungkap Ambrosius.Menurut Ambrosius, Adelina 
menamatkan pendidikan terakhirnya di SDNegeri Nifukani, Desa Abi, tahun 
2012.Setelah tamat SD, lanjut Ambrosius, orang tuanya tidak mampumembiayai 
sekolah Adelina sehingga akhirnya Adelina hanya membantuorangtuanya di rumah 
maupun di sawah.“Dia (Adelina) tiap hari hanya di rumah sehingga ketika 
diajakoleh calo dengan tawaran yang menggiurkan untuk bekerja di Malaysia,dia 
langsung tertarik, meski orangtua tidak setuju,” ucapnya.Ambrosius mengatakan, 
Adelina direkrut seorang perempuan (belumdiketahui identitasnya), yang 
bertindak sebagai calo, untuk bekerjadi Malaysia tahun 2015.Saat direkrut oleh 
calo TKI itu, yang beroperasi di KabupatenTTS, orang tua Adelina diberi uang Rp 
150.000“Saat calo itu bawa Adelina, ia menyerahkan uang Rp 150.000kepada ayah 
Adelina, Marthen Sau. Sedangkan ibunya Adelina, YohanaBanunaek, sedang berada 
di sawah,” katanya.Menurut Ambrosius, calo itu dua kali mendatangi rumah 
Adelina. Iamembujuk agar Adelina bisa diberangkatkan ke Malaysia menjadi 
TKW(tenga kerja wanita).Saat pertama kali datang ke rumah Adelina, orangtua 
Adelinamenolak dengan tegas. Calo tersebut rupanya tidak putus asa. Iakemudian 
kembali lagi membujuk agar Adelina boleh ke Malaysia.Adelina sendiri, lanjut 
Ambrosius, sudah berniat berangkat keMalaysia karena termakan iming-iming si 
calo tersebut.Saat Yohana Banunaek sedang ke sawah, calo itu datang lagi 
kerumah Adelina dan saat itulah dia memberikan uang Rp 150.000 kepadaMarthen 
Sau.Menurut Ambrosius, Marthen Sau tidak tahu maksud dan tujuan caloitu memberi 
uang.
Secara diam-diam, Adelina dan si calo kemudian pergi tanpadiketahui Marthen 
Sau. Setelah itu, Adelina tidak berkabar hinggaakhirnya dilaporkan meninggal di 
Malaysia pada hari Minggu lalu.
“Saat Adelina tidak ada kabar, kedua orang tuanya menganggapbahwa Adelina akan 
baik-baik saja sehingga mereka tidak mau lapor kepolisi,” ucap Ambrosius.
BACAJUGA: Kematian Adelina Sau dan Darurat Perdagangan Orang di NTT
Setelah apa yang menimpa Adelina, Ambrosius yang mewakilikeluarga, berharap 
polisi bisa segera menangkap calo yang mengirimAdelina ke Malaysia.ARL/Floresa

  #yiv7258296682 #yiv7258296682 -- #yiv7258296682ygrp-mkp {border:1px solid 
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv7258296682 
#yiv7258296682ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv7258296682 
#yiv7258296682ygrp-mkp #yiv7258296682hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv7258296682 #yiv7258296682ygrp-mkp #yiv7258296682ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv7258296682 #yiv7258296682ygrp-mkp .yiv7258296682ad 
{padding:0 0;}#yiv7258296682 #yiv7258296682ygrp-mkp .yiv7258296682ad p 
{margin:0;}#yiv7258296682 #yiv7258296682ygrp-mkp .yiv7258296682ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv7258296682 #yiv7258296682ygrp-sponsor 
#yiv7258296682ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv7258296682 
#yiv7258296682ygrp-sponsor #yiv7258296682ygrp-lc #yiv7258296682hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv7258296682 
#yiv7258296682ygrp-sponsor #yiv7258296682ygrp-lc .yiv7258296682ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv7258296682 #yiv7258296682actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv7258296682 
#yiv7258296682activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv7258296682
 #yiv7258296682activity span {font-weight:700;}#yiv7258296682 
#yiv7258296682activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv7258296682 #yiv7258296682activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv7258296682 #yiv7258296682activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv7258296682 #yiv7258296682activity span 
.yiv7258296682underline {text-decoration:underline;}#yiv7258296682 
.yiv7258296682attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv7258296682 .yiv7258296682attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv7258296682 .yiv7258296682attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv7258296682 .yiv7258296682attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv7258296682 .yiv7258296682attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv7258296682 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv7258296682 .yiv7258296682bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv7258296682 
.yiv7258296682bold a {text-decoration:none;}#yiv7258296682 dd.yiv7258296682last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv7258296682 dd.yiv7258296682last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv7258296682 
dd.yiv7258296682last p span.yiv7258296682yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv7258296682 div.yiv7258296682attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv7258296682 div.yiv7258296682attach-table 
{width:400px;}#yiv7258296682 div.yiv7258296682file-title a, #yiv7258296682 
div.yiv7258296682file-title a:active, #yiv7258296682 
div.yiv7258296682file-title a:hover, #yiv7258296682 div.yiv7258296682file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv7258296682 div.yiv7258296682photo-title a, 
#yiv7258296682 div.yiv7258296682photo-title a:active, #yiv7258296682 
div.yiv7258296682photo-title a:hover, #yiv7258296682 
div.yiv7258296682photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv7258296682 
div#yiv7258296682ygrp-mlmsg #yiv7258296682ygrp-msg p a 
span.yiv7258296682yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv7258296682 
.yiv7258296682green {color:#628c2a;}#yiv7258296682 .yiv7258296682MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv7258296682 o {font-size:0;}#yiv7258296682 
#yiv7258296682photos div {float:left;width:72px;}#yiv7258296682 
#yiv7258296682photos div div {border:1px solid 
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv7258296682 
#yiv7258296682photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv7258296682
 #yiv7258296682reco-category {font-size:77%;}#yiv7258296682 
#yiv7258296682reco-desc {font-size:77%;}#yiv7258296682 .yiv7258296682replbq 
{margin:4px;}#yiv7258296682 #yiv7258296682ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv7258296682 #yiv7258296682ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv7258296682 
#yiv7258296682ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv7258296682 
#yiv7258296682ygrp-mlmsg select, #yiv7258296682 input, #yiv7258296682 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv7258296682 
#yiv7258296682ygrp-mlmsg pre, #yiv7258296682 code {font:115% 
monospace;}#yiv7258296682 #yiv7258296682ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv7258296682 #yiv7258296682ygrp-mlmsg #yiv7258296682logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv7258296682 #yiv7258296682ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv7258296682 #yiv7258296682ygrp-msg 
p#yiv7258296682attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv7258296682 
#yiv7258296682ygrp-reco #yiv7258296682reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv7258296682 #yiv7258296682ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv7258296682 #yiv7258296682ygrp-sponsor 
#yiv7258296682ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv7258296682 
#yiv7258296682ygrp-sponsor #yiv7258296682ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv7258296682 
#yiv7258296682ygrp-sponsor #yiv7258296682ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv7258296682 #yiv7258296682ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv7258296682 #yiv7258296682ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv7258296682 #yiv7258296682ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv7258296682 
#yiv7258296682ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv7258296682 

   

Kirim email ke