Bung Sunny,
Kami beberapa teman diundang teman sekuliah dulu ke villanya di Cisarua.
Ngomong2 di kebun, yang terletak di bawah tempat orang jalan kaki, saya
lihat beberapa pipa dipasang menonjol di dinding jalanan tempat orang jalan
kaki yang tingginya melebihi tinggi rumah.
Saya tanya teman, pemilik villa, untuk apa pipa2 itu.
Dia bilang, tanah jalanan itu pernah longsor waktu hujan deras, sampai
kolam renang
tertutup tanah longsor. Dia bilang, untung pembantu rumah tangganya, yang
istrinya
selalu bilang pada kami managernya, begitu lihat udara mendung sekali,
langsung
panggil anak2nya, yang waktu itu masih kecil, keluar dari kolam renang.
Ngeri
membayangkan yang dapat terjadi : Bisa terkubur hidup2.
Saya lihat sebenarnya sudah benar, di tepi jalan itu sudah ditanami pohon
besar, yang
akarnya dalam, bisa mengikat tanah. Tetapi karena jalanan itu begitu
tinggi, akarnya
paling2 bisa masuk 1-2 m saja. Jadi waktu hujan besar, tanah di bawah akar
yang
menyerap banyak air, jadi gembur, tidak dapat menahan tanah yang mau
longsor ke bawah.
Teman menjelaskan, pipa2 itu untuk mengeluarkan air yang terserap oleh
tanah, supaya
tanah tidak jadi gembur dan longsor.
Eh, dapat tambahan pengetahuan. Tadinya saya baca kalau di Tiongkok dulu
erosi dan
longsor diatasi dengan tanahnya ditanami bambu. Ternyata pada situasi lain,
masih diperlukan
teknik2 lain.
Salam,
KH


2018-03-03 10:32 GMT+01:00 Sunny ambon [email protected] [GELORA45] <
[email protected]>:

>
>
>
> http://www.jambiekspres.co.id/read/2018/03/03/23620/baru-dua
> -bulan-72-nyawa-melayang%C2%A0bencana-diperkirakan-terus-bertambah/
> Baru Dua Bulan, 72 Nyawa Melayang, Bencana Diperkirakan Terus Bertambah
>
> Sabtu, 03 Maret 2018 - 11:05:16
>
>
>
> Facebook
> <http://www.facebook.com/share..php?u=http://www.jambiekspres.co.id/read/2018/03/03/23620/baru-dua-bulan-72-nyawa-melayang%C2%A0bencana-diperkirakan-terus-bertambah&title=Baru%20Dua%20Bulan,%2072%20Nyawa%20Melayang,%C2%A0Bencana%20Diperkirakan%20Terus%20Bertambah>
> Twitter
> <https://twitter.com/share?url=http://www.jambiekspres.co.id/read/2018/03/03/23620/baru-dua-bulan-72-nyawa-melayang%C2%A0bencana-diperkirakan-terus-bertambah&text=Text%20for%20Twitter%20Here&via=medialoot>
>  Google
> Plus
> <https://plus.google.com/share?url=http://www.jambiekspres.co.id/read/2018/03/03/23620/baru-dua-bulan-72-nyawa-melayang%C2%A0bencana-diperkirakan-terus-bertambah>
> Stumbleupon
> <http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://www.jambiekspres.co.id/read/2018/03/03/23620/baru-dua-bulan-72-nyawa-melayang%C2%A0bencana-diperkirakan-terus-bertambah>
>
>
> *JAKARTA* – Tahun 2018 diawali dengan rentetan bencana mematikan. Baru
> dua bulan berlalu (Januari-Februari), Badan Nasional Penanggulangan Bencana
> (BNPB) mencatat Indonesia telah dihajar 513 bencana yang merenggut 72
> nyawa. Dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya menimbulkan 40
> korban jiwa.
>
> Dari 513 kejadian bencana tersebut,  182 kejadian adalah puting beliung,
> sementara banjir sudah terjadi 157 kali, longsor 137 kali, kebakaran hutan
> dan lahan 15 kali, kombinasi banjir dan tanah longsor 10 kali, gelombang
> pasang dan abrasi 7 kali, gempabumi merusak 3 kali, dan erupsi gunung api 2
> kali.
>
> Korban jiwa tercatat 72 meninggal dunia dan hilang, 116 jiwa luka-luka,
> dan lebih dari 393 ribu mengungsi dan menderita. Bencana juga merusak
> 12.104 rumah. Meliputi 1.566 rumah rusak berat, lalu 3.141 rumah lainnya
> rusak sedang serta 7.397 rumah rusak ringan.
>
> Selain itu, bencana juga merusak 127 unit fasilitas pendidikan, 123
> fasilitas peribadatan dan 13 fasilitas kesehatan. ”Diperkirakan kerugian
> dan kerusakan akibat bencana mencapai puluhan trilyun rupiah,” kata Sutopo
> Purwo Nugroho, Kapusdatin dan Humas BNBP kemarin (2/3).
>
> Dari korban 72 jiwa meninggal dan hilang, bencana longsor masih yang
> paling mematikan. Tercatat 45 jiwa meninggal dunia dan hilang akibat
> longsor. Sedangkan banjir mencatatkan skor 18 jiwa, puting beliung 6 jiwa,
> banjir dan longsor 2 jiwa, dan gempabumi 1 jiwa.
>
> Longsor menjadi bencana yang paling mematikan sejak tahun 2014 hingga
> sekarang. Saat ini, kata Sutopo sekitar 40,9 juta jiwa masyarakat Indonesia
> tinggal di daerah rawan longsor dengan potensi sedang hingga tinggi.
>
> Mereka tinggal di pegunungan, perbukitan dan lereng-lereng yang curam
> dengan kemampuan mitigasinya masih minim. Saat musim hujan seperti saat ini
> longsor marak terjadi. ”longsornya kecil, namun karena di bawah terdapat
> rumah maka terjadi korban jiwa,” kata Sutopo.
>
> Longsor mematikan karena sifatnya yang penuh ketidakpastian. Sulit
> dideteksi dan diprediksi secara pasti kapan akan terjadi longsor.
> Adakalanya, meski tanah sudah bergerak, merekah hingga lebar mencapai 50
> centimeter dengan panjang ratusan meter, tapi tidak segera terjadi longsor.
>
> ”Masyarakat awalnya sudah mengungsi, Namun karena longsor tidak segera
> terjadi, bahkan hingga berbulan-bulan akhirnya masyarakat kembali ke rumah
> untuk bekerja dan melakukan aktivitas sehari-hari,” kata Sutopo.
>
> Selain longsor, indonesia juga menghadapi masalah daerah rawan banjir yang
> makin tahun makin meluas. Daerah yang semula tidak pernah terjadi banjir
> tiba-tiba terjadi banjir besar. Pengaruh antropogenik atau ulah manusia
> lebih dominan daripada faktor alam sebagai penyebab banjir.
>
> Sutopo menjelaskan, tingginya laju kerusakan hutan, lahan kritis,
> kerusakan lingkungan, degradasi sungai, lemahnya implementasi tata ruang,
> masih rendahnya budaya sadar bencana dan lainnya telah menyebabkan
> kerentanan meningkat.
>
> Sementara itu Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) kemarin
> (2/3) menjelaskan kembali tentang Sunda Megathrust. Informasi Sunda
> Megathrust yang berpotensi menghadirkan gempa dengan kekuatan tinggi di
> sekitar DKI Jakarta, mencuat dalam diskusi Ikatan Alumni Akademik
> Meteorologi dan Geofisika (Ikamega) Rabu lalu (28/2).
>
> Kabag Humas BMKG Hary Tirto Djatmiko mengatakan setelah digelar diskusi
> tersebut beredar tulisan yang isinya kurang tepat. Sehingga menimbulkan
> makna yang berbeda. ’’Untuk itu kita ingin meluruskan informasi soal Sunda
> Megathrust yang sudah beredar di masyarakat,’’ katanya.
>
> Hary mengatakan meskipun para ahli mampu menghitung perkiraan magnitude
> maksimum gempa di zona megathrust, namun teknologi yang ada saat ini belum
> mampu memprediksi dengan tepat. Termasuk apakah benar nantinya gempa akibat
> Sunda Megathrust bakal mencapai 8,7 SR. Termasuk juga memastikan kapan
> gempa Sunda Megathrust itu akan terjadi.
>
> ’’Kita pun belum mampu memastikan apakah gempa Sunda Megathrust 8,7 SR
> akan benar-benar terjadi. Kapan, dimana, dan berapa kekuatannya,’’
> jelasnya. Maka dalam ketidakpastian tersebut yang perlu dilakukan adalah
> upaya mitigasi bencana dengan tepat.
>
> Kemudian juga menyiapkan langkah-langkah konkrit yang perlu segera
> dilakukan untuk menekan resiko kerugian sosial, ekonomi, serta korban jiwa.
> ’’Seandainya gempa besar itu benarbeanr terjadi,’’ paparnya.
>
> *(tau/wan)*
>
> 
>

Kirim email ke