----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: Roeslan [email protected] 
[GELORA45] <[email protected]>Kepada: "[email protected]" 
<[email protected]>; 'Tatiana Lukman' <[email protected]>; 
"[email protected]" <[email protected]>Terkirim: Sabtu, 3 Maret 
2018 17.36.43 GMT+1Judul: [GELORA45] AW: [nasional-list] Gatot Nurmantyo Jawab 
Soal Isu Kebangkitan PKI
     


REFRLEKSI: Gatot Nurmatyo hendak membendung kebangkitan Komunisme?. Dalam 
konteks ini Gatot Nurmantyo harus memahami bahwa di dunia ini ada klas 
penghisap, yang diwakili oleh Kaum Kapitalis yang sekarang ini sudah menjilma 
menjadi kauum Neoliberal (Neolib), yang di sebut kapitalisme Neolibral, yang 
melakukan praktek penghisapan manisia atas manusia yang jauh lebih kejam dari 
penghisapan yang dilakukan oleh kaum kapitalis yang murni. Semua klas penghisap 
di Indonesia, baik secara formal ia menganut agama apaun yang ia anut, tentu 
akan membendung bangkinya kembali komunisme di bumi Indonesia. Karena 
bangkitnya kembali komunisme, dipandang segai ancaman bagi kehidupan mereka 
yang melakukan penghisapan manusi atas manusia. Jadi logis jika Gatot Nurmatyo 
dan sejenisnya mati-matian menentang kembalinya komunisnme yang anti 
kapitalisme yang sekarang sudah berkembang menjadi kapitalis Neoliberal, yang 
adalah merupakan jalan tol bagi masuknya kolonoalisme modern di bumi Indonesia. 
Penomena seperti inilah yang sekarang ini kita saksikan, yaitu dengan masuknya 
ideologi Neoliberal di bumi Indonesia, maka Indonesia  yang merdeka sekarang 
ini telah berubah menjadai negara jajahan model baru.. Penjajahnya adalah kaum 
Neolib yang bergandengan tangan dengan penguasa negara ini.

  

Seharusnya sebagai seorang muslim yang patuh, Gatot Nurmantyo harus melawan 
penhisapam manusia atas manusia, seperti yang di tunjukkan dalam Al Quran  
Surat Al Anam ayat 145, yang mengatakan ``haram``hukumnnya memakan darah yang 
mengalir. Sama halnya dengan memakan bangkai (mayat) dan  atau babi. Yang 
demikian keji dan fasik. 

  

Dalam konteks ini haram memakan darah yang mengalr tidak hanya secara harfiah, 
tapi juga sejara hakiki. Secara harfiah mudah diketahui. Misalnya menghirup 
darah seseorang melalui kulitnya yang dilukai. Tetapi tak mudah mengenalinya 
atau mengetahuinya, bila memakannya melalui penggunaan tenaga kerja, dengan 
gaji yang rendah demi mendapatkan keuntunga sebesar mungkin, seperti yang 
terjadi di era kolonialisme modern, yang dilakukan oleh kaum Neolib, yang 
mendominasi kehidupan perekonomian di NKRI  ini.

Jadi jika Gatot Nurmantyo memahami masalah ini, maka sebenarnya mudah atau 
tidak sulit untuk mencegah bangkinya kembali komunisme di NKRI ini. Bunuh saya 
sistem yang melahirkan  penghisapan manusia atas manusia itu. Yaitu sistem 
kapitalis Neoliberal yang cengkeramannya cukup tinggi di Bumi Indonesia ini.  
Proklamasi Kemerdekaan kita memberi dimensi bagi misi-misi kultulal yang 
melawan penghisapan manusia atas manuisia, demi terlaksanakannya suatu 
masyarakat yang adil dan makmur.  

  

Roeslan.

  

Von: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Gesendet: Samstag, 3. März 2018 07:51
An: GELORA_In
Betreff: [nasional-list] Gatot Nurmantyo Jawab Soal Isu Kebangkitan PKI

  

  

Gatot Nurmantyo Jawab Soal Isu Kebangkitan PKI

Reporter:  

Caesar Akbar

Editor:  

Kodrat Setiawan

Sabtu, 3 Maret 2018 10:45 WIB



Gatot Nurmantyo. TEMPO/Ilham Fikri

TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo berdialog 
dengan para jamaah Masjid Agung Al-Azhar, Jakarta Selatan. Salah satu yang 
dipertanyakan oleh jamaah yang hadir adalah mengenai kebenaran ihwal isu 
kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Atas pertanyaan itu, Gatot pun mewanti-wanti soal bahaya laten PKI. Kata dia, 
hidupnya partai berlogo palu arit itu terindikasi dengan beberapa pernyataan 
maupun sikap yang muncul di masyarakat. "PKI tetap hidup seperti setan, tak 
terlihat," kata Gatot di hadapan para jamaah Masjid Agung Al-Azhar, Jakarta 
Selatan, Sabtu, 3 Maret 2018.

Baca juga: Ditanya Persiapan Pilpres, Gatot Nurmantyo: Nanti Saya Ditegur

Karena itu Gatot tergelitik dan akhirnya memutuskan mengadakan nonton bareng 
film soal G30S PKI beberapa waktu lalu.

Menurut Gatot, anak-anak yang tumbuh pasca-reformasi sudah tidak mendapatkan 
pelajaran soal pemberontakan G30S PKI. "Sarjana yang lulus tiga sampai empat 
tahun belakangan tidak tahu pelajaran itu," kata dia. Bahkan dia diceritakan 
bahwa anak dari salah satu stafnya yang masuk kuliah pun pernah menanyakan soal 
DN Aidit sang bos PKI.

"Makanya begitu di survei dia (anak muda) tidak percaya karena tidak tahu. Yang 
disurvei kebanyakan usia produktif, pemuda," kata dia.

Gatot meminta agar masyarakat tidak reaktif menanggapi isu-isu yang beredar.. 
Dia menganjurkan agar umat Islam tidak tersulut dan malah terbawa 
skenario-skenario yang tidak diinginkan.

"Jadi kita harus waspada, kalau ada perkembangan kan ada Babinsa, RT, atau RW, 
silakan. Karena orang akan merebut Indonesia dengan cara tangan bersih tanpa 
biaya, menumpangi apapun," kata Gatot. Sebaliknya, kalau umat muslim bersih, 
tidak mudah emosi maupun gampang marah, dia yakin oknum-oknum tak bertanggung 
jawab juga tak bisa apa-apa.

Berbeda dengan pendapat Gatot Nurmantyo, hasil survei Saiful Mujani Research 
and Consulting (SMRC) yang dirilis pada 28 September 2017 menunjukkan 86,8 
persen responden tidak percaya adanya isu kebangkitan PKI. Survei ini dilakukan 
menggunakan metode multistage random sampling, dengan jumlah 1057 responden. 
Survei tersebut juga menggunakan margin of errorkurang-lebih 3,1 persen dan 
tingkat kepercayaan 95 persen.

Direktur Program SMRC Sirojuddin Abbas mengatakan isu kebangkitan PKI tersebut 
sebetulnya direproduksi oleh elite politik untuk tujuan politik tertentu. 
Sirojuddin menambahkan, hasil survei yang dilakukan lembaganya juga menemukan 
adanya keterkaitan antara isu PKI yang muncul dan upaya dukungan kepada tokoh 
atau elite politik tertentu.

Sebelumnya, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Said Aqil Siroj menilai 
wajar isu komunisme selalu muncul tahun. Menurut dia, kemunculan isu komunisme 
tak terlepas dari situasi politik menjelang pemilihan umum. "Setiap tahun, isu 
PKI (Partai Komunis Indonesia) pasti ramai. Misal, Presiden Jokowi dituduh PKI. 
Tapi tahun ini ramai karena menjelang tahun politik 2019. Ada hubungan, dong, 
pasti," kata Said, pada September 2017.


    

Kirim email ke