----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: Sri Isni <[email protected]>Kepada: "[email protected]" <[email protected]>Terkirim: Sabtu, 3 Maret 2018 17.08.41 GMT+1Judul: : Pernikahan Anak Bisa Memicu Kemiskinan Baru Gunung Kidul - Solopos.com Ilustrasi pernikahan dini (JIBI/Solopos/Antara-blogammar.com) Senin, 18 Desember 2017 21:40 WIB David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja Gunung Kidul Share : Pernikahan Anak Bisa Memicu Kemiskinan Baru Perwakilan PBB diskusi pernikahan anak di Gunungkidul.
Solopos.com, GUNUNGKIDUL–Pencegahan usia pernikahan anak menjadi salah satu
fokus pembahasan Kementerian Perempuan dan Anak. Hal ini dilakukan untuk
mengurangi bertambahnya keluarga miskin di Indonesia karena dampak dari
pernikahan dini bisa mencetak keluarga-keluarga miskin baru.
Program Officer United Population Fund (UNPA) Sri Wahyuni mengatakan, pihaknya
merupakan lembaga resmi yang berada di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa
(PBB)PBB. Untuk saat ini, UNPA sedang menjalin kerja sama dengan Kementerian
Pemberdayaan Perempuan dan Anak untuk program pencegahan pernikahan usia anak.
Menurut dia, pencegahan ini merupakan target penting yang ingin dicapai
Pemerintah Indonesia dengan tujuan mengentaskan keluarga miskin. Yuni, sapaan
akrabnya, pernikahan dini secara tidak langsung akan memberikan sumbangsih
terhadap munculnya keluarga-keluarga miskin baru.
“Memang pernikahan dini bisa mencetak keluarga miskin baru. Jadi jika upaya
pencegahan tidak dilakukan maka program-program dari pemerintah dalam
pengentasan kemiskinan tidak akan berjalan maksimal,” katanya kepada wartawan
di sela-sela kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Upaya Terbaik Pencegahan
Perkawinan pada Usia Anak di Joglo Tani, Desa Piyaman, Wonosari, Senin
(18/12/2017).
Dia menjelaskan, pernikahan dini dapat mencetak keluarga miskin baru tidak
lepas dari kehidupan keluarga yang dimiliki pasangan. Ia menilai, pernikahan
anak membuat pasangan tidak memiliki kesempatan mengenyam pendidikan tinggi
yang nantinya berdampak pada minimnya kesempatan mendapatkan pekerjaan yang
layak.
“Kalau sudah begini, peluang mendapatkan kerja dengan penghasilan yang tinggi
otomatis sirna. Sebagai dampaknya dalam kehidupan penghasilan yang didaatkan
kecil dan menjadi keluarga miskin yang baru karena segala kebutuhan tidak dapat
terpenuhi dengan baik,” tutur dia.
Yuni menuturkan FGD yang dijalankan tidak hanya digelar di Gunungkidul, namun
daerah lain seperti dari Jawa Tengah, Sulawesi Selatan hingga Nusa Tenggara
Barat juga dilakukan yang sama. Tujuan dari kegiatan tersebut untuk
memformulasikan kebijakan dalam pencegahan pernikahan dini. “Kebetulan di
daerah-daerah yang dikunjungi telah membuat kebijakan dalam pencegahan
pernikahan dini. Jadi hasil dari diskusi akan dikumpulkan dan dijadikan bahan
dalam menyusun kebijakan di tingkat pusat,” katanya lagi.
Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan
Keluarga Berencana Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DP3AKBPMD) Gunungkidul
Sujoko mengatakan pihaknya konsisten dalam upaya pencegahaan pernikahan dini..
Beberapa langkah yang dilakukan dengan menggelar deklarasi anti pernikahan dini
hingga pembentukan wilayah ramah anak. “Untuk forum pencegahan hingga sekarang
sudah berdiri di 57 lokasi di seluruh Gunungkidul dan rencananya ini akan terus
kami perluas,” kata Sujoko.
Lowongan Pekerjaan
Jurnalis, informasi selengkapnya KLIK DISINI Editor : Bhekti SuryaniTags
diskusi Gunungkidulpenyebab kemiskinanpernikahan anak
You might also like
© 2016 Solopos Digital Media. All rights reserved.
--
You received this message because you are subscribed to the Google Groups
"forumdiskusi" group.
To unsubscribe from this group and stop receiving emails from it, send an email
to [email protected].
To post to this group, send email to [email protected].
Visit this group at https://groups.google.com/group/diskusiforum.
For more options, visit https://groups.google.com/d/optout.
binloeFDrSgKQ.bin
Description: Binary data
