https://tirto.id/gurita-di-belakang-singa-biEG
Gurita di Belakang Singa <https://tirto.id/gurita-di-belakang-singa-biEG#>

Lion Air Group pernah membuat gebrakan bisnis dengan transaksi pembelian
464 pesawat jenis Boeing 737 dan Airbus A320 pada tahun 2011 dan 2013.
Mereka harus membayar Rp595 triliun. Dari mana duitnya? Siapa raksasa di
belakang Lion yang memberi jaminan sehingga pihak Boeing atau Airbus
percaya kepada Rusdi Kirana? Benarkah Temasek ada di belakang Lion?


Reporter: Kukuh Bhimo Nugroho
<https://tirto.id/author/kukuhbhimo?utm_source=internal&utm_medium=topauthor>

15 Juni, 2016 *dibaca normal 3:30 menit *

   -

   Lion Air membeli 464 pesawat jenis Boeing 737 dan Airbus A320 senilai Rp
   425,4 triliun
   -

   Pemilik maskapai harus menyediakan modal minimal 30% dari total nilai
   pembelian.
   -

   Bukaka, perusahaan keluarga Kalla, pernah bekerja sama dengan SingTel,
   anak usaha Temasek

15 Shares

*Lion Air Group pernah membuat gebrakan bisnis dengan transaksi pembelian
464 pesawat jenis Boeing 737 dan Airbus A320 pada tahun 2011 dan 2013.
Mereka harus membayar Rp595 triliun. Dari mana duitnya? Siapa raksasa di
belakang Lion yang memberi jaminan sehingga pihak Boeing atau Airbus
percaya kepada Rusdi Kirana? Benarkah Temasek ada di belakang Lion?*


*tirto.id <http://tirto.id> - *Lima tahun silam, Lion Air Group bikin
geger. Mereka membuat kesepakatan besar dengan Boeing yang nilainya
mencapai ratusan triliun. Dua presiden menyaksikan langsung penandatanganan
kesepakatan tersebut. Selang dua tahun kemudian, Lion Air Group kembali
membuat gempar dengan memborong Airbus. Penandatanganan kesepakatan
dilakukan di Istana Kepresidenan Perancis, dan disaksikan langsung Presiden
Hollande.

Secara total, transaksi yang dilakukan Lion Air Group pada 2011 dan 2013
itu mencapai , $45,7 miliar atau sekitar Rp595 triliun. Rinciannya adalah
$21,7 miliar dengan Boeing dan $24 miliar dengan Airbus.

Pada 18 November 2011, maskapai yang berdiri di tahun 2000 itu, meneken
kontrak pembelian sebanyak 230 pesawat Boeing 737, senilai $21,7 miliar
atau sekitar Rp282 triliun. Penandatanganan kesepakatan pembelian 230
pesawat Boeing dilakukan di sela-sela acara KTT ASEAN, di Nusa Dua, Bali.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Barack Obama menyaksikan
langsung kesepakatan bisnis raksasa itu.

Transaksi tersebut merupakan penjualan pesawat komersial terbesar Boeing
sepanjang sejarah. Presiden Obama memuji Lion sebagai salah satu maskapai
dengan pertumbuhan tercepat di kawasan Asia Pasifik. Ia senang Lion Air
Group bisa membantu menggerakkan roda perekonomian Amerika Serikat dengan
pesanan yang besar ke Boeing. Maklum saja, ketika itu Amerika Serikat baru
saja mengalami pemulihan setelah sempat didera krisis parah.

“Ini adalah kesepakatan terbesar — jika saya tidak salah – yang pernah
dibuat Boeing. Kita melihat lebih dari 200 pesawat akan terjual. Pemerintah
AS dan Ex-Im Bank, secara khusus, penting dalam memfasilitasi kesepakatan
ini,” ujar Obama ketika itu.

Selanjutnya pada Maret 2013, Lion Air Group kembali meneken kontrak
pembelian 234 pesawat Airbus A320 dan A321 senilai $24 miliar atau Rp312
triliun. Penandatanganan jual beli dilakukan di Istana Kepresidenan Elysee,
dan disaksikan langsung oleh Presiden Perancis Francois Hollande.

“Pemesanan dalam jumlah besar dan nilai kontrak yang sangat besar ini
menegaskan perekonomian Indonesia sangat luar biasa,” puji Presiden
Hollande.

Dua kali transaksi pembelian spektakuler dilakukan Lion. Nilainya $45
miliar, atau setara dengan 45 persen dari cadangan devisa Indonesia yang
ketika itu berkisar $100 miliar. Transaksi itu tentu saja langsung
mengundang kecurigaan tentang siapa pihak yang mau mendanai transaksi
sebesar itu.

Lion mengaku dana itu berasal dari kredit yang dikucurkan konsorsium
pimpinan US Exim Bank untuk pembelian Boeing. Presiden Obama dalam
pidatonya sudah mengkonfirmasi adanya bantuan pembiayaan dari US Exim Bank.
CEO Lion Air Group, Rusdi Kirana pun menyatakan hal yang sama.

“Saya tidak bisa berbicara terlalu terperinci karena sangat confidential.
Kami juga menjalin hubungan cukup lama dengan Boeing sejak membeli 178 unit
737-900 ER. Bisnis tak harus berbicara tentang uang. Modal kami adalah
trust. Boeing dan Bank Exim Amerika Serikat tidak akan begitu saja
berbisnis dengan Lion Air. Tentu mereka sudah mempelajari rekam jejak
kami,” katanya dalam wawancara dengan *Tempo*, yang diunggah pada Senin
(23/2/2015).

Sementara untuk pembelian Airbus, Rusdi Kirana mengaku didukung oleh
sindikasi Export Credit Agency (ECA) di Inggris, Perancis dan Jerman.

“Saya mendapat kredit 10 tahun hingga 15 tahun untuk satu pesawat,” jelas
Rusdi, dalam wawancaranya di sela-sela penandatanganan kesepakatan itu di
Paris, seperti dikutip dari *Kontan*, 21 Maret 2013 lalu.

Rusdi mengaku kreditnya berbunga murah, hanya LIBOR plus 2 persen. Kredit
baru akan berjalan setelah pesawat diantarkan. Pengiriman Airbus ini
dilakukan secara bertahap, dan tuntas pada 2027. Ini artinya, kredit baru
akan tuntas pada 2037 – 2042.

Namun sejumlah pertanyaan mengemuka, mengingat aturan di dunia
internasional dalam hal jual beli pesawat menyebutkan, pemilik maskapai
harus menyediakan modal minimal 30 persen dari total nilai pembelian.
Artinya, Rusdi Kirana harus memiliki dana senilai Rp120 triliun lebih. Jika
dana itu dirogoh dari kantor pribadi Rusdi Kirana, jelas tidak mungkin.
Menurut kalkulasi majalah *Forbes*, total kekayaan Rusdi di tahun 2012
hanya di kisaran angka Rp 8,5 triliun.

Lalu bagaimana soal uang jaminan karena total kekayaannya menurut Forbes
hanya Rp 8,5 triliun? “Forbes salah menghitung, hahaha… Pertanyaan yang
sama pernah ditanyakan beberapa menteri. Jawabannya, saya menjual negara
ini, yang saya jual itu Merah Putih,” katanya Rusdi, dalam wawancara
khususnya dengan *Tempo.*

Menurut Rusdi, saat melobi Bank Exim Amerika Serikat dan Paribas di
Perancis, dia tidak pernah menjual diri sendiri. “Yang saya jual adalah
prospek negeri ini. Memiliki bentangan dari Sumatera ke Papua sepanjang
5.000 kilometer, penduduknya 230 juta jiwa, perekonomiannya tumbuh 7
persen, dan transportasi udara yang paling murah. Mereka pasti berpikir,
mendanai saya adalah hal yang masuk akal,” katanya ketika itu.

[image: Gurita di Belakang Singa]

share infografik



*Gurita Temasek di Indonesia*

Benarkah cukup dengan menjual potensi Indonesia, maka kedua pabrikan
pesawat terbesar di dunia itu percaya? Pastinya tidak semudah itu. Yang
pasti, dalam sebuah transaksi kredit yang lumrah, pinjaman hanya bisa
diberikan jika ada kolateral ataupun penjamin. Dalam hal ini, tidak jelas
kolateral yang diberikan oleh Lion Group, termasuk penjamin sehingga
kreditur bersedia mengucurkan dananya. Lion hanya menyatakan adanya lembaga
kredit yang membantu mereka untuk belanja pesawat.

Spekulasi pun bermunculan tentang siapa yang membantu Lion sehingga bisa
mendapatkan kepercayaan untuk mendapatkan kredit sebesar itu. Dalam
forum-forum diskusi tentang penerbangan, sempat muncul nama Temasek. Namun,
tidak pernah ada konfirmasi baik dari Lion Air maupun Temasek soal
keterkaitan bisnis. Temasek tak pernah menyebut ada kesepakatan bisnis
dengan Lion Air.

Dalam portofolio Temasek di sektor transportasi, tidak ada nama Lion Air.
Temasek hanya mencantumkan Singapore Airlines dalam daftar portofolio
kepemilikannya. Temasek tercatat menguasai 56,48 persen saham Singapore
Airlines.

Mengapa Temasek dikait-kaitkan dengan Lion Air? Sebelum terjadi pembelian
spektakuler tadi, Lion Air menjadi maskapai pertama di dunia yang
mengopreasikan pesawat terbaru produksi Boeing, yakni 737-900 ER. Peresmian
pertama pengoperasian perdana Boeing 737-900 ER milik Lion Air itu
dilakukan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla , pada Senin (30/4/2007).

Peresmian oleh Wapres JK menjadi logis, jika melihat fakta lainnya bahwa
nama Halim Kalla, adik kandung JK, ada di jajaran komisaris Lion Air yang
didirikan Rusdi dan kakaknya Kusnan Kirana pada tahun 2000.

Bukaka yang merupakan grup perusahaan milik keluarga Kalla, pernah bekerja
sama dengan Singapore Telecommunications (SingTel) Limited. Pada tahun
1996, pernah didirikan PT Bukaka SingTel International, perusahaan yang
memenangkan tender senilai Rp1,1 triliun untuk pembangunan 403 ribu
sambungan baru.

Hal yang harus dicatat, SingTel yang kini juga menguasai 35 persen saham PT
Telkomsel, operator seluler terbesar di Indonesia, tak lain merupakan anak
perusahaan Temasek Holdings Pte, BUMN milik pemerintah Singapura yang telah
menjelma menjadi konglomerasi bisnis.

Semua itu memang hanya benang merah, yang belum jelas konfirmasinya. Hanya
saja, keterkaitan itu muncul karena tidak ada keterbukaan dalam sebuah
transaksi besar, seperti yang dilakukan Lion Air Group. Apalagi jika
melihat fakta bahwa penandatanganan kontrak antara Lion Air dengan pihak
Boeing dan Airbus selalu melibatkan para pemimpin negara. Selubung yang tak
tersingkap akhirnya memunculkan beragam spekulasi.

Baca juga artikel terkait LION AIR
<https://tirto.id/q/lion-air-tm?utm_source=internal&utm_medium=lowkeyword>
atau tulisan menarik lainnya Kukuh Bhimo Nugroho
<https://tirto.id/author/kukuhbhimo?utm_source=internal&utm_medium=lowauthor>

(tirto.id - bim/nqm)


*Laporan 1: *Perlawanan "Singa" Penguasa Angkasa
<https://tirto.id/perlawanan-singa-penguasa-angkasa-biEC>
*Laporan 2: *Jurus Sang Singa Menerkam Halim
<https://tirto.id/jurus-sang-singa-menerkam-halim-biEE>
*Laporan 3: *Gurita di Belakang Singa
*Laporan 4: *"Jangan Dikonotasikan Kami Melawan (Kemenhub)"
<https://tirto.id/jangan-dikonotasikan-kami-melawan--kemenhub--biEH>

Kirim email ke