http://www.jambiekspres.co.id/read/2018/03/03/23620/baru-dua-bulan-72-nyawa-melayang%C2%A0bencana-diperkirakan-terus-bertambah/
<http://www.jambiekspres.co.id/read/2018/03/03/23620/baru-dua-bulan-72-nyawa-melayang
bencana-diperkirakan-terus-bertambah/>
Baru Dua Bulan, 72 Nyawa Melayang, Bencana Diperkirakan Terus Bertambah

Sabtu, 03 Maret 2018 - 11:05:16



Facebook
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://www.jambiekspres.co.id/read/2018/03/03/23620/baru-dua-bulan-72-nyawa-melayang
bencana-diperkirakan-terus-bertambah&title=Baru%20Dua%20Bulan,%2072%20Nyawa%20Melayang,
Bencana%20Diperkirakan%20Terus%20Bertambah>
Twitter
<https://twitter.com/share?url=http://www.jambiekspres.co.id/read/2018/03/03/23620/baru-dua-bulan-72-nyawa-melayang
bencana-diperkirakan-terus-bertambah&text=Text%20for%20Twitter%20Here&via=medialoot>
Google
Plus
<https://plus.google.com/share?url=http://www.jambiekspres.co.id/read/2018/03/03/23620/baru-dua-bulan-72-nyawa-melayang
bencana-diperkirakan-terus-bertambah>
Stumbleupon
<http://www.stumbleupon.com/submit?url=http://www.jambiekspres.co.id/read/2018/03/03/23620/baru-dua-bulan-72-nyawa-melayang
bencana-diperkirakan-terus-bertambah>


*JAKARTA* – Tahun 2018 diawali dengan rentetan bencana mematikan. Baru dua
bulan berlalu (Januari-Februari), Badan Nasional Penanggulangan Bencana
(BNPB) mencatat Indonesia telah dihajar 513 bencana yang merenggut 72
nyawa. Dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya menimbulkan 40
korban jiwa.

Dari 513 kejadian bencana tersebut,  182 kejadian adalah puting beliung,
sementara banjir sudah terjadi 157 kali, longsor 137 kali, kebakaran hutan
dan lahan 15 kali, kombinasi banjir dan tanah longsor 10 kali, gelombang
pasang dan abrasi 7 kali, gempabumi merusak 3 kali, dan erupsi gunung api 2
kali.

Korban jiwa tercatat 72 meninggal dunia dan hilang, 116 jiwa luka-luka, dan
lebih dari 393 ribu mengungsi dan menderita. Bencana juga merusak 12.104
rumah. Meliputi 1.566 rumah rusak berat, lalu 3.141 rumah lainnya rusak
sedang serta 7.397 rumah rusak ringan.

Selain itu, bencana juga merusak 127 unit fasilitas pendidikan, 123
fasilitas peribadatan dan 13 fasilitas kesehatan. ”Diperkirakan kerugian
dan kerusakan akibat bencana mencapai puluhan trilyun rupiah,” kata Sutopo
Purwo Nugroho, Kapusdatin dan Humas BNBP kemarin (2/3).

Dari korban 72 jiwa meninggal dan hilang, bencana longsor masih yang paling
mematikan. Tercatat 45 jiwa meninggal dunia dan hilang akibat longsor.
Sedangkan banjir mencatatkan skor 18 jiwa, puting beliung 6 jiwa, banjir
dan longsor 2 jiwa, dan gempabumi 1 jiwa.

Longsor menjadi bencana yang paling mematikan sejak tahun 2014 hingga
sekarang. Saat ini, kata Sutopo sekitar 40,9 juta jiwa masyarakat Indonesia
tinggal di daerah rawan longsor dengan potensi sedang hingga tinggi.

Mereka tinggal di pegunungan, perbukitan dan lereng-lereng yang curam
dengan kemampuan mitigasinya masih minim. Saat musim hujan seperti saat ini
longsor marak terjadi. ”longsornya kecil, namun karena di bawah terdapat
rumah maka terjadi korban jiwa,” kata Sutopo.

Longsor mematikan karena sifatnya yang penuh ketidakpastian. Sulit
dideteksi dan diprediksi secara pasti kapan akan terjadi longsor.
Adakalanya, meski tanah sudah bergerak, merekah hingga lebar mencapai 50
centimeter dengan panjang ratusan meter, tapi tidak segera terjadi longsor.

”Masyarakat awalnya sudah mengungsi, Namun karena longsor tidak segera
terjadi, bahkan hingga berbulan-bulan akhirnya masyarakat kembali ke rumah
untuk bekerja dan melakukan aktivitas sehari-hari,” kata Sutopo.

Selain longsor, indonesia juga menghadapi masalah daerah rawan banjir yang
makin tahun makin meluas. Daerah yang semula tidak pernah terjadi banjir
tiba-tiba terjadi banjir besar. Pengaruh antropogenik atau ulah manusia
lebih dominan daripada faktor alam sebagai penyebab banjir.

Sutopo menjelaskan, tingginya laju kerusakan hutan, lahan kritis, kerusakan
lingkungan, degradasi sungai, lemahnya implementasi tata ruang, masih
rendahnya budaya sadar bencana dan lainnya telah menyebabkan kerentanan
meningkat.

Sementara itu Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) kemarin
(2/3) menjelaskan kembali tentang Sunda Megathrust. Informasi Sunda
Megathrust yang berpotensi menghadirkan gempa dengan kekuatan tinggi di
sekitar DKI Jakarta, mencuat dalam diskusi Ikatan Alumni Akademik
Meteorologi dan Geofisika (Ikamega) Rabu lalu (28/2).

Kabag Humas BMKG Hary Tirto Djatmiko mengatakan setelah digelar diskusi
tersebut beredar tulisan yang isinya kurang tepat. Sehingga menimbulkan
makna yang berbeda. ’’Untuk itu kita ingin meluruskan informasi soal Sunda
Megathrust yang sudah beredar di masyarakat,’’ katanya.

Hary mengatakan meskipun para ahli mampu menghitung perkiraan magnitude
maksimum gempa di zona megathrust, namun teknologi yang ada saat ini belum
mampu memprediksi dengan tepat. Termasuk apakah benar nantinya gempa akibat
Sunda Megathrust bakal mencapai 8,7 SR. Termasuk juga memastikan kapan
gempa Sunda Megathrust itu akan terjadi.

’’Kita pun belum mampu memastikan apakah gempa Sunda Megathrust 8,7 SR akan
benar-benar terjadi. Kapan, dimana, dan berapa kekuatannya,’’ jelasnya.
Maka dalam ketidakpastian tersebut yang perlu dilakukan adalah upaya
mitigasi bencana dengan tepat.

Kemudian juga menyiapkan langkah-langkah konkrit yang perlu segera
dilakukan untuk menekan resiko kerugian sosial, ekonomi, serta korban jiwa.
’’Seandainya gempa besar itu benarbeanr terjadi,’’ paparnya.

*(tau/wan)*

Kirim email ke