*Kalau sekarang peneliti assing kurang perhatian untuk meniliti Indonesia,
maka pertanyaannya apakah warga NKRI giat menyelidiki Indonesia? Kalau
banyak yang menyelidiki bisa ada yang buktikan antara lain bahwa Nabi
Sulaiman berasal dari Jawa dan begitupun banyak cerita yang dipercayai umum
didapat kebenaran atau kepalsuannya. hehehehehehe*


https://tirto.id/indonesia-tak-lagi-seksi-buat-peneliti-asing-cFdg


Indonesia Tak Lagi Seksi buat Peneliti Asing
<https://tirto.id/indonesia-tak-lagi-seksi-buat-peneliti-asing-cFdg#>

Kajian Indonesia semakin sepi peminat seiring naiknya studi kawasan:
melihat Indonesia dalam jaringan global.

Reporter: Fadrik Aziz Firdausi
<https://tirto.id/author/fadrikazizfirdausi?utm_source=internal&utm_medium=topauthor>

23 Februari, 2018 *dibaca normal 5 menit *

Daya saing peneliti Indonesia secara umum merosot

1.3k Shares

*Kajian Indonesia semakin sepi peminat seiring naiknya studi kawasan:
melihat Indonesia dalam jaringan global.*

*tirto.id <http://tirto.id> - *Ketika menempuh studi pascasarjana di
Universitas Leiden, Ghamal Satya Mohammad ditanya seorang kawan apakah ia
mempelajari Politik Etis. Nada sang kawan, seorang Belanda, terdengar
arogan, seolah-olah mahasiswa Indonesia tidak mempelajari Politik Etis.
Ghamal mengingat kawannya mengatakan, “Kalian sepertinya tidak belajar
Politik Etis seperti yang kami pelajari.”

Dari pengalaman itu Ghamal pun menyadari sesuatu. “Artinya saya dan dia
saling tidak tahu apa yang jadi kelebihan dan kekurangan studi sejarah di
negara masing-masing. Jadi, pemahaman kita berbeda dengan mereka,” ujar
pengajar jurusan Ilmu Sejarah Universitas Indonesia ini.

Universitas Leiden sudah puluhan tahun dirujuk untuk studi sejarah
Indonesia. Namun, tak banyak akademisi di sana yang benar-benar mengetahui
Indonesia dari studi-studi yang dihasilkan oleh peneliti Indonesia. Seperti
si kawan yang mengira mahasiswa Indonesia tidak belajar Politik Etis,
umumnya orang Belanda tidak benar-benar mengerti studi mutakhir tentang
sejarah Indonesia yang dikerjakan oleh peneliti Indonesia.

Baca juga: Perpustakaan Leiden, Jendela Indonesia Di Belanda
<https://tirto.id/perpustakaan-leiden-jendela-indonesia-di-belanda-bZnX>


“Orang-orang di luar sana enggak tahu apa yang ditulis oleh orang
Indonesia. Peneliti-peneliti di sana menanyakan kebaruan tema yang mau kita
diteliti. Tulisan-tulisan tentang Indonesia yang enggak *mainstream* itu
ditunggu sama mereka, soalnya belum banyak,” ujar Ghamal yang mengambil
spesialisasi sejarah kolonial dan dunia itu.

Keadaan ini sesungguhnya ironis mengingat jumlah mahasiswa Indonesia di
Belanda tiap tahun selalu meningkat. Ghamal masuk Leiden pada 2013 melalui
skema beasiswa Cosmopolis yang dibiayai pemerintah Belanda. Saat itu
sebelum ada beasiswa LPDP pada 2013, ujar Ghamal, belum banyak mahasiswa
Indonesia yang belajar ke Belanda.

Baca juga:

   -

   Kebijakan LPDP dan Nasib Ilmu Sosial-Humaniora Kita
   <https://tirto.id/kebijakan-lpdp-dan-nasib-ilmu-sosial-humaniora-kita-cCFY>
   -

   Urgensi Reformasi Beasiswa LPDP
   <https://tirto.id/urgensi-reformasi-beasiswa-lpdp-cAzz>
   -

   Berburu Beasiswa LPDP <https://tirto.id/berburu-beasiswa-lpdp-crZP>


Dari data yang dihimpun Tim Riset *Tirto*, pada 2013 terdapat 374 mahasiswa
pascasarjana asal Indonesia yang studi di Belanda. Tahun berikutnya
jumlahnya meningkat menjadi 467 mahasiswa. Pada 2015 meningkat lagi menjadi
644 mahasiswa dan 898 mahasiswa pada tahun berikutnya.

Satu hal yang bisa disimpulkan: Meskipun meningkat, peneliti Indonesia
kurang efektif “menceritakan” negerinya sendiri di ranah global.

Baca juga: Wajah Muram Dunia Riset Indonesia
<https://tirto.id/muramnya-wajah-dunia-riset-indonesia-bsF6>


Anthony Reid, profesor emeritus Australian National University College of
Asia and the Pacific, pernah menengarai hal itu dalam “Indonesia dan Dunia
Sesudah 66 Tahun” (*Tempo*, 14-20 November 2011, hlm. 94-95). Menurutnya,
sudah banyak orang Indonesia yang belajar di luar negeri dan mereka umumnya
hanya menulis tentang Indonesia. Namun, hampir 90 persen karya ilmiah
tentang Indonesia di jurnal-jurnal akademis internasional ditulis oleh
peneliti asing.

Ghamal mengonfirmasi asumsi itu. “Ada kecenderungan mahasiswa internasional
yang belajar sejarah Indonesia itu keluar dari kanon sejarah versi negara
asalnya. Sementara mahasiswa kita enggak. Kebanyakan, walaupun sudah
sekolah sampai Belanda atau Perancis, mahasiswa kita bikinnya tetap hanya
tentang Indonesia. Ini yang dikritik oleh pengajar-pengajar saya,” ujarnya.

Masalah lain yang masih melingkupi dunia penelitian di Indonesia adalah
publikasi hasil penelitian di jurnal ilmiah internasional. Publikasi jurnal
adalah salah satu kunci “suara” peneliti Indonesia untuk dikenal secara
global. Kunci lain adalah tingkat pengutipan jurnal oleh peneliti lain.

Baca juga: Kondisi Dunia Penelitian di Indonesia
<https://tirto.id/kondisi-dunia-penelitian-di-indonesia-cvvj>


Menurut data terbaru yang dihimpun Scimago Journal and Country Rank
<http://scimagojr.com/countryrank.php?year=2016>, untuk urusan terbitan
jurnal internasional pada 2016, Indonesia berada di urutan 45
<http://scimagojr.com/countrysearch.php?country=id> dari total 239 negara..
Indonesia menerbitkan 11.470 jurnal. Di kawasan Asia Tenggara, Indonesia
kalah dari Thailand (14.176 jurnal), Singapura (19.992), dan Malaysia
(28.546).

Jumlah jurnal yang diterbitkan peneliti Indonesia di jurnal-jurnal
internasional memang meningkat. Pada 2012, Indonesia menghasilkan 3.902
tulisan yang dimuat jurnal internasional. Pada 2013, jumlah publikasi
ilmiah meningkat menjadi 5.113 jurnal. Tahun berikutnya ada 6.437 publikasi
yang terbit. Akhirnya, pada 2015, peningkatan mencapai 7.834 artikel.

Namun, peningkatan kuantitas jurnal ilmiah itu berkebalikan dengan
persentase rata-rata pengutipannya. Padahal, salah satu indikator kualitas
suatu naskah ilmiah adalah persentase pengutipannya oleh peneliti lain.

Pada 2012, rerata pengutipan artikel jurnal oleh peneliti Indonesia adalah
6,51. Pada 2013 reratanya turun menjadi 4,51. Tahun berikutnya turun lagi
menjadi 3,15. Pada 2015 turun menjadi 1,78. Dan, pada 2016, turun lagi jadi
0,40.

Pendeknya, daya saing peneliti Indonesia secara umum merosot.




*Menurunnya Minat Studi Indonesia*

Selain performa peneliti Indonesia yang masih belum maksimal, bila bukan
stagnan, riset-riset tentang Indonesia oleh peneliti asing juga menurun.

Indonesia pada dasarnya sudah tidak terlampau menarik lagi sebagai subjek
penelitian. Institusi-institusi yang dulu dikenal sebagai pusat studi
Indonesia kini menurun peminatnya.

Fase surut ini pernah diulas majalah *Tempo* edisi 14-20 November 2011.
Penurunan ini terjadi kira-kira sejak akhir 1990-an di kampus-kampus
Amerika Serikat, Belanda, dan Australia, yang memiliki pusat Studi Asia
Tenggara.

Cornell Modern Indonesia Project
<https://seap.einaudi.cornell.edu/cornell-modern-indonesia-project-cmip>,
yang menjadi pusat studi Indonesia terpenting, sempat mati suri setelah
ditinggal pensiun dua Indonesianis terkemuka: Benedict Anderson dan James
Siegel.

Jurusan Studi Asia Selatan dan Tenggara Universitas California
<http://ieas.berkeley.edu/gas/> di Berkeley mengalami penurunan jumlah
mahasiswa. Penurunan serupa terjadi di kampus-kampus anggota Consortium for
the Teaching of Indonesia <http://coti-usa.org/> (COTI) dan Southeast Asian
Studies Summer Institute <http://seassi.wisc.edu/> (SEASSI). Keduanya
adalah lembaga yang menawarkan kelas bahasa Indonesia bagi mahasiswa
Amerika yang hendak mempelajari Indonesia (*Tempo*, hlm. 60-62).

Muasal penurunan minat mempelajari Indonesia terkait perubahan pandangan
pemerintah Amerika Serikat terhadap Indonesia sejak 1990-an. Pusat studi
Asia Tenggara muncul di AS setelah Perang Dunia II untuk memahami dinamika
di negara-negara baru di Asia Tenggara tahun 1940-1950-an.

Studi Asia Tenggara di AS mengalami masa jaya kurun 1960-1970-an dalam
konteks Perang Dingin, khususnya Perang Vietnam. Hilangnya konteks ini
menurunkan pula minat untuk mempelajari kawasan Asia Tenggara.

Baca juga: Peneliti Asing dan CIA di Indonesia dalam Pusaran Perang Dingin
<https://tirto.id/peneliti-asing-dan-cia-di-indonesia-dalam-pusaran-perang-dingin-cFam>


“Selain itu, ada juga faktor negara lain yang lebih ‘berani’ mengucurkan
dana, misalnya Singapura dan Australia. Semua ini terkait pertimbangan
strategis tadi: pertimbangan seberapa penting meneliti Asia Tenggara,” ujar
Norman Joshua, kandidat Ph.D di Northwestern University, Illinois.

Norman mengamati bahwa pusat studi Asia Tenggara, yang menaungi studi
Indonesia, di Universitas Yale dan Cornell semakin mengecil dan profesornya
kian tersebar.

Hal serupa terjadi di Belanda. Program Indonesian Studies di Universitas
Leiden
<https://www.universiteitleiden.nl/en/education/study-programmes/bachelor/south-and-southeast-asian-studies>,
yang berdiri sejak 1975, ditutup pada 2005. KITLV <http://www.kitlv.nl/>,
lembaga kiblat studi Indonesia di Belanda sejak seabad lampau, hampir
dibubarkan pada 2011. Sebelumnya anggaran untuk lembaga ini dipotong
besar-besaran (*Tempo,* 14-20 November 2011, hlm. 98-101).

“Yang sebenarnya terjadi adalah pemerintah Belanda mengurangi pendanaan
untuk KITLV. Terutama untuk pengelolaan koleksi perpustakaan mereka.
Koleksinya yang mencakup buku, mikrofilm, dan manuskrip dipindah
pengelolaannya kepada Universitas Leiden. Tapi aktivitas penelitian tetap
berjalan seperti biasa,” ujar Ghamal.
Menguatnya Studi Kawasan

Menurunnya studi Indonesia di kampus-kampus Amerika dan Eropa juga
disebabkan menguatnya pendekatan global dalam ilmu-ilmu sosial-humaniora.
Sekarang masanya melihat region-region dunia sebagai entitas yang saling
terhubung secara politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Kini akademisi tidak
lagi melihat Indonesia sebagai wilayah yang terpisah.

“Southeast Asian studies di masa kini tentu dirasa lebih relevan dibanding
Malaysian atau Indonesian studies karena lebih banyak hal yang bisa
diteliti dalam konteks hubungan, jaringan, atau perbandingan,” kata Tika
Ramadhini, *research fellow* di Leibniz-Zentrum Moderner Orient, Jerman.

Tika, mahasiswa doktoral di Universitas Humboldt Berlin, mengamati kondisi
studi Indonesia di Jerman relatif berbeda dari kampus-kampus di Belanda. Di
Jerman, studi Asia Tenggara baru berkembang pada akhir 1990-an. Karenanya,
menurut Tika, Jerman masih amat potensial sebagai tempat untuk belajar atau
riset tentang Indonesia.

Di Australia pun demikian. Wakil Direktur Monash Asia Institute Ariel
Haryanto malah menjelaskan ada salah kaprah dalam pemahaman orang tentang
studi Asia Tenggara di dunia. Ia mengonfirmasi jumlah mahasiswa yang secara
khusus belajar tentang Asia, termasuk Indonesia, menurun dibandingkan
selama era Perang Dingin. Tetapi penelitian tentang Asia umumnya, atau
khususnya Indonesia, tidak pernah menurun.

“Mungkin malahan bertambah. Jadi, sementara terjadi penurunan pendaftar
perkuliahan khusus tentang Asia atau Indonesia, jumlah penerbitan buku,
artikel di jurnal, dan peserta konferensi yang secara khusus membahas Asia
umumnya, dan Indonesia khususnya, tetap sehat dan bagus,” kata penulis
buku *Identitas
dan Kenikmatan; politik budaya layar Indonesia
<https://arielheryanto.wordpress.com/2016/03/04/resensi-identitas-dan-kenikmatan-politik-budaya-layar-indonesia/>*
(2015).
*Permendagri yang Kontraproduktif*

Di tengah kondisi menurunnya minat terhadap studi Indonesia, keputusan
Kemendagri untuk menerbitkan peraturan No. 3/2018 menjadi keblinger. Jika
salah satu alasan surat izin penelitian untuk mencegah "dampak negatif",
dalih ini sulit dibuktikan.

Ketimbang menerbitkan aturan yang mendukung kemajuan riset di Indonesia,
pemerintah malah mengambil langkah mundur. Meski akhirnya dibatalkan,
tetapi itu hanya sementara. Aturan terkait izin riset di wilayah Indonesia
dikembalikan pada aturan lama, yang mengandung sejumlah masalah.

Ariel Heryanto melihatnya sebagai "kebijakan yang swa-kontradiktif."
Pemerintah ingin peneliti Indonesia mendunia, tetapi pada saat yang sama
ingin mendekam di bawah tempurung. Mengisolasi diri dan menjauh dari
gejolak global.

“Ibaratnya menjalankan mobil dengan satu kaki menggenjot gas, dan pada saat
bersamaan kaki yang lain menggenjot rem!” kata Ariel.

Baca juga:

   -

   Dianggap Mengekang, Permendagri Soal Penelitian Dibatalkan
   
<https://tirto.id/dianggap-mengekang-permendagri-soal-penelitian-dibatalkan-cEog>
   -

   Permendagri Soal SKP yang Baru dan Lama Sama-sama Bermasalah
   
<https://tirto.id/permendagri-soal-skp-yang-baru-dan-lama-sama-sama-bermasalah-cErr>
   -

   Aroma Pengekangan di Permendagri Soal Penelitian, Apa Saja Poinnya?
   
<https://tirto.id/aroma-pengekangan-di-permendagri-soal-penelitian-apa-saja-poinnya-cElB>


Pada kenyataannya surat izin riset tersebut tak banyak gunanya. Ghamal
Satya Mohammad berkata, meski memegang izin riset, hampir-hampir tidak
pernah ada aparat atau warga asli daerah penelitiannya yang meminta surat
itu.

“Saya ketemu camat, misalnya, enggak pernah ditanyai mana surat izin saya,”
ujarnya.

Menurut Norman Joshua, ketimbang menerbitkan kebijakan kontraproduktif,
pemerintah sebaiknya membereskan hambatan struktural dan masalah pendanaan
penelitian di Indonesia. Pasalnya, peneliti-peneliti Indonesia kerap
dihambat oleh ruwetnya akses terhadap sumber.

Untuk riset arsip di Arsip Nasional Republik Indonesia
<http://www.anri.go.id/home>, misalnya, peneliti menghadapi beberapa
kesulitan, dari ketersediaan arsip untuk diakses, larangan memotret dan
menggunakan *scanner*, hingga proses fotokopi yang butuh tiga hari.

Ini berbeda dari model pelayanan riset di Belanda, cerita Norman. Di
Nationaal Archief (NA), sistem order arsip sudah terkomputerisasi dan tak
ada larangan memotret. Di Amerika Serikat ada sistem *Interlibrary Loan *(ILL)
yang memungkinkan periset bisa memesan buku untuk dipinjam dari universitas
lain seperti Cornell atau Yale.

“Padahal, kerap kali koleksi Cornell yang datang dari ILL ini adalah *copy*
dari arsip-arsip yang tersedia di ANRI atau NA Den Haag!” kata awardee
beasiswa Arryman Fellowship tersebut.

Kirim email ke