*Jendderal Klivan (Republika 3/3/2018) menyatakan terdapat 60 juta orang
PKI. Partai politik mana di NKRI yang menpunyai 60 juta anggota? Jika ada
60 juta orang yang bersimpatisan atau anggota PKI, maka tentu ada sesuatu
yang menarik pada PKI dan oleh karena itu jutaan orang bersimpati atau ikut
gerakannya. Jadi kalau begitu mereka yang berteriak tumpas PKI, gebuk PKI
etc itu hanya bagaikan suara kambing mengembik mengikuti suara gembalanya
di padang belantara. Kambing-kambing dan domba-domba itu tidak tahu
apa-apa, hanya ikut mengembik beee bee beee sesuai teriakan gembala mereka.*


http://sp.beritasatu.com/nasional/serangan-ke-ulama-dikaitkan-kebangkitan-pki-polisi-telusuri-jaringan-as/123015

*Serangan ke Ulama Dikaitkan Kebangkitan PKI, Polisi Telusuri Jaringan AS*

Kamis, 1 Maret 2018 | 15:25

[BANDUNG] Polisi masih menelusuri jaringan dan afiliasi AS (Ahyad
Saepulloh), 28 tahun, tersangka penyebar hoax yang memanfaatkan isu
penganiayaan ulama.

Direktur Reserse Kriminal Khusus Kepolisian Daerah Jawa Barat, Komisaris
Besar Samudi menyatakan AS membuat dan menyebarkan postingan mengenai
penganiayaan Kyai Haji Umar Basri dan pembunuhan ustad Prawoto yang
dikaitkan dengan kebangkitan Partai Komunis Indonesia via akun facebook
pribadinya. “Pertama menyebarkan di Facebook,” kata Samudi di Bandung, Rabu
(28/2).

Samudi menjelaskan dari 16 kasus pembuatan dan penyebaran hoax yang
ditelusuri penyidik, hanya ada dua kasus dengan ulama atau tokoh agama
sebagai korbannya. Kasus pertama penganiayaan terhadap pimpinan Pondok
Pesantren Al Hidayah, Kyai Haji Umar Basri pada 27 Januari 2018 dan
penganiayaan terhadap ustad Prawoto yang juga Kepala Operasi Brigade
Persatuan Islam Pusat di Cigondewah Kidul, Bandung pada 1 Februari 2018
lalu. Polisi menyatakan dua pelaku penganiayaan yang berbeda tersebut
adalah orang dengan gangguan kejiwaan.

Samudi memaparkan AS menyebarkan hoax melalui sembilan akun media sosial
miliknya. Polisi mendapatkan laporan mengenai penyebaran hoax tersebut pada
21 Februari 2018 dan menindaklanjutinya lewat unit cyber crime Kepolisian
Daerah Jawa Barat. Mereka mendapatkan akun Facebook atas nama Ugie Khan II,
Ugie Khan, dan Ugikhan1 milik AS.

Berdasarkan profiling dari akun tersebut, polisi mendapati berbagai konten
berisi ujaran kebencian dan penghasutan terkait isu suku, agama, ras, dan
antar golongan.

Dalam kasus penganiayaan Umar Basri, AS membuat tulisan ‘Para bajingan
TENGIK PKI SUDAH MULAI TERANG-TERANGAN…!!! Beliau KH. Umar Basri pengasuh
ponpes al-hidayah, dipukul membabi buta saat sedang BERDZIKIR di tempat
pengimanan…Mohon selalu waspada di setiap daerah karena mereka yang benci
ULAMA sudah berani terang-terangan menyerang Ulama…!!! ‘.

Selain itu ada juga postingannya ‘INALILLAHI Ustadz Jadi Korban lagi…!!!
Ustadz PRAWOTO SANG PENJAGA ULAMA WAFAT DIBUNUH PAKAI LINGGIS…!!! Kemaren
Cicalengka KH. BASRI dipukuli babak belur..! sekarang Cigondewah! Besok
siapa lagi..!!! Para bajingan TENGIK PKI SUDAH MULAI TERANG-TERANGAN..!!!
Mohon selalu waspada di setiap daerah karena mereka yang benci ULAMA sudah
berani terang-terangan menyerang Ulama…!!! ‘.

“Ada juga yang berbunyi ‘Bapak Presiden Jokowi berpesan gebuk PKI, tapi
polisi gebuk warga anti PKI’. Kita lakukan pendalaman dan penangkapan,”
ungkap Samudi sembari menambahkan AS adalah satu dari lima tersangka yang
sudah diumumkan oleh Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Hubungan
Masyarakat Kepolisian RI, Brigadir Jenderal M. Iqbal di Jakarta.

Hingga saat ini, akun-akun Facebook yang dikelola AS itu masih aktif dan
bisa diakses publik. Dari berbagai postingan dan foto yang di-upload-nya,
terlihat AS pernah mengikuti pendidikan dan pelatihan Front Pembela Islam
(FPI) Jawa Barat.

Dia juga mengunggah foto saat mengenakan seragam kemeja tangan panjang
putih, celana panjang putih, sepatu bot putih, dan topi putih. Pada bagian
pundaknya tampak tiga bintang berwarna hijau dengan tulisan LPI di bagian
bawahnya. Selain itu, ada juga potongan pidato Rizieq Shihab terkait
penistaan agama dan penganiayaan tokoh agama pada 21 Februari 2018.

Samudi mengungkapkan pihaknya masih menelusuri apakah AS bekerja sendiri
atau berafiliasi dengan organisasi tertentu. “Ada beberapa barang bukti
handphone yang di-profilling tim cyber,” terang Samudi sembari menambahkan
AS sempat mengaku bekerja sebagai supir harian lepas dan belajar menjadi
guru ngaji.

AS mengaku dirinya tidak memiliki motif apa-apa terkait postingan yang
disebarkannya. Dia memainkan akun media sosial menggunakan handphone yang
dia isi dengan credit Rp40 ribu setiap bulannya.

“Itu dari uang pribadi saya sendiri. Saya hanya upload ulang konten..
Sembilan akun, memang akun pribadi saya, tidak ada yang menyuruh. Akun
pribadi pakai foto pribadi,” kata AS ketika ditanya wartawan.

Meski demikian, AS sempat mengakui jika dirinya merasa sakit hati pada
pemerintah. “Iseng, kesel, sakit hati ke pemerintah. Tidak ada motif.
Ikut-ikutan saja (posting) yang ada di dinding beranda (Facebook),” tambah
AS yang tidak menjawab saat ditanya wartawan apakah dirinya terdaftar
sebagai anggota Front Pembela Islam. [153]

Kirim email ke