Kl tidak salah si zeiin  pada waktu demo ramai-rami pernah ditangkap, sekarang 
kok malah sempat ngoceh lagi

From: [email protected] [mailto:[email protected]]
Sent: Monday, March 05, 2018 1:44 PM
To: Yahoo! Inc. <[email protected]>; Jaringan Kerja 
Indonesia <[email protected]>; Gelora 45 
<[email protected]>; Sastra Pembebasan 
<[email protected]>; Yahoo! Inc. 
<[email protected]>; Yahoo! Inc. <[email protected]>; 
DISKUSI FORUM HLD <[email protected]>
Subject: [**EXTERNAL**] Fw: #sastra-pembebasan# Re: [GELORA45] Serangan ke 
Ulama Dikaitkan Kebangkitan PKI, Polisi Telusuri Jaringan AS


Kivlan Zein, makin ketakutan. Dia takut pada bayangannya sendiri. Selama ada 
rakyat miskin di Indonesia, selama itu kemungkinan PKI akan bangkit, masih 
tetap ada. Sebab PKI itu lawan dari kemiskinan. Jadi, kalau mau menghilangkan 
PKI di Indonesia, hilangkanlah kesmiskinan terlebih dahu.


----- Pesan yang Diteruskan -----
Dari: 'Chan CT' [email protected]<mailto:[email protected]> 
[sastra-pembebasan] 
<[email protected]<mailto:[email protected]>>
Kepada: "[email protected]<mailto:[email protected]>" 
<[email protected]<mailto:[email protected]>>; Sunny ambon 
<[email protected]<mailto:[email protected]>>
Terkirim: Senin, 5 Maret 2018 02.58.21 GMT+1
Judul: #sastra-pembebasan# Re: [GELORA45] Serangan ke Ulama Dikaitkan 
Kebangkitan PKI, Polisi Telusuri Jaringan AS


Jangankan 60 juta anggota PKI, dahulu sebelum PKI dibubarkan 12 Maret 1966 saja 
anggotanya hanya 3 juta, bagaimana bisa PKI setelah dibubarkan dan dikubur bisa 
tumbuh berkembang menjadi 60 juta? Sungguh TIDAK MASUK AKAL, ...!

Bahkan kalau BERANI menyatakan massa yang BERSIMPATI apalagi MENDUKUNG PKI yang 
sedang bangkit kembali saja, sadar atau tidak, jenderal Kivlan (lihat: 
https://groups.yahoo.com/neo/groups/GELORA45/conversations/messages/223958 ) 
sudah MEMBENARKAN kenyataan ada 3 kelompok NASAKOM, (Nasionalis, Agama dan 
KOMUNIS) dalam masyarakat Indonesia sebagaimana sudah dicetuskan Bung Karno 
ditahun 1926! Itulah KENENARAN dan KENYATAAN yang tidak bisa dipungkiri lagi 
dan juga membuktikan KESALAHAN BESAR jenderal Suharto yang menjalankan politik 
anti-KOMUNIS dan begitu kejamnya meembantai lebih 3 juta warga hanya dituduh 
komunis dan TANPA lebih dahulu membuktikan apa dan dimana dosanya melalui 
proses HUKUM! Kenyataan yang terjadi, sekalipun sudah 3 juta orang di bantai, 
PKI dikuburkan, bukan MATI!!! Sebaliknya PKI tumbuh berkembang dengan lebih 
dahsyat, ... lebih 1/2 abad dari dalam kubur PKI TETAP bisa kembangkan pengaruh 
dan BERHASIL menarik simpatisan sampai 60 juta orang! Kenyataan yang terjadi, 
PKI makin diTINDAS, makin di BASMI, malah makin TUMBUH/BERKEMBANG lebih cepat, 
...! Hahahaa, .... ketemu SETAN PKI!

Salam,
ChanCT


From: Sunny ambon [email protected]<mailto:[email protected]> [GELORA45]
Sent: Monday, March 5, 2018 1:36 AM
To: undisclosed-recipients:
Subject: [GELORA45] Serangan ke Ulama Dikaitkan Kebangkitan PKI, Polisi 
Telusuri Jaringan AS





Jendderal Klivan (Republika 3/3/2018) menyatakan terdapat 60 juta orang PKI. 
Partai politik mana di NKRI yang menpunyai 60 juta anggota? Jika ada 60 juta 
orang yang bersimpatisan atau anggota PKI, maka tentu ada sesuatu yang menarik 
pada PKI dan oleh karena itu jutaan orang bersimpati atau ikut gerakannya. Jadi 
kalau begitu mereka yang berteriak tumpas PKI, gebuk PKI etc itu hanya bagaikan 
suara kambing mengembik mengikuti suara gembalanya di padang belantara. 
Kambing-kambing dan domba-domba itu tidak tahu apa-apa, hanya ikut mengembik 
beee bee beee sesuai teriakan gembala mereka.



http://sp.beritasatu.com/nasional/serangan-ke-ulama-dikaitkan-kebangkitan-pki-polisi-telusuri-jaringan-as/123015<%5b**Malicious%20URL%20Removed**%5d>

Serangan ke Ulama Dikaitkan Kebangkitan PKI, Polisi Telusuri Jaringan AS

Kamis, 1 Maret 2018 | 15:25

[BANDUNG] Polisi masih menelusuri jaringan dan afiliasi AS (Ahyad Saepulloh), 
28 tahun, tersangka penyebar hoax yang memanfaatkan isu penganiayaan ulama.

Direktur Reserse Kriminal Khusus Kepolisian Daerah Jawa Barat, Komisaris Besar 
Samudi menyatakan AS membuat dan menyebarkan postingan mengenai penganiayaan 
Kyai Haji Umar Basri dan pembunuhan ustad Prawoto yang dikaitkan dengan 
kebangkitan Partai Komunis Indonesia via akun facebook pribadinya. “Pertama 
menyebarkan di Facebook,” kata Samudi di Bandung, Rabu (28/2).

Samudi menjelaskan dari 16 kasus pembuatan dan penyebaran hoax yang ditelusuri 
penyidik, hanya ada dua kasus dengan ulama atau tokoh agama sebagai korbannya. 
Kasus pertama penganiayaan terhadap pimpinan Pondok Pesantren Al Hidayah, Kyai 
Haji Umar Basri pada 27 Januari 2018 dan penganiayaan terhadap ustad Prawoto 
yang juga Kepala Operasi Brigade Persatuan Islam Pusat di Cigondewah Kidul, 
Bandung pada 1 Februari 2018 lalu. Polisi menyatakan dua pelaku penganiayaan 
yang berbeda tersebut adalah orang dengan gangguan kejiwaan.

Samudi memaparkan AS menyebarkan hoax melalui sembilan akun media sosial 
miliknya. Polisi mendapatkan laporan mengenai penyebaran hoax tersebut pada 21 
Februari 2018 dan menindaklanjutinya lewat unit cyber crime Kepolisian Daerah 
Jawa Barat. Mereka mendapatkan akun Facebook atas nama Ugie Khan II, Ugie Khan, 
dan Ugikhan1 milik AS.

Berdasarkan profiling dari akun tersebut, polisi mendapati berbagai konten 
berisi ujaran kebencian dan penghasutan terkait isu suku, agama, ras, dan antar 
golongan.

Dalam kasus penganiayaan Umar Basri, AS membuat tulisan ‘Para bajingan TENGIK 
PKI SUDAH MULAI TERANG-TERANGAN…!!! Beliau KH. Umar Basri pengasuh ponpes 
al-hidayah, dipukul membabi buta saat sedang BERDZIKIR di tempat 
pengimanan…Mohon selalu waspada di setiap daerah karena mereka yang benci ULAMA 
sudah berani terang-terangan menyerang Ulama…!!! ‘.

Selain itu ada juga postingannya ‘INALILLAHI Ustadz Jadi Korban lagi…!!! Ustadz 
PRAWOTO SANG PENJAGA ULAMA WAFAT DIBUNUH PAKAI LINGGIS…!!! Kemaren Cicalengka 
KH. BASRI dipukuli babak belur..! sekarang Cigondewah! Besok siapa lagi..!!! 
Para bajingan TENGIK PKI SUDAH MULAI TERANG-TERANGAN..!!! Mohon selalu waspada 
di setiap daerah karena mereka yang benci ULAMA sudah berani terang-terangan 
menyerang Ulama…!!! ‘.

“Ada juga yang berbunyi ‘Bapak Presiden Jokowi berpesan gebuk PKI, tapi polisi 
gebuk warga anti PKI’. Kita lakukan pendalaman dan penangkapan,” ungkap Samudi 
sembari menambahkan AS adalah satu dari lima tersangka yang sudah diumumkan 
oleh Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Hubungan Masyarakat Kepolisian 
RI, Brigadir Jenderal M. Iqbal di Jakarta.

Hingga saat ini, akun-akun Facebook yang dikelola AS itu masih aktif dan bisa 
diakses publik. Dari berbagai postingan dan foto yang di-upload-nya, terlihat 
AS pernah mengikuti pendidikan dan pelatihan Front Pembela Islam (FPI) Jawa 
Barat.

Dia juga mengunggah foto saat mengenakan seragam kemeja tangan panjang putih, 
celana panjang putih, sepatu bot putih, dan topi putih. Pada bagian pundaknya 
tampak tiga bintang berwarna hijau dengan tulisan LPI di bagian bawahnya. 
Selain itu, ada juga potongan pidato Rizieq Shihab terkait penistaan agama dan 
penganiayaan tokoh agama pada 21 Februari 2018.

Samudi mengungkapkan pihaknya masih menelusuri apakah AS bekerja sendiri atau 
berafiliasi dengan organisasi tertentu. “Ada beberapa barang bukti handphone 
yang di-profilling tim cyber,” terang Samudi sembari menambahkan AS sempat 
mengaku bekerja sebagai supir harian lepas dan belajar menjadi guru ngaji.

AS mengaku dirinya tidak memiliki motif apa-apa terkait postingan yang 
disebarkannya. Dia memainkan akun media sosial menggunakan handphone yang dia 
isi dengan credit Rp40 ribu setiap bulannya.

“Itu dari uang pribadi saya sendiri. Saya hanya upload ulang konten. Sembilan 
akun, memang akun pribadi saya, tidak ada yang menyuruh. Akun pribadi pakai 
foto pribadi,” kata AS ketika ditanya wartawan.

Meski demikian, AS sempat mengakui jika dirinya merasa sakit hati pada 
pemerintah. “Iseng, kesel, sakit hati ke pemerintah. Tidak ada motif. 
Ikut-ikutan saja (posting) yang ada di dinding beranda (Facebook),” tambah AS 
yang tidak menjawab saat ditanya wartawan apakah dirinya terdaftar sebagai 
anggota Front Pembela Islam. [153]






Kirim email ke