From: 'j.gedearka' [email protected] [GELORA45] 
Sent: Tuesday, March 6, 2018 3:55 AM



Parpol Keluhkan Banyak Politikus,Perempuan Tak Mau Jadi Caleg 2019

https://tirto.id/parpol-keluhkan-banyak-politikus-perempuan-tak-mau-jadi-caleg-2019


 


 (Ilustrasi) Ketua Umum PSI Grace Natalie (kiri) bersama Calon Legislatif 
(Caleg) PSI Eksternal Tsamara Amany (kanan) menunjukkan formulir pendaftaran 
Tsamara Amany sebagai Caleg PSI di Kantor DPP PSI, Tanah Abang, Jakarta, Kamis 
(26/10/2017). ANTARA FOTO/Aprillio Akbar 
0 Shares 
Reporter: antara 
05 Maret, 2018 dibaca normal 0:30 menit 
  a.. "Ketika ditawari maju lagi mereka tidak mau karena kapok di 2014," kata 
Hetifah 
Hetifah menjelaskan, apabila ada dua kandidat laki-laki dan perempuan sama-sama 
maju, maka pemilih akan menjatuhkan pilihannya kepada politikus laki-laki. 
Padahal, keduanya memiliki kualitas yang sama. 

tirto.id - Rata-rata partai politik di Indonesia mengeluh soal kurangnya minat 
politikus perempuan yang ingin maju menjadi bakal calon anggota legislatif di 
Pemilihan Umum 2019.

Politikus Partai Golkar Hetifah Sjaifudian, mengatakan kader perempuan di 
partainya banyak yang tak mau mencalonkan kembali karena trauma dengan 
kegagalan di Pemilu 2014. 

"Kader kami banyak yang bagus dan berpengalaman, tapi ketika ditawari maju lagi 
mereka tidak mau karena kapok di 2014," kata Hetifah di Jakarta, Senin 
(5/3/2018).

Dalam kasus lain, kata Hetifah, banyak pemilih yang lebih percaya kepada 
politikus laki-laki daripada perempuan. 

Ia menjelaskan, apabila ada dua kandidat laki-laki dan perempuan sama-sama 
maju, maka pemilih akan menjatuhkan pilihannya kepada politikus laki-laki. 
Padahal, keduanya memiliki kualitas yang sama. 

Senada dengan Hetifah, Ketua Badan Pemberdayaan Perempuan DPP PAN Euis Fatayaty 
mengatakan pada Pemilu 2014 lalu, kader-kader perempuan PAN masih banyak yang 
bersemangat maju dalam pemilihan legislatif. Sementara di Pemilu 2019, hal itu 
akan jauh lebih berat. 

"Oleh karena itu, saya bertugas menyemangati mereka supaya jangan keluar dari 
partai dan kembali mencalonkan," kata dia menjelaskan.

Dalam laporan Global Gender Gap dari Forum Ekonomi Dunia Tahun 2017, Indonesia 
berada di peringkat ke-63 dari 144 negara dalam hal kemajuan untuk mengurangi 
kesenjangan gender di bidang politik.

Terkait upaya mengurangi kesenjangan gender dalam politik di Indonesia, 
pemerintah, DPR, lembaga penyelenggara dan pegiat pemilu telah membuat 
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu, yang mengatur keterwakilan 
perempuan sedikitnya 30 persen di setiap daerah pemilihan. 

Baca juga artikel terkait PILPRES 2019 atau tulisan menarik lainnya Alexander 
Haryanto 

(tirto.id - ale/ale) 








Kirim email ke