https://tirto.id/parpol-keluhkan-banyak-politikus-perempuan-tak-mau-jadi-
caleg-2019-cFHE
<https://tirto.id/q/politik-bpt>
Parpol Keluhkan Banyak Politikus
Perempuan Tak Mau Jadi Caleg 2019
Parpol Keluhkan Banyak Politikus Perempuan Tak Mau Jadi Caleg 2019
(Ilustrasi) Ketua Umum PSI Grace Natalie (kiri) bersama Calon Legislatif
(Caleg) PSI Eksternal Tsamara Amany (kanan) menunjukkan formulir
pendaftaran Tsamara Amany sebagai Caleg PSI di Kantor DPP PSI, Tanah
Abang, Jakarta, Kamis (26/10/2017). ANTARA FOTO/Aprillio Akbar
0 Shares
<mailto:?subject=Parpol%20Keluhkan%20Banyak%20Politikus%20Perempuan%20Tak%20Mau%20Jadi%20Caleg%202019&body=https://tirto.id:443/parpol-keluhkan-banyak-politikus-perempuan-tak-mau-jadi-caleg-2019-cFHE>
Reporter: antara
05 Maret, 2018 /dibaca normal 0:30 menit /
* "Ketika ditawari maju lagi mereka tidak mau karena kapok di 2014,"
kata Hetifah
/Hetifah menjelaskan, apabila ada dua kandidat laki-laki dan perempuan
sama-sama maju, maka pemilih akan menjatuhkan pilihannya kepada
politikus laki-laki. Padahal, keduanya memiliki kualitas yang sama./
*tirto.id <https://tirto.id?utm_source=internal&utm_medium=Article> - *
Rata-rata partai politik di Indonesia mengeluh soal kurangnya minat
politikus perempuan yang ingin maju menjadi bakal calon anggota
legislatif di Pemilihan Umum 2019.
Politikus Partai Golkar Hetifah Sjaifudian, mengatakan kader perempuan
di partainya banyak yang tak mau mencalonkan kembali karena trauma
dengan kegagalan di Pemilu 2014.
"Kader kami banyak yang bagus dan berpengalaman, tapi ketika ditawari
maju lagi mereka tidak mau karena kapok di 2014," kata Hetifah di
Jakarta, Senin (5/3/2018).
Dalam kasus lain, kata Hetifah, banyak pemilih yang lebih percaya kepada
politikus laki-laki daripada perempuan.
Ia menjelaskan, apabila ada dua kandidat laki-laki dan perempuan
sama-sama maju, maka pemilih akan menjatuhkan pilihannya kepada
politikus laki-laki. Padahal, keduanya memiliki kualitas yang sama.
Senada dengan Hetifah, Ketua Badan Pemberdayaan Perempuan DPP PAN Euis
Fatayaty mengatakan pada Pemilu 2014 lalu, kader-kader perempuan PAN
masih banyak yang bersemangat maju dalam pemilihan legislatif. Sementara
di Pemilu 2019, hal itu akan jauh lebih berat.
"Oleh karena itu, saya bertugas menyemangati mereka supaya jangan keluar
dari partai dan kembali mencalonkan," kata dia menjelaskan.
Dalam laporan Global Gender Gap dari Forum Ekonomi Dunia Tahun 2017,
Indonesia berada di peringkat ke-63 dari 144 negara dalam hal kemajuan
untuk mengurangi kesenjangan gender di bidang politik.
Terkait upaya mengurangi kesenjangan gender dalam politik di Indonesia,
pemerintah, DPR, lembaga penyelenggara dan pegiat pemilu telah membuat
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu, yang mengatur
keterwakilan perempuan sedikitnya 30 persen di setiap daerah pemilihan.
Baca juga artikel terkait PILPRES 2019
<https://tirto.id/q/pilpres-2019-c2Z?utm_source=internal&utm_medium=lowkeyword>
atau tulisan menarik lainnya Alexander Haryanto
<https://tirto.id/author/alexander?utm_source=internal&utm_medium=lowauthor>
(tirto.id - ale/ale)