Suku Mosuo tidak menjalani pernikahan seperti masyarakat pada umumnya. Mereka 
bebas untuk tidur dengan pria manapun yang diinginkan, tanpa ada ikatan 
pernikahan. Perempuan di suku ini akan mendapatkan kamar tidurnya sendiri 
begitu ia dianggap sudah dewasa secara seksual dan diperbolehkan untuk 
mengundang pria yang disenangi untuk tidur dengan mereka.

Pria yang mengunjungi dan tidur dengan seorang perempuan harus meletakkan topi 
di pegangan pintu tempat perempuan tersebut tinggal, sebagai tanda bagi pria 
lain agar tidak masuk. Kegiatan ini disebut dengan axia.
....08 Mar 2018 10:11
Suku di Tiongkok Ini Bebas Tiduri Pria Manapun


| 
| 
| 
|  |  |

 |

 |
| 
|  | 
Suku di Tiongkok Ini Bebas Tiduri Pria Manapun | manadopostonline.com

Manado Post

DI dunia ini terdapat banyak suku yang menerapkan tradisi seksual yang ‘aneh’. 
Salah satu suku dengan budaya sek...
 |

 |

 |



SUKU Mosuo di propinsi Yunnan dan Sinchuan, Tiongkok, menerapkan pola matriarki 
atau dominasi perempuan dalam memimpin dengan sistem otoritas yang diturunkan 
dari pihak perempuan. Foto: Flickr/Fred Bloggs


DI dunia ini terdapat banyak suku yang menerapkan tradisi seksual yang ‘aneh’. 
Salah satu suku dengan budaya seks yang ekstrem yaitu suku Mosuo yang mendiami 
propinsi Yunnan dan Sinchuan, Tiongkok.

Suku Mosuo tidak menjalani pernikahan seperti masyarakat pada umumnya. Mereka 
bebas untuk tidur dengan pria manapun yang diinginkan, tanpa ada ikatan 
pernikahan. Perempuan di suku ini akan mendapatkan kamar tidurnya sendiri 
begitu ia dianggap sudah dewasa secara seksual dan diperbolehkan untuk 
mengundang pria yang disenangi untuk tidur dengan mereka.

Pria yang mengunjungi dan tidur dengan seorang perempuan harus meletakkan topi 
di pegangan pintu tempat perempuan tersebut tinggal, sebagai tanda bagi pria 
lain agar tidak masuk. Kegiatan ini disebut dengan axia.

Axia bisa berlangsung pada satu malam atau bahkan lebih, sehingga bisa menjadi 
cara mendapatkan keturunan bagi perempuan suku Mosuo. Hal ini disebut dengan 
'pernikahan berjalan'. Anak yang lahir dari pernikahan berjalan akan diasuh 
oleh ibunya dengan bantuan saudara kandungnya.

Suku ini diketahui menerapkan pola matriarki atau dominasi perempuan dalam 
memimpin dengan sistem otoritas yang diturunkan dari pihak perempuan. Suku yang 
tinggal di tepi Danau Luga itu merupakan sebuah komunitas suku kuno dari umat 
Buddha Tibet. Mereka hidup dengan persamaan gender, para perempuan memiliki 
kesempatan untuk memilih pasangan seksualnya, bekerja, memiliki anak, 
menentukan pilihan hidup, hingga merawat orang tua.

Perempuan dari suku ini juga boleh memiliki dan mewarisi properti, bertani, 
mengurus rumah tangga, seperti memasak, membersihkan rumah, dan mengasuh anak. 
Bahkan, mereka juga dapat melakukan pekerjaan pria, seperti membangun dan 
memperbaiki rumah, membajak, serta membuat keputusan besar dalam 
keluarga.(kmp/tan)

Kirim email ke