----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: 'Chan CT' [email protected] 
[sastra-pembebasan] <[email protected]>Kepada: GELORA_In 
<[email protected]>Terkirim: Jumat, 9 Maret 2018 03.40.43 GMT+1Judul: 
#sastra-pembebasan# Fw: [GELORA45] Dialita
     

  From: Tom Iljas [email protected] [GELORA45] Sent: Friday, March 9, 2018 3:24 
AM  

     Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional 8 Maret saya 
tergerak memperkenalkan Dialita, paduan suara yang terdiri dari ibu2 diatas 
limapuluh tahun, dengan cara menulis ulang Kata Pengantar dari salah satu album 
mereka: 
  Kata pengantar album:  "Kisah Kasih Dialita" 
     Menyanyi adalah pesan dari jiwa merdeka untuk menyampaikan kehidupan lewat 
nada dan suara. Itulah pesan yang ingin digetarkan oleh ibu2 paduan suara 
Dialita tentang sejarah yang digelapkan dan dibungkam lewat nyanyian. Ibu2 
Dialita ingin menyampaikan pengalaman tentang sejarah hidup yang mereka alami 
sesudah tragedi kekerasan secara struktural yang dilakukan oleh pemerintah Orde 
Baru pada tahun 1965. Bagaimana pada saat itu, ibu, bapak, kakak, paman, bibi, 
nenek dan kakek mereka hilang, dibunuh, ditahan ber-tahun2 bahkan tidak pernah 
kembali. Bagaimana mereka harus berlindung dan bertahan dari diskriminasi dan 
kebencian yang dilekatkan kepada setiap keluarga yang dituduh tersangkut 
peristiwa G30S/65 di masyarakat. Mereka dikucilkan secara sosial dan politik di 
Indonesia, karena dituduh terlibat dalam peristiwa tragedi tersebut. Ini adalah 
bencana kehidupan. Siapa yang peduli pada kehidupan dan trauma yang muncul 
akibat diskriminasi? Tragedi 1965 dan tragedi2 kekerasan lainnya yang terjadi 
di bumi pertiwi telah mengubah perjalanan hidup keluarga Indonesia sebagai 
manusia, bangsa dan warga Indonesia.     Bernyanyi, berkumpul, bercerita dan 
berbagi pengalaman dalam bertahan hidup, adalah cara mereka, para keluarga 
penyintas/survivor untuk merawat harapan. Lewat bernyanyi, mereka berbagi kisah 
hidup, trauma sekaligus semangat untuk hidup. Dari saling menguatkan untuk 
bertahan,  mereka memutuskan untuk membentuk sebuah paduan suara, ya ng 
kemudian diberi nama Dialita, singkatan dari Di Atas Lima Puluh Tahun, seperti 
umur kebanyakan anggotanya. Dialita ingin mengumandangkan suara kehidupan lewat 
lagu2 dari sebuah jaman yang dihilangkan dari perjalanan hidup bangsa kita. 
Musik sebagai pesan dan salam persahabatan, perdamaian, dan rekonsiliasi untuk 
keadilan.     Pada awalnya para biduanita Dialita adalah bagian dari "Keluarga 
Dalam Sejarah 65" (KDS 65), para keluarga penyintas tragedi peristiwa 1965, 
terdiri dari anak2 yang ketika tragedi 1965 terjadi harus berpisah dengan orang 
tua dan keluarga. Orang tua mereka ditahan di kamp2 kerja paksa di Pulau Buru 
dan Plantungan, serta rumah2 tahanan yang tersebar di Jawa dan di pulau2 
Indonesia lainnya. Termasuk dalam kelompok tahanan ini adalah ibu2 yang pada 
tahun 1965 masih remaja putri dan ikut aktif bekerja sebagai guru pemberantasan 
buta huruf. Mereka pun turut berjuang untuk kemerdekaan Indonesia, menyuarakan 
anti-poligami, anti perkawinan usia dini, anti diskriminasi, dan anti 
kolonialisme. Lalu tiba2 mereka diambil dari rumah dan keluarga kemudian 
ditahan di kamp kerja paksa untuk perempuan di Plantungan. Dalam perjalanannya 
banyak kaum muda yang bergabung di kelompok paduan suara ini, karena bersimpati 
pada perjuangan dan semangat Dialita dalam merajut hidup. Proses kreatif 
Dialita didampingi oleh pelatih vokal, arranger dan conductor, Bapak Martin 
Lampanguli dan Bapak Harry Ashari serta diiringi musik oleh pianis,Guantara K. 
Atmodjo.     Pilihan lagu yang dinyanyikan Dialita adalah lagu2 bersejarah. 
Getaran syair kehidupan dari lagu yang dinyanyikan, berisi pujaan kepada 
tanahair Indonesia, kerinduan seorang Ibu di dalam kamp pada anak2 yang mereka 
tinggalkan. Seperti lagu "Taman Bunga Plantungan" karya Ibu Nungtjik ketika 
dipenjara di kamp Plantungan, lagu "Salam Harapan" karya Ibu Murtiningrum dan 
Nungtjik, lagu "Untuk Anakku" karya Ibu Heryani Busono, dan lagu "Ujian" yang 
ditulis oleh Ibu Jus Djubariah. Dua komponis besar Indonesia yang dilupakan 
oleh sejarah, Sudharnoto dan Subronto K. Atmodjo, mencipta dan menggubah lagu2 
dari kamp kerja paksa di Pulau Buru. Dari penjara Salemba, Koesalah Subagia 
Toer, Bachtiar Siagian, dan Putu Oka Sukanta menulis nyanyian kehidupan. Lagu2 
ini adalah simbol perjuangan merawat dan menjaga harapan untuk hidup, meskipun 
dalam situasi yang sangat sulit. Ada jiwa dan semangat yang terkandung dalam 
lagu2 ini, yang membangkitkan daya untuk tetap berkarya bagi kemanusiaan. Lagu2 
tersebut digubah dan direkam oleh musisi2 muda untuk mengingatkan kita atas 
sejarah kekerasan yang hilang sehingga peristiwa tersebut tak akan terulang 
kembali di kehidupan siapapun di muka bumi.     

Kirim email ke