https://news.detik.com/kolom/d-3918261/nyepi-toleransi-konkret-ala-bali?
_ga=2.74493202.1061177273.1521225277-1325767908.1521225277
Jumat 16 Maret 2018, 11:45 WIB
Kolom
Nyepi, Toleransi Konkret ala Bali
Dede Solehudin - detikNews
<https://connect.detik.com/dashboard/public/deshols>
Dede Solehudin, SE <https://connect.detik.com/dashboard/public/deshols>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-3918261/nyepi-toleransi-konkret-ala-bali?_ga=2.74493202.1061177273.1521225277-1325767908.1521225277#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-3918261/nyepi-toleransi-konkret-ala-bali?_ga=2.74493202.1061177273.1521225277-1325767908.1521225277#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-3918261/nyepi-toleransi-konkret-ala-bali?_ga=2.74493202.1061177273.1521225277-1325767908.1521225277#>
13 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-3918261/nyepi-toleransi-konkret-ala-bali?_ga=2.74493202.1061177273.1521225277-1325767908.1521225277#>
Nyepi, Toleransi Konkret ala Bali Ilustrasi: Zaki Alfarabi/detikcom
<https://news.detik.com/kolom/d-3918261/nyepi-toleransi-konkret-ala-bali?_ga=2.74493202.1061177273.1521225277-1325767908.1521225277#>
<https://news.detik.com/kolom/d-3918261/nyepi-toleransi-konkret-ala-bali?_ga=2.74493202.1061177273.1521225277-1325767908.1521225277#>
<https://news.detik.com/kolom/d-3918261/nyepi-toleransi-konkret-ala-bali?_ga=2.74493202.1061177273.1521225277-1325767908.1521225277#>
<https://news.detik.com/kolom/d-3918261/nyepi-toleransi-konkret-ala-bali?_ga=2.74493202.1061177273.1521225277-1325767908.1521225277#>
*Jakarta* -
Terdapat sebuah perbedaan yang sangat kontras antara perayaan Tahun Baru
Masehi dengan Tahun Baru Caka yang terjadi di Bali. Ketika Tahun Baru
masehi disambut dengan berbagai acara gegap gempita, hingar bingar,
pesta pora dan segala sesuatu yang bersifat menyenangkan, beda halnya
dengan pergantian Tahun Caka di Bali. Masyarakat Bali menyambut
datangnya Tahun Baru Caka dengan cara yang lebih individual dan bersifat
ritual budaya. Ritual budaya yang diselimuti dengan kedamaian, sepi dan
ketenangan, hening dan cenderung menghindari keramaian. Ritual budaya
ini dikenal dengan nama Nyepi. Kenapa dinamakan Nyepi?
Secara faktual memang ritual ini dilakukan dengan cara menepikan diri
dari segala aktivitas keduniawian yang oleh masyarakat Bali dikenal
dengan istilah Catur Brata atau empat pantangan. Catur Brata ini
meliputi Amati Geni, Amati Karya, Amati Lelanguan, dan Amati Lelungaan.
Memang betul keempat pantangan ini bersifat keduniawian karena pada saat
Nyepi, masyarakat Bali tidak menyalakan api atau sesuatu yang bersifat
terang dan menerangi. Kawan saya mengatakan bahwa pantangan ini lebih
bersifat simbolis untuk tidak boleh marah atau harus bisa mengendalikan
amarah.
Pantangan selanjutnya adalah tidak melakukan pekerjaan dan tidak
melakukan kesenangan. Selanjutnya adalah pantangan untuk tidak
berpergian. Keempat pantangan ini harus dilakukan dalam satu hari penuh
Nyepi yang dimulai dari pukul 6 pagi sampai 6 pagi keesokan harinya,
selama 24 jam. Saya tidak akan membahas tentang substansi Nyepi dari
kacamata ritual masyarakat Bali, namun akan melihatnya dari sisi
toleransi sebagai bagian identitas sikap unik bangsa Indonesia.
*Nyepi Sebagai Aset*
Hari Raya nyepi terjadi sekali dalam setahun berdasarkan perhitungan
kalender Bali. Dan, Nyepi hanya ada di Bali. Meski yang melakukan Catur
Brata penyepian adalah kawan kita yang beragama Hindu, namun Nyepi
bukanlah bentuk ritual ibadah umat Hindu. Atas hal ini bisa dibandingkan
dengan ritual keagamaan Hindu yang terjadi di India atau belahan dunia
lainnya. Bali yang unik memiliki tradisi unik pula. Keunikan inilah yang
menjadi salah satu daya tarik wisata khususnya /traveler/ dari luar negeri.
Mungkin ada ketertarikan yang berbeda antara /traveler/ domestik dengan
turis mancanegara. Jika wisatawan domestik melihat Bali sebagai tempat
wisata yang dipenuhi dengan pantai dan pemandangan alam yang indah,
wisatawan manca negara melihat bahwa Bali memiliki keunikan sebagai
pusat budaya dan tradisi yang unik sebagai /intangible asse/t.
Kembali kepada Nyepi. Ketika di belahan bumi lain masih selalu
mempermasalahkan toleransi, maka di Bali sudah berjalan sampai sekarang.
Toleransi yang ditunjukkan masyarakat Bali baik itu pendatang maupun
masyarakat lokal bisa dijadikan sebagai contoh positif. Ketika
masyarakat lokal Bali melakukan Catur Brata penyepian selama 24 jam,
warga Bali yang notabene pendatang atau bahkan sudah turun temurun lahir
dan besar di Bali lainnya ikut terbawa suasana.
Sebagian yang ingin menikmati Bali yang segar dan jauh dari polusi udara
dan suara akan tetap tinggal di Bali. Menghabiskan waktu di dalam rumah,
ngobrol dengan anggota keluarga atau melakukan aktivitas di dalam rumah
yang sifatnya tidak mengganggu masyarakat yang sedang melakukan Catur
Brata penyepian. Namun bagi mereka yang tidak suka dengan suasana sepi,
gelap, dan hening tentu memilih untuk keluar dari Bali dalam rangka liburan.
*Toleransi Timbal Balik*
Pengalaman pribadi, ketika masyarakat lokal Bali melakukan Catur Brata
penyepian, kami melakukan bersih-bersih rumah, menata rumah begitu rupa
hingga terlihat rapi dan sesuai yang kami inginkan. Ngobrol ke sana
kemari tanpa takut diganggu bunyi televisi dan suara dering telepon.
Saya bisa mengajari anak-anak untuk membuat origami, menggambar pantai
dan pegunungan, dan bisa meninabobokkan anak-anak tanpa harus nonton
televisi terlebih dahulu. Semua dilakukan tanpa paksaan. Semua berjalan
biasa-biasa saja seolah berjalan normal, dan memang normal.
Apalagi Nyepi tahun ini, keputusan Gubernur Bali salah satunya adalah
imbauan kepada /provider/ internet agar bisa mematikan jaringannya
selama Nyepi. Hmmm….pasti ini akan lebih sepi dan tenang lagi. Pasti
semua anggota keluarga tidak akan sibuk memegang /gadget/ lagi. Para
/gamer online/ akan istirahat, para medsos /aholic/ akan /off/ untuk
sementara waktu, dan kesempatan ini bisa dijadikan momentum berharga
bagi orangtua yang setiap hari sibuk di luar rumah dan merasa susah
untuk ngobrol dan berdiskusi dengan anggota keluarga. Atau, dengan kata
lain ini adalah kesempatan untuk /quality time/ bersama keluarga yang
dilakukan di dalam rumah.
Karena salah satu pantangan Nyepi adalah tidak boleh berpergian, maka
jalanan akan kosong, tak ada mobil dan kendaraan lain yang lewat. Semua
jalan istirahat. Semua kendaraan istirahat. Tapi tentu saja ada
pengecualian bagi sesuatu yang bersifat /emergency/, misal ambulans atau
kendaraan yang membawa orang sakit yang sifatnya urgen berkaitan dengan
jiwa seseorang. Semua lingkungan diawasi oleh para pecalang atau satuan
pengamanan adat. Pecalang akan selalu mengawasi lingkungannya selama 24
jam. Berkeliling ke tiap gang atau jalan kampung untuk memastikan tidak
terjadi pelanggaran yang sifatnya bisa mengganggu jalannya Catur Brata
penyepian.
Namun ada satu toleransi balasan dari masyarakat lokal Bali bagi umat
Islam atau agama lain untuk melakukan ibadahnya. Misal, kami sebagai
umat Islam tetap diperbolehkan untuk pergi ke mesjid untuk menunaikan
salat. Kami juga memperlihatkan toleransi balasan, di mesjid kami tidak
menggunakan pengeras suara atau menyalakan lampu. Salat lebih khusuk
dalam kondisi hening, lebih tenang, dan konsentrasi. Jadi toleransi
dalam menjalankan agama, kepercayaan dan tradisi sudah mengakar di
masyarakat Bali, baik masyarakat lokal maupun pendatang.
*Mematikan Internet*
Sesuatu yang menarik akan terjadi pada nyepi tahun ini ketika jaringan
internet akan dimatikan selama Nyepi. Diskusi di media sosial begitu
riuh, ramai. Satu pihak menolak akan kebijakan tersebut karena
beranggapan bahwa pelaksanaan Nyepi tidak ada kaitannya dengan internet.
Namun di pihak lain menganggap bahwa dengan adanya internet, kekhusyukan
Nyepi akan terganggu. Mereka yang kontra akan kebijakan itu sebagian
memiliki argumen bahwa jika jaringan internet dimatikan maka akan ada
risiko pada kualitas layanan di fasilitas kesehatan terutama rumah
sakit, industri keuangan (bank), perdagangan /online/ dan akomodasi
pariwisata.
Internet memang sudah menjadi sebuah keniscayaan bagi terciptanya
informasi yang cepat dan efisien. Internet sangat penting bagi informasi
kesehatan rumah sakit, transaksi virtual perbankan, industri pariwisata
dan bahkan jual beli berbasis /online/ yang dijalankan secara
perorangan. Tentu pro dan kontra ini menjadi pertimbangan sekaligus PR
bagi pengambil keputusan di Bali, terutama bagi Pemerintah Provinsi Bali.
Bahkan ada beberapa /posting/-an yang menganggap kebijakan ini dianggap
berlebihan karena bisa merampas hak orang yang tidak menjalankan ritual
Nyepi. Tapi ada pula yang beralasan bahwa pengguna medsos tidak bisa
/posting/ foto, menulis komentar dan /posting/ video di akun medsosnya.
Alasan terakhir ini yang membuat saya tersenyum geli. Betapa tidak,
masyarakat indonesia terutama yang mengaku generasi milenial telah
dihinggapi medsos /addict/. Kecanduan medsos ini tentu bukan sesuatu hal
yang dianggap baik. Apalagi penggunaan medsos yang kadangkala kurang
bijak, misal untuk /posting/ hoaks atau gambar dan video yang kurang patut.
Secara pribadi, saya tidak begitu mempedulikan apakah jaringan internet
itu dimatikan atau tidak. Toh, tiap hari pun ketika sudah sampai di
rumah /smartphone/ jarang dipegang bahkan jaringan internetnya sering
kami matikan. Rumah adalah tempatnya berinteraksi dengan keluarga;
kesampingkan medsos, dan utamakan pertemuan berkualitas dengan keluarga.
Nyepi layaknya sebuah bentuk konkret dari toleransi yang bersinggungan
dengan kepercayaan dan tradisi. Segala lapisan masyarakat Bali secara
tidak langsung telah diajarkan cara terbaik untuk mewujudkan harmoni
kehidupan. Toleransi tumbuh subur saat Nyepi. Tenggang rasa semakin
mengakar yang akhir dari semuanya adalah terciptanya Pulau Bali yang
aman dan nyaman bagi semua warganya tanpa terkecuali.
*Dede Solehudin* /pengguna medsos, tinggal di Bali
/
*(mmu/mmu)
*