From: 'j.gedearka' [email protected] [GELORA45] 
Sent: Saturday, March 17, 2018 2:46 AM
  



https://news.detik.com/kolom/d-3918261/nyepi-toleransi-konkret-ala-bali?_ga=2.74493202.1061177273.1521225277-1325767908.1521225277


Jumat 16 Maret 2018, 11:45 WIB
Kolom
Nyepi, Toleransi Konkret ala Bali
Dede Solehudin - detikNews
Dede Solehudin, SE 

 Ilustrasi: Zaki Alfarabi/detikcom 

Jakarta - 
Terdapat sebuah perbedaan yang sangat kontras antara perayaan Tahun Baru Masehi 
dengan Tahun Baru Caka yang terjadi di Bali. Ketika Tahun Baru masehi disambut 
dengan berbagai acara gegap gempita, hingar bingar, pesta pora dan segala 
sesuatu yang bersifat menyenangkan, beda halnya dengan pergantian Tahun Caka di 
Bali. Masyarakat Bali menyambut datangnya Tahun Baru Caka dengan cara yang 
lebih individual dan bersifat ritual budaya. Ritual budaya yang diselimuti 
dengan kedamaian, sepi dan ketenangan, hening dan cenderung menghindari 
keramaian. Ritual budaya ini dikenal dengan nama Nyepi. Kenapa dinamakan Nyepi?

Secara faktual memang ritual ini dilakukan dengan cara menepikan diri dari 
segala aktivitas keduniawian yang oleh masyarakat Bali dikenal dengan istilah 
Catur Brata atau empat pantangan. Catur Brata ini meliputi Amati Geni, Amati 
Karya, Amati Lelanguan, dan Amati Lelungaan. Memang betul keempat pantangan ini 
bersifat keduniawian karena pada saat Nyepi, masyarakat Bali tidak menyalakan 
api atau sesuatu yang bersifat terang dan menerangi. Kawan saya mengatakan 
bahwa pantangan ini lebih bersifat simbolis untuk tidak boleh marah atau harus 
bisa mengendalikan amarah. 

Pantangan selanjutnya adalah tidak melakukan pekerjaan dan tidak melakukan 
kesenangan. Selanjutnya adalah pantangan untuk tidak berpergian. Keempat 
pantangan ini harus dilakukan dalam satu hari penuh Nyepi yang dimulai dari 
pukul 6 pagi sampai 6 pagi keesokan harinya, selama 24 jam. Saya tidak akan 
membahas tentang substansi Nyepi dari kacamata ritual masyarakat Bali, namun 
akan melihatnya dari sisi toleransi sebagai bagian identitas sikap unik bangsa 
Indonesia.

Nyepi Sebagai Aset

Hari Raya nyepi terjadi sekali dalam setahun berdasarkan perhitungan kalender 
Bali. Dan, Nyepi hanya ada di Bali. Meski yang melakukan Catur Brata penyepian 
adalah kawan kita yang beragama Hindu, namun Nyepi bukanlah bentuk ritual 
ibadah umat Hindu. Atas hal ini bisa dibandingkan dengan ritual keagamaan Hindu 
yang terjadi di India atau belahan dunia lainnya. Bali yang unik memiliki 
tradisi unik pula. Keunikan inilah yang menjadi salah satu daya tarik wisata 
khususnya traveler dari luar negeri. 

Mungkin ada ketertarikan yang berbeda antara traveler domestik dengan turis 
mancanegara. Jika wisatawan domestik melihat Bali sebagai tempat wisata yang 
dipenuhi dengan pantai dan pemandangan alam yang indah, wisatawan manca negara 
melihat bahwa Bali memiliki keunikan sebagai pusat budaya dan tradisi yang unik 
sebagai intangible asset.

Kembali kepada Nyepi. Ketika di belahan bumi lain masih selalu mempermasalahkan 
toleransi, maka di Bali sudah berjalan sampai sekarang. Toleransi yang 
ditunjukkan masyarakat Bali baik itu pendatang maupun masyarakat lokal bisa 
dijadikan sebagai contoh positif. Ketika masyarakat lokal Bali melakukan Catur 
Brata penyepian selama 24 jam, warga Bali yang notabene pendatang atau bahkan 
sudah turun temurun lahir dan besar di Bali lainnya ikut terbawa suasana. 

Sebagian yang ingin menikmati Bali yang segar dan jauh dari polusi udara dan 
suara akan tetap tinggal di Bali. Menghabiskan waktu di dalam rumah, ngobrol 
dengan anggota keluarga atau melakukan aktivitas di dalam rumah yang sifatnya 
tidak mengganggu masyarakat yang sedang melakukan Catur Brata penyepian. Namun 
bagi mereka yang tidak suka dengan suasana sepi, gelap, dan hening tentu 
memilih untuk keluar dari Bali dalam rangka liburan.

Toleransi Timbal Balik

Pengalaman pribadi, ketika masyarakat lokal Bali melakukan Catur Brata 
penyepian, kami melakukan bersih-bersih rumah, menata rumah begitu rupa hingga 
terlihat rapi dan sesuai yang kami inginkan. Ngobrol ke sana kemari tanpa takut 
diganggu bunyi televisi dan suara dering telepon. Saya bisa mengajari anak-anak 
untuk membuat origami, menggambar pantai dan pegunungan, dan bisa 
meninabobokkan anak-anak tanpa harus nonton televisi terlebih dahulu. Semua 
dilakukan tanpa paksaan. Semua berjalan biasa-biasa saja seolah berjalan 
normal, dan memang normal. 

Apalagi Nyepi tahun ini, keputusan Gubernur Bali salah satunya adalah imbauan 
kepada provider internet agar bisa mematikan jaringannya selama Nyepi. 
Hmmm….pasti ini akan lebih sepi dan tenang lagi. Pasti semua anggota keluarga 
tidak akan sibuk memegang gadget lagi. Para gamer online akan istirahat, para 
medsos aholic akan off untuk sementara waktu, dan kesempatan ini bisa dijadikan 
momentum berharga bagi orangtua yang setiap hari sibuk di luar rumah dan merasa 
susah untuk ngobrol dan berdiskusi dengan anggota keluarga. Atau, dengan kata 
lain ini adalah kesempatan untuk quality time bersama keluarga yang dilakukan 
di dalam rumah.

Karena salah satu pantangan Nyepi adalah tidak boleh berpergian, maka jalanan 
akan kosong, tak ada mobil dan kendaraan lain yang lewat. Semua jalan 
istirahat. Semua kendaraan istirahat. Tapi tentu saja ada pengecualian bagi 
sesuatu yang bersifat emergency, misal ambulans atau kendaraan yang membawa 
orang sakit yang sifatnya urgen berkaitan dengan jiwa seseorang. Semua 
lingkungan diawasi oleh para pecalang atau satuan pengamanan adat. Pecalang 
akan selalu mengawasi lingkungannya selama 24 jam. Berkeliling ke tiap gang 
atau jalan kampung untuk memastikan tidak terjadi pelanggaran yang sifatnya 
bisa mengganggu jalannya Catur Brata penyepian. 

Namun ada satu toleransi balasan dari masyarakat lokal Bali bagi umat Islam 
atau agama lain untuk melakukan ibadahnya. Misal, kami sebagai umat Islam tetap 
diperbolehkan untuk pergi ke mesjid untuk menunaikan salat. Kami juga 
memperlihatkan toleransi balasan, di mesjid kami tidak menggunakan pengeras 
suara atau menyalakan lampu. Salat lebih khusuk dalam kondisi hening, lebih 
tenang, dan konsentrasi. Jadi toleransi dalam menjalankan agama, kepercayaan 
dan tradisi sudah mengakar di masyarakat Bali, baik masyarakat lokal maupun 
pendatang.

Mematikan Internet

Sesuatu yang menarik akan terjadi pada nyepi tahun ini ketika jaringan internet 
akan dimatikan selama Nyepi. Diskusi di media sosial begitu riuh, ramai. Satu 
pihak menolak akan kebijakan tersebut karena beranggapan bahwa pelaksanaan 
Nyepi tidak ada kaitannya dengan internet. Namun di pihak lain menganggap bahwa 
dengan adanya internet, kekhusyukan Nyepi akan terganggu. Mereka yang kontra 
akan kebijakan itu sebagian memiliki argumen bahwa jika jaringan internet 
dimatikan maka akan ada risiko pada kualitas layanan di fasilitas kesehatan 
terutama rumah sakit, industri keuangan (bank), perdagangan online dan 
akomodasi pariwisata. 

Internet memang sudah menjadi sebuah keniscayaan bagi terciptanya informasi 
yang cepat dan efisien. Internet sangat penting bagi informasi kesehatan rumah 
sakit, transaksi virtual perbankan, industri pariwisata dan bahkan jual beli 
berbasis online yang dijalankan secara perorangan. Tentu pro dan kontra ini 
menjadi pertimbangan sekaligus PR bagi pengambil keputusan di Bali, terutama 
bagi Pemerintah Provinsi Bali.

Bahkan ada beberapa posting-an yang menganggap kebijakan ini dianggap 
berlebihan karena bisa merampas hak orang yang tidak menjalankan ritual Nyepi. 
Tapi ada pula yang beralasan bahwa pengguna medsos tidak bisa posting foto, 
menulis komentar dan posting video di akun medsosnya. Alasan terakhir ini yang 
membuat saya tersenyum geli. Betapa tidak, masyarakat indonesia terutama yang 
mengaku generasi milenial telah dihinggapi medsos addict. Kecanduan medsos ini 
tentu bukan sesuatu hal yang dianggap baik. Apalagi penggunaan medsos yang 
kadangkala kurang bijak, misal untuk posting hoaks atau gambar dan video yang 
kurang patut.

Secara pribadi, saya tidak begitu mempedulikan apakah jaringan internet itu 
dimatikan atau tidak. Toh, tiap hari pun ketika sudah sampai di rumah 
smartphone jarang dipegang bahkan jaringan internetnya sering kami matikan. 
Rumah adalah tempatnya berinteraksi dengan keluarga; kesampingkan medsos, dan 
utamakan pertemuan berkualitas dengan keluarga.

Nyepi layaknya sebuah bentuk konkret dari toleransi yang bersinggungan dengan 
kepercayaan dan tradisi. Segala lapisan masyarakat Bali secara tidak langsung 
telah diajarkan cara terbaik untuk mewujudkan harmoni kehidupan. Toleransi 
tumbuh subur saat Nyepi. Tenggang rasa semakin mengakar yang akhir dari 
semuanya adalah terciptanya Pulau Bali yang aman dan nyaman bagi semua warganya 
tanpa terkecuali.

Dede Solehudin pengguna medsos, tinggal di Bali




(mmu/mmu)








Kirim email ke