https://news.detik.com/kolom/d-3921437/menyapih-internet-kala-nyepi?
_ga=2.75581397.1167327042.1521310966-586743129.1521310966
Sabtu 17 Maret 2018, 11:16 WIB
Kolom
Menyapih Internet Kala Nyepi
Fikri Mahzumi - detikNews
<https://connect.detik.com/dashboard/public/fikrimuz>
Fikri Mahzumi <https://connect.detik.com/dashboard/public/fikrimuz>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-3921437/menyapih-internet-kala-nyepi?_ga=2.75581397.1167327042.1521310966-586743129.1521310966#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-3921437/menyapih-internet-kala-nyepi?_ga=2.75581397.1167327042.1521310966-586743129.1521310966#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-3921437/menyapih-internet-kala-nyepi?_ga=2.75581397.1167327042.1521310966-586743129.1521310966#>
6 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-3921437/menyapih-internet-kala-nyepi?_ga=2.75581397.1167327042.1521310966-586743129.1521310966#>
Menyapih Internet Kala Nyepi Ilustrasi: Zaki Alfarabi/detikcom
<https://news.detik.com/kolom/d-3921437/menyapih-internet-kala-nyepi?_ga=2.75581397.1167327042.1521310966-586743129.1521310966#>
<https://news.detik.com/kolom/d-3921437/menyapih-internet-kala-nyepi?_ga=2.75581397.1167327042.1521310966-586743129.1521310966#>
<https://news.detik.com/kolom/d-3921437/menyapih-internet-kala-nyepi?_ga=2.75581397.1167327042.1521310966-586743129.1521310966#>
<https://news.detik.com/kolom/d-3921437/menyapih-internet-kala-nyepi?_ga=2.75581397.1167327042.1521310966-586743129.1521310966#>
*Jakarta* -
Pemerintah melalui Direktorat Telekomunikasi Kementerian Komunikasi dan
Informatika telah menerbitkan Surat Edaran Nomor 378 Tahun 2018 agar
pelaksanaan Hari Raya Nyepi tanpa internet. Kebijakan ini diambil
menyusul seruan bersama Majelis Agama dan Keagamaan Provinsi Bali 2018.
Kebijakan ini tentu tidak mudah bagi umumnya warganet yang belum
terbiasa putus hubungan dengan si maya yang seksi. Apalagi harus menahan
diri tidak memperbarui status di media sosial. Tentu bisa dibayangkan
betapa sulitnya melewati detik-detik yang berat itu. Hubungan harmonis
dengan gawai canggih pun kemungkinan besar tergangu, karena dapat
dipastikan tak ada keseruan lagi di dalamnya tanpa internet. Kembali ke
zaman jadul.
Di zaman serba /online/ ini rasanya hidup menjadi hampa kalau kita harus
disapih dari internet. Tapi, bagaimanapun kita semua wajib menghormati
keyakinan sebagian warga bangsa. Inilah indahnya alam demokrasi yang
fondasinya berdiri tegak di atas Bhineka Tunggal Ika dan jaminan
melaksanakan keyakinan beragama tanpa "gangguan".
Ada baiknya, sambil melatih biar kuat puasa internetannya, kita alihkan
dengan membaca buku karya filsuf Herbert Marcuse (1898-1979)
/One-Dimensional Man: Studies in the Ideology of Advanced Industrial
Society/ (1964). Sebelum memulai baca buku itu, tak ada salahnya tahu
sekilas personel Mazhab Frankfurt ini. Terlahir di Berlin, 19 Juli 1898,
Marcuse muda belajar di Universitas Berlin, lalu melanjutkan ke
Universitas Freiburg sampai memperoleh gelar PhD (Lemert, 2010).
Melalui karya-karya tulisnya, filsuf yang pernah menikahi tiga wanita
ini banyak mengkritik perihal kapitalisme, modernisme, materialisme, dan
budaya populer dengan menyebutnya sebagai representasi bentuk baru
kontrol sosial (Mann, 2008). Berpikir kritis yang digenderangkan oleh
Marcuse ketika memandang modernisme laik untuk kembali digunakan
merespons zaman gonjang-ganjing (/disruption/) seperti saat ini.
Marcuse sangat mengkritik budaya konsumtif sebagai akibat produksi di
era industri. Masyarakat kita yang biasa mengklaim telah mengalami alam
demokrasi, sebenarnya tak lebih dari budak yang selalu didikte oleh
iklan yang mempengaruhi alam berpikir bebasnya agar memilih kebahagiaan
dengan cara membeli (Marcuse, 1991:3). Faktum ini tak bisa ditampik
ketika kita memang selalu bergumul dengan iklan produk-produk baru
sepanjang hari, dan hasrat yang selalu menyeru untuk memiliki.
*Puasa Internet*
Ritual Nyepi yang menyapih internet merupakan ikhtiar yang pas dan tepat
untuk memberi waktu jeda bagi umat Hindu agar khusyuk dengan sakralitas
ritual di momen spesial. Tujuannya agar setiap pribadi benar-benar
berkesempatan melaksanakan /brata, yoga, tapa/, dan /samadi/ tanpa
diganggu dengan urusan /browsing/, /cheking email/, /chatting/ dan
/updating/ /status/ yang sangat profan itu.
Suasana Nyepi bagi masyarakat era industri menjadi jeda untuk
mengembalikan daya spiritualitas yang selama ini direngkuh oleh hasrat
materialistik melalui gawai canggih yang terkoneksi internet.
Kesibukan-kesibukan konsumtif hampir saja merusak sisi humanitas kita
secara keseluruhan, kalau saja Herbert Marcuse tidak mengingatkan agar
selalu memilah secara ketat kebutuhan hidup ,dan menghidupkan kesadaran
baru anti-konsumerisme yang senyawa dengan nilai-nilai yang terkandung
dalam ritual Nyepi umat Hindu.
Belajar dan ikut menghayati apa yang dilakukan oleh umat Hindu dalam
ritual Nyepi serta keinginan memutus sementara kebiasaan-kebiasaan
konsumtif, ada baiknya sejenak kita sisihkan waktu kita untuk melakukan
puasa internet. Kita lalui saat berharga itu dengan senyum yang bukan
/meme/, sapaan yang bukan berbentuk /binari/, rangkulan hangat yang
bukan /emoji/. Karena kita terlalu lama tidak lagi menatap muka tapi
layar kaca.
Seruan menyapih internet oleh Pemuka Agama Hindu pada Perayaan Hari
Nyepi tahun ini akan memiliki dampak sosial yang signifikan jika
kesadaran itu tumbuh di alam sadar setiap pribadi, bukan semata karena
akses internet yang diputus oleh penyedia layanan. Kebutuhan memperbaiki
kualitas hidup yang sebelumnya telah sebagian besar direngkuh oleh ruang
maya harus menjadi pesan moral yang luhur bagi semua orang. Ada saatnya
kita perlu putus hubungan dengan hiruk pikuk yang serba virtual dengan
mengakrabi kehidupan ini senyatanya.
*Fikri Mahzumi* /dosen Fakultas Aqidah dan Filsafat UIN Sunan Ampel
Surabaya/
*(mmu/mmu)
*