https://www.antaranews.com/berita/693900/ktt-asean-australia-
berakhir-dengan-kecaman-terhadap-proteksionisme-dagang
KTT ASEAN-Australia berakhir
dengan kecaman terhadap
proteksionisme dagang
Minggu, 18 Maret 2018 20:12 WIB
Perdana Menteri Laos Thongloun Sisoulith, Presiden Indonesia Joko
Widodo, Perdana Menteri Kamboja Hun Sen, Sultan dan Perdana Menteri
Brunei Sultan Bolkiah, Perdana Menteri Thailand Prayut Chan-O-Cha,
Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull, Perdana Menteri Singapura
Lee Hsien Loong, Perdana Menteri Vietnam Nguyen Xuan Puc, Menteri Luar
Negeri Filipina Alan Peter Cayetano, Dewan Negara Myanmar Aung San Suu
Kyi dan Perdana Menteri Malaysia Najib Razak berdiri bersama saat
Leaders Welcome and Familiy Photo di satu kali pertemuan tingkat tinggi
10 anggota Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) di Sydney,
Australia, Sabtu (17/3/2018). (REUTERS/David Gray)
Sydney (ANTARA News) - Pemimpin Australia dan Singapura pada Minggu
menutup konferensi tingkat tinggi regional dengan kritik keras terhadap
proteksionisme, di tengah kekhawatiran terjadinya perang dagang akibat
rencana penetapan tarif impor oleh Amerika Serikat.
"Kami berpendapat bahwa sistem perdagangan multilateral yang bebas,
terbuka, dan berdasarkan aturan, adalah kunci bagi pertumbunuhan ekonomi
dan kesejahteraan regional," kata Perdana Menteri Lee Hsien Loong dalam
konferensi pers yang mengakhiri pertemuan antara pemimpin negara
Australia dengan Asosiasi Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN).
Sebelumnya pada 7 Maret lalu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan
memberlakukan tarif untuk melindungi produsen baja dan aluminum dengan
alasan keamanan nasional.
Washington juga akan memberlakukan tarif impor senilai 60 miliar dolar
terhadap barang-barang asal China, terutama dari sektor teknologi dan
komunikasi.
Lee dan Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull mendesak ASEAN untuk
segera menyepakati Kemitraan Ekonomi Regional Komprehensif (RCEP),
usulan China yang kini menjadi alternatif terhadap Kemitraan
Trans-Pasifik (TPP) yang berhenti di tengah jalan setelah Amerika
Serikat mengundurkan diri pada tahun lalu.
"Jika kami berhasil mencapai kesepakatan,maka ini akan menjadi antitesis
bagi kecenderungan proteksionisme, dan memastikan bahwa kawasan
Indo-Pasifik akan menjadi pusat perdagangan yang terbuka dan bebas,"
kata Turnbull.
Secara resmi, pertemuan puncak antara ASEAN dengan Australia adalah
untuk mendekatkan hubungan ekonomi antara kedua pihak, serta membahas
ancaman radikalisme yang dibawa oleh mereka yang baru kembali dari
peperangan di Timur Tengah.
Australia menjadi tuan rumah pertemuan meski tidak menjadi anggota dari
blok regional beranggotakan 10 negara tersebut, dengan target
peningkatan kerja sama politik dan perdagangan di kawasan Asia Tenggara
di tengah semakin besarnya pengaruh China.
Dalam pernyataan bersama sebagai kesimpulan, ASEAN dan Australia juga
mendesak semua pihak untuk "menahan diri" di Laut China Selatan, saat
Beijing semakin agresif untuk melakukan ekspansi sehingga berpotensi
memicu konflik dengan sejumlah negara anggota ASEAN.
"Kami menekankan pentingnya de-militerisasi dan kebutuhan untuk
meningkatkan rasa saling percaya. Kami mendesak semua pihak untuk
menahan diri dan menghindari tindakan yang bisa memperburuk situasi,"
kata pernyataan bersama itu.
Beberapa negara anggota ASEAN seperti Brunei, Malaysia, Vietnam, dan
Filipina kini bersengketa dengan China soal kepemilikan jalur
perdagangan dunia di Laut China Selatan. Di kawasan itu Beijing telah
mereklamasi sejumlah pulau buatan dan membangun landasan terbang serta
pelabuhan di atasnya.
"Ini adalah persoalan keamanan dan stabilitas di Asia Tenggara yang akan
berdampak pada semua negara ASEAN jika ada sesuatu yang salah," kata Lee.
ASEAN juga menyerukan "denuklirisasi yang lengkap dan nyata di
Semenanjung Korea" dan mendesak semua anggota PBB untuk patuh pada saksi
Dewan Keamanan terhadap Korea Utara, demikian Reuters.
(Uu.G005/A032)
Pewarta: SYSTEM
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2018