From: 'j.gedearka' [email protected] [GELORA45] 
Sent: Monday, March 19, 2018 3:12 AM
  



https://www.antaranews.com/berita/693900/ktt-asean-australia-berakhir-dengan-kecaman-terhadap-proteksionisme-dagang


Sydney (ANTARA News) - Pemimpin Australia dan Singapura pada Minggu menutup 
konferensi tingkat tinggi regional dengan kritik keras terhadap proteksionisme, 
di tengah kekhawatiran terjadinya perang dagang akibat rencana penetapan tarif 
impor oleh Amerika Serikat.

"Kami berpendapat bahwa sistem perdagangan multilateral yang bebas, terbuka, 
dan berdasarkan aturan, adalah kunci bagi pertumbunuhan ekonomi dan 
kesejahteraan regional," kata Perdana Menteri Lee Hsien Loong dalam konferensi 
pers yang mengakhiri pertemuan antara pemimpin negara Australia dengan Asosiasi 
Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN).

Sebelumnya pada 7 Maret lalu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan 
memberlakukan tarif untuk melindungi produsen baja dan aluminum dengan alasan 
keamanan nasional.

Washington juga akan memberlakukan tarif impor senilai 60 miliar dolar terhadap 
barang-barang asal China, terutama dari sektor teknologi dan komunikasi.

Lee dan Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull mendesak ASEAN untuk segera 
menyepakati Kemitraan Ekonomi Regional Komprehensif (RCEP), usulan China yang 
kini menjadi alternatif terhadap Kemitraan Trans-Pasifik (TPP) yang berhenti di 
tengah jalan setelah Amerika Serikat mengundurkan diri pada tahun lalu.

"Jika kami berhasil mencapai kesepakatan,maka ini akan menjadi antitesis bagi 
kecenderungan proteksionisme, dan memastikan bahwa kawasan Indo-Pasifik akan 
menjadi pusat perdagangan yang terbuka dan bebas," kata Turnbull.

Secara resmi, pertemuan puncak antara ASEAN dengan Australia adalah untuk 
mendekatkan hubungan ekonomi antara kedua pihak, serta membahas ancaman 
radikalisme yang dibawa oleh mereka yang baru kembali dari peperangan di Timur 
Tengah.

Australia menjadi tuan rumah pertemuan meski tidak menjadi anggota dari blok 
regional beranggotakan 10 negara tersebut, dengan target peningkatan kerja sama 
politik dan perdagangan di kawasan Asia Tenggara di tengah semakin besarnya 
pengaruh China.

Dalam pernyataan bersama sebagai kesimpulan, ASEAN dan Australia juga mendesak 
semua pihak untuk "menahan diri" di Laut China Selatan, saat Beijing semakin 
agresif untuk melakukan ekspansi sehingga berpotensi memicu konflik dengan 
sejumlah negara anggota ASEAN.

"Kami menekankan pentingnya de-militerisasi dan kebutuhan untuk meningkatkan 
rasa saling percaya. Kami mendesak semua pihak untuk menahan diri dan 
menghindari tindakan yang bisa memperburuk situasi," kata pernyataan bersama 
itu.

Beberapa negara anggota ASEAN seperti Brunei, Malaysia, Vietnam, dan Filipina 
kini bersengketa dengan China soal kepemilikan jalur perdagangan dunia di Laut 
China Selatan. Di kawasan itu Beijing telah mereklamasi sejumlah pulau buatan 
dan membangun landasan terbang serta pelabuhan di atasnya.

"Ini adalah persoalan keamanan dan stabilitas di Asia Tenggara yang akan 
berdampak pada semua negara ASEAN jika ada sesuatu yang salah," kata Lee.

ASEAN juga menyerukan "denuklirisasi yang lengkap dan nyata di Semenanjung 
Korea" dan mendesak semua anggota PBB untuk patuh pada saksi Dewan Keamanan 
terhadap Korea Utara, demikian Reuters.

(Uu.G005/A032) 
Pewarta: SYSTEM
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2018








Kirim email ke