Rizal Ramli: Bulog jangan kalah dengan pedagang
 Selasa, 20 Maret 2018 12:11 WIB
 
Pengamat Ekonomi Rizal Ramli (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)

Jakarta (ANTARA News) - Stok beras yang dimiliki oleh lembaga Bulog perlu 
benar-benar diperkuat dalam rangka melawan para pedagang yang menahan komoditas 
tersebut untuk mendapatkan keuntungan lebih pada masa mendatang.

"Saat ini ajaib kalau kita masih berbicara persoalan tentang beras," kata 
Mantan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Rizal Ramli dalam diskusi "Tata 
Kelola Perberasan serta Dampaknya Terhadap Stabilitas Nasional" yang digelar di 
Jakarta, Selasa.

Menurut Rizal Ramli, saat pemerintahan Gus Dur harga beras relatif stabil 
selama dua tahun sehingga pada jangka waktu tersebut dapat dilalui tanpa impor.

Rizal yang juga menjabat sebagai Kepala Bulog ketika itu juga mengatakan, 
pihaknya saat itu memandang komoditas beras seperti valuta asing, sehingga bila 
ada yang mau berspekulasi akan segera ditangani.

Saat memimpin Bulog, ujar Rizal, dirinya setiap hari mendapatkan laporan daerah 
mana yang naiknya tinggi sehingga bisa langsung bisa ditelepon ke Bulog di 
daerah untuk mengetahui apa penyebab kenakan tersebut.

Kalau ada pedagang yang menahan beras, maka Rizal langusng memerintahkan untuk 
membanjiri pasar dengan ratusan ribu ton selama berbulan-bulan.

Hal itu, ujar dia, karena pedagang juga memiliki beban seperti untuk membayar 
biaya penyimpanan gudang sehingga mereka juga tidak akan dapat menahan terlalu 
lama.

"Akhirnya (pedagang) menyerah ikut harga Bulog," kata mantan Menko Kemaritiman 
itu.

Menurut dia, secara sederhanya bila pedagang "melawan" pemerintah, maka yang 
kalah adalah pedagang.

Untuk itu, Rizal menegaskan bahwa untuk menjadi Kepala Bulog harus memiiki 
mental yang kuat dan berani untuk menggertak.

Sementara itu, pembicara lainnya Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian UGM 
Prof Maksum mengatakan bahwa regulasi Inpres No 5/2015 dinilai "bodong", karena 
level harga pokok pembelian (HPP) yang ditetapkan jauh lebih rendah dari harga 
pasar, juga pada saat panen raya sekalipun.

"Bisa dipastikan Bulog tidak punya stok sehingga operasi pasar yang dilakukan 
menjadi mandul. Ini kejahatan administratif," katanya.

Sedangkan Ketua Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi Yeka Hendra Fatika 
mengatakan, meski setiap hari ada panen, tetapi jumlah panen perlu flukutasi, 
sehingga hal tersebut juga menggambarkan bahwa Indonesia perlu memiliki stok.

Namun, ujar dia, pada saat ini jumlah stok pangan yang berada di pedagang juga 
tidak jelas dan saat ini juga dinilai tidak memiliki data yang tepat untuk 
pengambilan kebijakan yang tepat pula. 
Pewarta: M Razi Rahman
Editor: Unggul Tri Ratomo

Kirim email ke