https://tirto.id/jokowi-kritik-jangan-asal-bunyi-harus-berbasis-data-cGxx
Jokowi: Kritik Jangan Asal Bunyi, Harus
Berbasis Data
Jokowi: Kritik Jangan Asal Bunyi, Harus Berbasis Data Presiden Joko
Widodo saat memimpin rapat terbatas di kantor Presiden, Jakarta, Kamis
(15/3/2018). ANTARA FOTO/Wahyu Putro A.
0 Shares
<mailto:?subject=Jokowi:%20Kritik%20Jangan%20Asal%20Bunyi,%20Harus%20Berbasis%20Data%20&body=https://tirto.id:443/jokowi-kritik-jangan-asal-bunyi-harus-berbasis-data-cGxx>
Sumber: antara
21 Maret, 2018 /dibaca normal 1 menit /
* Jokowi menegaskan ada perbedaan jelas antara kritik dengan celaan,
cemooh, hujatan, kenyinyiran, dan fitnahan
/Jokowi meminta kritik terhadap pemerintah berbasis data dan bertujuan
mencari solusi untuk memperbaiki kebijakan./
*tirto.id <https://tirto.id?utm_source=internal&utm_medium=Article> - *
Presiden Joko Widodo mengungkapkan pendapatnya mengenai kritik terhadap
pemerintah. Jokowi menyatakan kritik seharusnya berbasis pada data dan
tidak asal disampaikan.
"Kritik itu penting untuk memperbaiki kebijakan yang ada. Tetapi, kritik
itu harus berbasis data. Kritik itu harusnya tidak asbun, asal bunyi,
tidak asal bunyi, tidak asal bicara," kata Jokowi saat memberikan
sambutan dalam Rapimnas Perindo II di JCC, Jakarta, Rabu malam
(21/3/2018) seperti dikutip Antara.
Jokowi berpendapat kritik yang disampaikan kepada pemerintah semestinya
bertujuan untuk mencari solusi. Dia menambahkan kritik tersebut
seharusnya juga bermaksud memperbaiki kebijakan.
Jokowi mengakui kritik penting bagi pemerintah untuk memperbaiki
kebijakan. "Belum tentu pemerintah itu benar. Kalau yang salah, ya mesti
ada yang mengingatkan dengan kritik," ujar dia.
"Kritik itu juga penting, sekali lagi kritik itu juga penting untuk
memperbaiki kebijakan yang ada saat ini. Belum tentu pemerintah itu
betul," Jokowi menambahkan.
Meskipun demikian, Jokowi menegaskan ada perbedaan jelas antara kritik
dengan celaan, cemooh, hujatan, kenyinyiran, dan fitnahan.
"Tolong dibedakan kritik dengan mencela, beda itu. Bedakan kritik dengan
mencemooh, beda itu. Kritik dengan fitnah, kritik dengan nyinyir beda
lagi. Kritik dengan menghujat juga beda. Kritik dengan fitnah beda,"
kata Jokowi.
Dia meminta agar semua pihak menjunjung tinggi sopan santun dan adat
ketimuran sehingga tidak saling menghujat dan mencemooh. Jokowi juga
menyerukan agar semua pihak tidak menyebar berita bohong dan ujaran
kebencian.
"Kejujuran adalah keutamaan, kejujuran utama yang ditopang oleh perilaku
yang sopan dan santun sesuai dengan adat istiadat bangsa kita Indonesia
yaitu adat ketimuran, dan berdialog untuk menemukan cara terbaik bagi
rakyat dan bangsa yaitu dengan musyawarah," kata dia.
Pernyataan Jokowi mengenai pendapatnya tentang kritik terhadap
pemerintah itu muncul di tengah menghangatnya polemik antara Luhut
Pandjaitan dan Amien Rais. Tapi, Jokowi tidak menyinggung polemik ini
saat memberikan sambutan di Rapimnas Perindo pada Rabu malam.
Polemik itu mencuat usai Menko Bidang Kemaritiman tersebut mengeluarkan
pernyataan bernada ancaman yang terindikasi tertuju ke Amien Rais, pada
Senin lalu. Pernyataan Luhut itu keluar tak lama usai Amien menuding
program pembagian sertifikat tanah, yang digencarkan oleh pemerintah,
merupakan “pengibulan”.
Baca juga:
* Ancaman ke Pengkritik Jadi Blunder, Luhut Harus Tarik Ucapan
<https://tirto.id/ancaman-ke-pengkritik-jadi-blunder-luhut-harus-tarik-ucapan-cGts>
* Tanggapan Istana Soal Polemik Luhut dan Amien Rais
<https://tirto.id/tanggapan-istana-soal-polemik-luhut-dan-amien-rais-cGxv>
Baca juga artikel terkait JOKOWI
<https://tirto.id/q/jokowi-2?utm_source=internal&utm_medium=lowkeyword>
atau tulisan menarik lainnya Addi M Idhom
<https://tirto.id/author/addiidhom?utm_source=internal&utm_medium=lowauthor>
(tirto.id - add/add)