Rabu, 21 Maret 2018

Tsamara Amany, Kaum Muda Yang Tersesat Arah
Baru saja saya membaca tulisan Tsamara Amany, pujaan PSI yang selalu 
dibanggakan itu akibat heroismenya dalam berpura-pura kritis dengan isu 
kebhinekaan dan KPK dalam melindungi Jokowi. Kok ya saya ngakak sama tulisan 
Tsamara Amany yang berjudul "Anak Muda Mental Penjilat?"
Bacalah tulisan konyolnya di sini: 
https://m.detik.com/news/kolom/3926378/anak-muda-mental-penjilat
Tsamara, jangan mengaburkan kontradiksi lah. Masuk ke dalam politik praktis 
bukan jalan yang tepat atau bahkan justru menyesatkan, karena jelas sebaik 
apapun dirimu, tidak sombong dan rajin menabung, kapitalis birokrat tetaplah 
musuh rakyat dan tak lebih dari sekedar berbagi kue atau sampai pada berebut 
kekuasaan yang tentunya dengan tujuan yang sama, yaitu terus menjaga dominasi 
Imperialis di negara SJSF ini.

Rezim fasis Jokowi-JK yang kian memiskinkan rakyat dan kian membunuh rakyat 
dengan kebijakan-kebijakan yang memfasilitasi Imperialisme dalam 
mengeskploitasi sumber daya alam dan sumber daya manusia demi meraup keuntungan 
yang berlipat ganda, macam RA-PS dan PP-78, dan banyak lagi kebijakan fasis 
yang semakin merampas hak demokratis rakyat juga memberangus gerakan rakyat 
macam UU Ormas, RKUHP dan UU MD37, haruskah didukung pemerintahan boneka?
Kalau terakhir Tsamara mengutip kalimat "Lawan", apa yang dimaksud dengan 
melawan? Jumlah pemuda sekitar 84 persen. Dengan jumlah yang besar, memang 
pemuda merupakan kunci utama dalam mengantar negeri ini menuju kemajuan. Namun 
sayang liberalisasi pendidikan menutup akses pemuda atas pendidikan tinggi, 
justru pemuda-pemuda dengan jumlah besar ini menghadapi masalah besar yakni 
pengangguran dan juga calon buruh murah di pabrik-pabrik yang akan dihisap 
darah dan tenaganya, lalu apa peran politik praktis kepada 84 persen pemuda 
ini? Mampu membebaskan belenggu penindasan yang dihadapi pemuda kah selama ini? 
Atau Tsamara secara individualis hanya berbicara tentang kepentingan borjuasi. 
Buktinya, keberhasilan Tsamara dan kawan-kawannya yang katanya berhasil 
melakukan simplifikasi izin usaha sampai dapat peringkat di world bank. Bukan 
kah itu mengakomodasi kepentingan Imperialis? Tsamara tidak tau kah world bank 
itu lembaga keuangan internasional milik penindas Imperialisme AS, dengan 
segala kucuran dana yang digelontarkan untuk memuluskan program-programnya, di 
negara SJSF atau di negara miskin dan terbelakang lainnya itu nyatanya justru 
mematikan kehidupan dan penghidupan rakyat miskin akibat 
pembangunan-pembangunan komersil.
Lihat, bagaimana hasil daya kritismu yang bahkan mendapat peringkat, justru 
malah menindas rakyat. Ya, Tsamara dan kawan-kawannya  berhasil menindas rakyat 
dalam menopang kepentingan para pemodal untuk merampas tanah rakyat di Jakarta 
lebih banyak lagi dengan berbagai macam pembangunan komersil.. Jika 
simplifikasi izin usaha ini dikatakan menyasar warga Jakarta dalam 
mengembangkan bisnis, apa yakin akan mengembangkan usaha kecil disaat 
kapitalisme monopoli akan terus memonopoli pasar dan mematikan usaha kecil. 
Dengan demikian sesungguhnya simplifikasi akan sangat menguntungkan bagi 
pemilik modal dalam mengembangkan usaha komersilnya. Jokowi pula mempercepat 
izin investasi guna menopang kepentingan Imperialis. Kenapa harus bangga? Tidak 
kah merasa dosa dengan rakyat, apalagi perempuan dan anak yang tergusur dari 
kehidupan dan penghidupannya, padahal Tsamara pernah jadi pembicara di sebuah 
seminar dengan tema  tentang perempuan.

Dengan harga barang pokok yang semakin tinggi dan pencabutan subsidi untuk 
menopang megaproyek yang menindas, lantas haruskah saya sebagai pemuda 
mengikuti jalannya pemerintah Jokowi hari ini?
Tsamara mengutip quotenya Wiji Thukul, tapi tau kah Tsamara, Wiji Thukul 
melawan dengan berjuang bersama rakyat. Karena sejarah di dunia adalah sejarah 
tentang pertentangan klas. Maka hanya perjuangan klas lah yang menjadi 
satu-satunya cara bagi pemuda mahasiswa, seperti Tsamara, (tapi sayang udah 
PSI) untuk membebaskan dirinya dari segala bentuk penindasan bersama klas buruh 
dan kaum tani dalam melawan dominasi Imperialisme dan feodalisme sebagai 
topangan terkuatnya, tentunya dengan mewujudkan reforma agraria sejati dan 
indutrialisasi nasional. Dengan hal demikian maka akan tercipta dan 
terbangunnya  ekonomi, politik dan budaya yang maju.
Muak dengan politik? Milenial turun berjuang, kalau Tsamara mau sih sini ikut 
PEMBARU Indonesia aja ketimbang PSI.Tsamara mungkin harus berhenti pura-pura 
berpikir kritis disaat isu yang dibawa sekedar isu kebhinekaan dan membawa 
kepentingan pertarungan elite negara atas oposisi elitenya. Lelah saya liat Tom 
n Jerry versi kalian. Sudahlah mbak, mulai lihat kenyataan di desa dan di 
pabrik kalau memang mau kritis sekalian.
Bagi saya tetap, pemuda tugasnya adalah berjuang bersama rakyat, dengan 
menyadarkan, mengorganisir dan menggerakkan massa untuk mencapai kemenangan 
rakyat atas ekonomi, politik dan budaya. Sehingga aksi massa masihlah relevan 
di dalam keadaan negara yang semakin fasis dan menindas rakyat.Di Filipina, di 
India, di Kamboja, di Eropa, di Afrika, di Amerika Latin, bahkan di Amerika 
Serikat sendiri,  aksi massa dan perjuangan rakyat terus membesar seiring beban 
krisis yang dilimpahkan Imperialis kepada rakyat di dunia semakin besar dan 
parah!!
Di Amerika Serikat contohnya. Gerakan mahasiswa AS kini mulai bangkit dan 
membesar akibat kebijakan Student Loan yang membebani mahasiswa di AS. Kini 
Jokowi justru ingin menerapkan Student Loan di Indonesia yang pada kenyataamnya 
sama sekali tidak akan membantu mahasiswa dalam menghadapi biaya pendidikan 
yang tinggi. Saat ini, lebih dari 44 juta warga Amerika menanggung sekitar 
US$1,5 triliun hutang pendidikan. Ketika lulus, nilai rata-rata pinjaman yang 
ditanggung debitur mencapai US$37.172 atau naik sekitar US$20.000 lebih tinggi 
daripada 13 tahun lalu.  Ini berarti sekitar seperempat orang dewasa di AS 
sedang membayar cicilan pinjaman uang kuliah mereka. Dengan beban hutang yang 
harus ditanggung, maka mahasiswa AS pula harus bekerja part time atau bahkan 
fulltime menjadi buruh. Hal ini menghubungkan gerakan mahasiswa dan gerakan 
buruh di AS, karena menjadi buruh pun mahasiswa masih dihadapkan oleh 
penghisapan dan penindas atas upahnya. Gerakan mahasiswa di AS pun beriringan 
dengan gerakan burug serta memperjuangkan tuntutan-tuntutan buruh di AS.
Selain itu, di Filipina, gerakan rakyat semakin besar dalam memperjuangkan 
hak-hak demokratisnya dan melawan rezim fasis Duterte. Aksi massa sering 
mewarnai jalanan di Filipina, jika Tsamara pernah lihat bagaimana aksi massa 
saat kedatangan Donald Trump di KTT ASEAN di Manila, mungkin Tsamara menyesal 
telah membuat tulisan tersebut. Kebijakan-kebijakan fasis yang tengah 
digencarkan oleh Duterte selama ia menjabat sebagai presiden, yakni Martial 
Law/Darurat Militer, Perang Melawan Narkoba atau bahkan baru-baru ini 
pemerintahan Duterte baru saja mengeluarkan daftar nama yang berisi 461 nama 
dan 188 nama lain  yang ditandai sebagai teroris. Daftar teror tersebut banyak 
menyasar pimpinan tani, serikat pekerja, aktivis HAM dan masyarakat sipil 
secara luas yang dengan semangat berjuang melawan rezim Fasis Duterte. Rakyat 
Filipina yang terus konsisten berjuang demi hak-hak demokratisnya kemudian 
dihadapkan dengan penculikan, penangkapan, kriminalisasi, pembunuhan bahkan 
agresi militer yang memakan banyak ribuan korban. Salah satunya adalah 
pengusiran dan pembunuhan suku Lumad di Mindanao oleh pemerintahan Duterte 
sebagai usaha pembukaan lahan untuk pertambangan dan perkebunan demi 
kepentingan investor asing. Namun perjuangan di Filipina tetap berlanjut dan 
mendapat banyak dukungan dan solidaritas internasional dari berbagai organisasi 
di berbagai negara.
Di Eropa, kita tentu saja tidak melupakan aksi massa saat pertemuan G20 di 
Hamburg, Jerman tahun 2017 lalu , kalau mbak Tsamany tau, G20 adalah 
perkumpulan 19 negara dan satu entitas Uni Eropa yang memiliki perekonomian 
paling maju. G20 mewakili 85 persen perekonomian dunia dan 2/3 populasi dunia. 
Fokus agenda pertemuan G20 adalah ekonomi, perdagangan dan ketenagakerjaan, 
tentu tidak lebih dari konsolidasi Imperialis dan negara-negara kapitalis dalam 
menggencarkan agenda neoliberalnya terutama di negara-negara miskin dan 
terbelakang dalam menyelamatkan Imperialisme dari krisis akutnya dengan  
mengeksploitasi sumber daya alam dan sumber daya manusia untuk mendapat 
keuntungan berlipat ganda. Kalo mbak Tsamany tau, Demonstrasi di Hamburg 
berjumlah ratusan ribu orang. Mereka berasal dari lintas negara, organisasi 
bahkan ideologi. Mereka berasal dari ratusan organisasi. Ada partai politik 
seperti Die Linke (partai kiri Jerman), Partai Komunis Jerman (DKP), Sosialis 
Kiri (Jerman), Partai Hijau, Sinistra Italiana (Kiri Italia), International 
Socialist Organization (ISO), Partai Marxis –Leninis Jerman (MLPD), dan 
partai-partai kiri Eropa lainnya. Juga ada koalisi gerakan kiri Eropa yang 
disebut DiEM25 atau Democracy in Europe Movement 2025, yang didirikan oleh 
sejumlah tokoh kiri Eropa: Yanis Varoufakis (Mantan Menkeu Yunani), Antonio 
Negri (Italia), Ken Loach (sutradara kiri Inggris), dan Srećko Horvat 
(Kroasia). Ada gerakan sosial seperti ATTAC, European Alternatives, 
Transnational Institute (TNI), PAH (Spanyol), CADTM (Koalisi penghapusan utang 
illegal), dan masih banyak lagi. Juga serikat buruh, gerakan mahasiswa, 
organisasi feminis, organisasi petani, dan lain-lain. Terbukti, aksi massa 
masih relevan.
Sedangkan rakyat Kurdi di Afrin terus  dihadapkan oleh penindasan dan  agresi 
militer oleh Pemerintah Turki, Erdogan. Pemerintah telah menyerang beberapa 
kota Kurdi dengan dalih bahwa itu adalah serangan polisi terhadap teroris. 
Kenyataannya, ini adalah agresi dan pendudukan yang sengaja dilakukan terhadap 
suku bangsa Kurdi. Serangan tentara Turki di Arfin dan daerah-daerah sekitarnya 
sebelumnya mengakibatkan 18 Orang tewas dan 23 Orang luka-luka, bahkan seperti 
yang disiarkan oleh TV ONE beberapa hari yang lalu bahwa, agresi tersebut 
sejauh ini telah mengakibatkan 250 warga sipil tewas dimana diantaranya adalah 
perempuan dan anak-anak, selain itu serangan tersebut juga telah mengakibatkan 
sekitar 250 ribu orang harus mengungsi. Erdogan sebagai boneka AS akan terus 
menjaga kepentingan AS atas wilayah tersebut, terutama kepentingan imperialis 
AS dalam menguasai sumber minyak dan jalur pipa gas didaerah tersebut yang juga 
ingin terus dipertahankan oleh Rusia. Secara historis memang rakyat Kurdi 
dihadapkan oleh berbagai serangan oleh pemerintahan Erdogan, namun rakyat Kurdi 
tidak pernah berhenti dalam memperjuangkan Kemerdekaan, pembebasan, perdamaian 
dan perjuangan dalam  menentukan nasib sendiri.
Situasi yang terjadi di Filipina saat ini dan yang selama ini terjadi di timur 
tengah maupun yang terbaru di Turkey terkait dengan operasi militer dan terror 
berdarah yang dilakukan oleh Pemerintah Turkey dibawah pemerintahan Erdogan, 
serta situasi serupa diberbagai negeri lainnya merupakan aksi-aksi yang 
berlansung dibawah provokasi, kepemimpinan dan intervensi Imperialisme AS untuk 
menjamin kelansungan dominasi dan seluruh kepentingannya di dunia. Di 
Indonesia, selain melalui berbagai kerjasama sektoral dan isu atas keamanan dan 
militerisme, Imperialis AS juga menerapkan salah satu skema intervensinya atas 
kebijakan keamanan di Indonesia yang dikenal dengan COIN (Counter Insurgency) 
sebagai skema keamaman menyeluruh sejak tahun 2009, termasuk untuk menghambat 
dan memukul serta memecah-belah gerakan rakyat. Kenyataannya, dibawah pimpinan 
rezim boneka Jokowi, tindakan kekerasan, kriminalisasi, hingga pembunuhan 
terhadap rakyat khususnya kaum tani dan suku bangsa minoritas terus meningkat 
dan berlansung massif. Pada tahun 2017 lalu, AGRA mencatat bahwa telah terjadi 
setidaknya 49 kasus kekerasan dan kriminalisasi yang terjadi di 18 provinsi di 
seluruh Indonesia, mengakibatkan 66 orang ditembak, 144 lainnya luka-luka, 854 
ditangkap, 10 terbunuh dan 120 orang dikriminalisasi. Namun hal ini tidak 
menghentikan semangat kawan-kawan untuk melawan 3 musuh rakyat dan 
memperjuangkan reforma agraria sejati serta industrialisasi nasional di 
Indonesia, serta hak-hak demokratis rakyat Indonesia.
Dan masih banyak contoh perjuangan rakyat lainnya di berbagai negara dalam 
memperjuangkan hak-hak demokratis dan melawan penindasan oleh Imperialisme dan 
rezim bonekanya.
 Lantas Tsamara kenapa bisa bilang bahwa aksi massa itu seolah sudah tidak 
relevan di tahun 2018? Dengan perjuangan rakyat di dunia yang justru kian 
meningkat, Tsamara ini kok malah menegasikan kenyataan tersebut? Jelas, 
pikiranmu tidak objektif Tsamara! Belajarlah berjuang dengan klas buruh dan 
kaum tani agar pikiranmu tidak kabur, jangan malah belajar sama Jokowi untuk 
politik 2019, politik borjuasi.

Saya bukan anti partai, tapi memang tidak ada satupun partai Indonesia di bawah 
dominasi Imperialis yang akan berani menyentuh isu perampasan dan monopoli 
tanah, politik upah murah, penggsuran dan isu rakyat lainnya. Akan sulit dalam 
berjuang melalui politik praktis, di saat, di negeri SJSF ini, Imperialisme 
masih asik bercokol dengan kesadaran masyarakat Indonesia yang belum tinggi 
atas 3 musuh rakyat.  Kita harus mampu secara jelas memetakan mana yang lawan 
dan mana yang kawan, tentu Kabir bukanlah kawan.

Berbeda dengan Filipina yang gerakan demokratis nasional rakyatnya sudah besar. 
Maka untuk menciptakan situasi demikian, perlu sekiranya menciptakan 
syarat-syaratnya. Apa syaratnya? Sama seperti kawan-kawan di Filipina atau 
bahkan dahulu sekali jika berbicara soal revolusi bolshevik atau revolusi 
Tiongkok, yakni memperluas dan memperbesar perjuangan demokrasi nasional, serta 
memperkuat persatuan dan persekutuan rakyat tertindas. Kita tak mungkin 
melewati tahapan-tahapan dalam menciptakan syarat-syarat tersebut. Karenanya, 
pembebasan rakyat dari belenggu dominasi Imperialisme dan feodalisme bukanlah 
hal yang cepat melainkan perjuangan panjang rakyat, tapi bukan artinya tidak 
mungkin terjadi. Karena sejarah telah membuktikan dan di setiapnya ada oto 
kritik yang harus kita jalankan, begitu juga nanti penerus perjuangan kita 
kelak yang juga akan mengotokritik kegagalan-kegagalan kita hari ini dalam 
berjuang untuk mencapai kemenangan nanti.

Sekali lagi keadaan sosial menciptakan kesadaran sosial. Maka ciptakan syarat 
itu dengan menyadarkan, mengorganisir dan menggerakkan! Bersama klas buruh dan 
kaum tani melawan 3 musuh rakyat, yakni Imperialisme, Feodalisme dan 
Kapitalisme Birokrat.

Akan tiba saatnya rakyat yang menjadi hakim. Pengadilan rakyat adalah 
pengadilan yang paling pedih dan menyakitkan, bahkan jauh menyeramkan dibanding 
pengadilan-pengadilan negara yang memenjara kaum tani karena perjuangannya 
mempertahankan tanah dan haknya!

Salam demokrasi!

-Asterlyta Putrinda, pembantunya kaum tani.




Kirim email ke