https://www.antaranews.com/berita/695459/nkri-dan-kemungkinan-menghadapi-perang
NKRI dan kemungkinan
menghadapi perang
Jumat, 23 Maret 2018 16:21 WIB
Dokumentasi Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu (tengah), berfoto
bersama peserta pelatihan Bela Negara asal Papua di Pusdiklat Bela
Negara Kementerian Pertahanan, di Rumpin, Bogor, Jawa Barat, Rabu
(19/7/2017). Salah satu tujuan penyelenggaraan ini adalah menebalkan
rasa persatuan dan kesatuan bangsa serta meninggikan imunitas bangsa.
(ANTARA FOTO/Yulius Wijaya)
Siapa nyana, hanya karena menceritakan sekilas buku /Ghost Fleet A Novel
of The Next World War/ (Armada Hantu Sebuah Novel Perang Dunia
Berikutnya) karya Peter Warren Singer dan August Cole, pernyataan Ketua
Umum DPP Partai Gerindra, Prabowo Subianto, menjadi polemik di kalangan
elit negeri ini.
Di dunia maya, silang-sengketa soal ini di akar rumput juga sangat seru.
Inti novel itu menceritakan perang masa depan antara Amerika Serikat
dengan China dan Rusia yang disebut-sebut sebagai Perang Dunia III.
Perang Dingin yang terjadi sejak usai Perang Dunia II lalu pada masa
mendatang menjadi perang panas (/hot war/) tidak hanya di belahan Bumi
tetapi juga perang di luar angkasa (/outer space/) dan perang di ruang
siber yang terus berlanjut.
China dan Rusia disebutkan menyerbu masuk ke Hawaii untuk melumpuhkan
Amerika Serikat dan Amerika Serikat mengerahkan armada kapal-kapal
siluman atau kapal hantu (/ghost ships/) yang menyerang balik.
Novel yang diterbitkan Eamon Dolan Books, Houghton Mifflin Harcourt, New
York, Amerika Serikat, pada 2015 ini menjadi bahan kajian berbagai kalangan.
Studies in Intelligence edisi 60 misalnya pernah mengulas novel ini pada
Maret 2016. Banyak penulis yang membedah novel yang ditulis dua ahli di
bidangnya masing-masing ini.
Singer merupakan doktor dari Universitas Harvard yang dikenal sebagai
ilmuwan politik dan intelijen internasional dan bekerja di berbagai
institusi termasuk Departemen Pertahanan Amerika Serikat.
Sementara Cole seorang penulis analis masa depan (/author-futurist
analyst/) merupakan alumnus pascasarjana Ilmu Administrasi Publik dari
John F Kennedy School of Government, di Universitas Harvard.
Ia bekerja pada lembaga kajian Atlantic Council untuk Scowcroft Center
for Strategy and Security. Pada 2007 hingga 2010, Cole bekerja sebagai
wartawan industri pertahanan pada harian terkemuka, The Wall Street Journal.
Apa yang dikutip Prabowo dari novel perdana karya duet penulis itu,
memang mengerikan layaknya hantu siluman yang menakutkan, lantaran
Republik Indonesia pada novel itu disebutkan tidak akan ada lagi pada 2030.
Tahun 2030 itu, /khan/, sudah di depan mata, tinggal selusin tahun lagi
dari 2018 ini, dan menjalani masa menuju 2030 adalah bak selemparan
batu. Amat singkat.
Sementara para pendiri bangsa di negeri ini dalam perjalanan Republik
Indonesia sejak 1945 hingga mencapai usia 73 tahun pada tahun ini, masih
amat lekat dengan semangat "Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)
adalah Harga Mati".
Seluruh anak bangsa pasti menjaga dan merawatnya selama-lamanya sampai
kiamat. Betapa tidak, Republik ini berdiri dari perang panjang melawan
penjajah Belanda dan Jepang yang begitu banyak mengorbankan nyawa
putra-putri bangsa serta harta benda dan kucuran darah di tanah Ibu
Pertiwi. Republik Indonesia meraih kemerdekaan melalui perjuangan tanpa
henti.
Semenjak bangsa ini berdiri pun telah mengalami serangkaian konflik dan
pemberontakan yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa tetapi NKRI
tetap utuh tegak berdiri.
Memang pada 19 Oktober 1999, Provinsi Timor Timur terlepas dari NKRI
setelah berintegrasi sejak 17 Juli 1976 lantaran konflik berkepanjangan
hingga memunculkan campur tangan internasional melalui PBB,
menyelenggarakan referendum yang memberikan pilihan kepada rakyat Timor
Timur untuk tetap berintegrasi dalam wadah NKRI atau membentuk negara
sendiri.
Mayoritas rakyat Timor Timur memilih untuk menentukan nasib mereka
sendiri dan tidak lagi menjadi bagian dari NKRI.
Konflik-konflik yang mengancam disintegrasi bangsa seperti di Aceh sejak
pemberlakuan Aceh sebagai Daerah Operasi Militer (DOM) oleh rezim Orde
Baru pada 1989, dapat diselesaikan secara damai pada 2005 setelah
bertahun-tahun terlibat perang saudara antara TNI/Polri dengan sebagian
rakyat Aceh yang mendirikan Gerakan Aceh Merdeka.
Pemerintahan di Aceh dengan otonomi khusus dapat berjalan dengan baik
bahkan dengan pemberlakukan Syariat Islam yang rakyat Aceh kehendaki
sebagai wilayah berjulukan Serambi Mekkah.
Isu-isu Papua Merdeka, Republik Maluku Selatan (RMS), bahkan Negara
Islam, juga dapat diselesaikan dengan baik.
*Perang Asimetris*
Indonesia kini sedang menghadapi ancaman perang asimetris yang
dilancarkan pihak-pihak asing untuk menghancurkan nasionalisme dan
ideologi bangsa.
Perang asimetris dengan senjata teknologi informasi dan telekomunikasi
berdampak lebih luas dan bisa menyerang masuk dalam relung-relung
kehidupan bermasyarakat serta bernegara baik itu bidang ideologi,
politik, ekonomi, sosial maupun budaya serta pertahanan.
Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudi, saat membuka /Cyber Defence
Competition/ alias Kompetisi Pertahanan Siber (CDC), di Yogyakarta pada
11 Mei 2015, telah mengingatkan, kunci keberhasilan dalam perang
asimetris adalah keunggulan teknologi informasi dan komunikasi.
Dengan perangkat yang unggul dan ketersediaan SDM yang andal dan
berkualitas, Indonesia diharapkan mampu menangani berbagai ancaman yang
berdimensi siber.
Dalam pandangan dia, sejak lama negara tidak lagi menjadi aktor
peperangan atau pertempuran. Yang kemudian berkembang adalah peperangan
(walau tidak dideklarasikan resmi) antara negara melawan aktor nonnegara
alias gerakan dan jaringan.
Inilah yang lalu melahirkan konsep baru perang, perang asimetris, di
mana pihak-pihak yang berhadapan tidak dalam posisi sebanding dalam
berbagai aspeknya.
Begitu pula ketika dia membuka Pekan Bela Negara Pertahanan Siber
Nusantara 2016 di Pusdatin Kementerian Pertahanan, Jakarta, pada 30
November 2016, Indonesia harus memiliki kesiapan dalam mengantisipasi
dan menghadapi terjadinya perang asimetris.
Perang asimetris dapat terjadi setiap saat, baik itu pada masa damai
maupun pada masa perang.
Terjadi serangannya pun tidak perlu adanya pernyataan perang terlebih
dahulu, kata dia.
Pada masa mendatang perang asimetris lebih mungkin berpeluang terjadi
dibanding perang konvensional yang mengandalkan kekuatan pasukan dan
persenjataan militer. Dampak kehancuran perang asimetris juga tidak
kalah dengan kehancuran perang konvensional.
Perang asimetris dengan senjata teknologi informasi dan telekomunikasi
berdampak lebih luas dan bisa menyerang masuk dalam relung-relung
kehidupan bermasyarakat serta bernegara baik itu bidang ideologi,
politik, ekonomi, sosial maupun budaya serta pertahanan.
*Konflik energi*
Perang di banyak negara Timur Tengah menyusul Arab Spring bila dicermati
lebih banyak dipicu perebutan energi dan minyak dari berbagai negara.
Bahkan ketika panglima TNI masih dijabat Jenderal TNI Gatot Nurmantyo
dalam banyak kesempatan berbicara di berbagai forum, dia memetakan 70
persen konflik di dunia disebabkan perebutan sumber energi dan minyak,
bahkan akan terus terjadi hingga hasil minyak dan energi sudah habis.
Perebutan energi dan minyak, tidak harus negara yang berkepentingan
terjun langsung ke lapangan. Biasanya negara yang berkepentingan justru
memakai warga setempat dengan mengadu-domba dan agitasi.
Setelah energi minyak diperkirakan habis pada 2056, maka akan terjadi
krisis pangan dan krisis air. Negara-negara lain akan mengincar energi
pangan, air yang dimiliki negara yang berada di dalam ekuator.
Negara-negara di luar ekuator yang berjumlah sekitar 9,8 miliar orang
akan mengincar negara-negara di dalam ekuator, seperti negara ASEAN,
Kolombia, Meksiko dan lainnya untuk mengincar energi pangan dan air yang
dimilikinya.
Indonesia merupakan negeri yang amat kaya dengan sumber daya alamnya.
Bukan mustahil bakal menjadi incaran bagi negara-negara lain. Terbukti
Belanda menjajah Indonesia lantaran kekayaan sumber daya alam yang
dimiliki negeri ini.
Presiden Jokowi saat membuka Rembuk Nasional Pendidikan dan Kebudayaan
(RNPK) pada 6 Februari 2018 juga telah menyebutkan sejumlah negara yang
alamnya kaya raya, termasuk kaya tambang, minyak dan gas justru didera
kemiskinan bahkan konflik dan perang saudara.
Dia mengingatkan untuk berhati-hati, bahkan sumber daya alam seringkali
justru memanjakan dan membuat kita malas, mengalahkan daya juang kita,
membuat kita lengah dan tidak mendorong kita semuanya untuk berinovasi
dan berkreasi, ini juga hati-hati, karena sekali di negara kita
Indonesia dianugerahi oleh sumber daya alam yang melimpah. Oleh karena
itu Indonesia juga membutuhkan SDM yang unggul dan kuat.
Waspada terhadap berbagai ancaman terhadap keutuhan NKRI juga merupakan
keniscayaan. Mari menjaga NKRI dengan berbagai kegiatan bela negara.
Dengan pertahanan rakyat semesta membuat negeri ini berjaya dan disegani
oleh bangsa-bangsa lain di dunia.
Jangan sampai ada yang mengganggu kedaulatan NKRI.
Pewarta: Budi Setiawanto
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2018