Rabu 21 Maret 2018, 21:27 WIB

Jokowi: Kritik Itu Beda dengan Nyinyir, Apalagi yang Asal Bunyi
Ray Jordan - detikNewsShare 0TweetShare 0118 komentarPresiden Jokowi berbicara 
tentang kritik. (Foto: dok. Biro Pers Kepresidenan)FOKUS BERITA:Luhut Marah ke 
Amien RaisJakarta - Presiden Joko Widodo berbicara tentang kritik. Dia 
menegaskan pemerintah tidak anti pada kritik, tapi harus dibedakan antara 
kritik dan mencela, apalagi yang nyinyir.

Jokowi mengatakan perbedaan pendapat atau pilihan dalam demokrasi merupakan hal 
yang biasa. Tetapi tetap harus menjunjung tinggi sopan santun dan adat 
ketimuran dalam menyikapi perbedaan tersebut.

"Perbedaan pendapat dan pilihan itu biasa. Sekali lagi, itu biasa. Tapi harus 
junjung tinggi sopan santun dan adat ketimuran. Tidak saling hujat dan menebar 
ujaran kebencian," kata Jokowi dalam Rapimnas II Partai Perindo di Plenarry 
Hall Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Rabu (21/3/2018).


| Baca juga: Serangan Amien Rais yang Tuding Jokowi Ngibul |


Jokowi menegaskan kritik sangat penting bagi pemerintah. Sebab, belum tentu 
semua yang dijalankan pemerintah merupakan hal benar.

"Kalau ada salah, silakan sampaikan dengan kritik," kata Jokowi.

Namun Jokowi menegaskan kritik itu sifatnya beda dengan mencemooh, apalagi 
dengan sikap nyinyir.

"Tolong dibedakan kritik dengan mencela, kritik dengan mencemooh, itu beda. 
Kritik dengan nyinyir itu beda lagi. Kritik dengan memfitnah apalagi, beda.. 
Kritik dengan menjelekkan itu juga beda. Sekali lagi, kritik itu penting untuk 
memperbaiki kebijakan yang ada," tutur Jokowi.


| Baca juga: Hanura: Kebencian Amien Rais ke Jokowi Seperti Kanker! |


Jokowi juga menegaskan kritik yang disampaikan juga harus didukung dengan data 
yang akurat. Kritik tidak boleh asal bicara.

"Kritik harus berbasis data, kritik itu tidak 'asbun', asal bunyi, tidak asal 
bicara. Kritik itu maksudnya untuk mencari solusi, mencari kebijakan yang lebih 
baik," sebutnya.

Jokowi menambahkan, masyarakat Indonesia harus menjunjung tinggi adat ketimuran 
khas Indonesia dalam menyampaikan kritik. Dia juga menekankan tentang 
pentingnya sikap jujur.

"Kita harus kembali ke akar budaya kita, budaya Timur, budaya Indonesia. 
Kejujuran adalah utama, yang ditopang oleh perilaku sopan dan santun, sesuai 
adat istiadat," katanya.

"Dan berdialog merupakan cara terbaik untuk rakyat dan bangsa, yaitu dengan 
cara musyawarah," imbuh Jokowi. 
(jor/elz)


Kirim email ke