Bung Yo, Tidak apa2, Indonesia bisa mempelajari teknologi Tiongkok dari HST Jakarta- Bandung, dan juga tekonologi yang lebih sederhana dari Jepang untuk kereta api kecepatan sedang jakarta- Surabaya. Kalau teknologi ilmu logam dari PAL dari Palad dan perkereta apian dapat digabungkan bersama pabrik baja Krakatau Steel, bisa diperoleh kemajuan cepat. Tiongkok bisa cepat mempelajari, meniru dan mengembangkan teknik2 dari jepang, Bombardier Canada, dan Siemens Jerman karena Tiongkok sudah sejak dulu di jaman dynasti Qing, sudah membangun akademi teknik dan fakultas pertkeretaapian, dan kemudian membangun universitas2 yang fakultas2nya ditempelkan pada dasar fakultas perkeretaapian. Pabrik baja India puluhan tahun yang lalu juga mulainya kecil2an, beli pabrik pengecoran di Indonesia. Lama2 berkembang, dan tiap kali beli pabrik lain, dapat tambahan teknologi baru, sehingga sekarang ini sangat kuat. Saya ingat puluhan tahun yang lalu, saya pernah datang lihat demonstrasi pengecoran dari ureca bagian mesin. Bagian mesin dari Ureca bikin pengecoran berdasarkan buku. Tidak berhasil, lalu minta bantuan satu pabrik pengecoran di Jakarta. Langsung berhasil, dan mulai dengan pengecoran buat pacul. Sayang, tak lama kemudian terjadi peristiwa 65 Salam, KH
2018-03-25 9:11 GMT+02:00 [email protected] [GELORA45] < [email protected]>: > > > https://www.youtube.com/watch?v=oN5lkasJ7Tw > > > Indonesia akan menyusul tetapi sayangnya teknologinya bukan teknologi dari > Indonesia sendiri. > > > >
