Bukan Hanya Tempo, Ini Sejumlah Media Yang Pernah Diteror Kelompok Intoleran 
https://infonawacita.com/lbh-pers-paparkan-sejumlah-intimidasi-kelompok-intoleran-pada-media/
 Penulis
 Desy Selviany https://infonawacita.com/author/desy/  -

 21/03/2018

 
 Ilustrasi penolakan intoleransi di Indonesia. (Foto: tempo.co/Suryo Wibowo
 INFONAWACITA.COM – Direktur Eksekutif LBH Pers Nawawi Bahrudin mencatat, sejak 
tahun 2016 sudah ada persekusi yang menimpa media massa. Persekusi ini 
dilakukan oleh kelompok-kelompok yang mengatasnamakan agama.
 “Tahun 2016 Kompas juga pernah digeruduk FPI. Karena protes pemberitaan razia 
warung nasi ketika bulan puasa,” terang Nawawi saat konferensi pers di kantor 
LBH Pers, Jakarta pada Rabu (21/3/2018).
 Apa yang dilakukan oleh Front Pembela Islam (FPI) kepada media Tempo, lanjut 
Nawawi Bahrudin, menjadi bukti semakin parahnya kondisi pembiaran persekusi 
yang dilakukan oleh kelompok yang mengatas namakan agama. Khususnya juga kepada 
media di Indonesia.
 Tercatat juga, persekusi terhadap Tempo adalah persekusi yang ke-7 dilakukan 
oleh kelompok yang mengatas-namakan agama.
 Menguat di Pilkada DKI Jakarta Setelahnya, terang Nawawi, kembali terjadi aksi 
persekusi terhadap media secara berturut-turut saat politik identitas menguat 
di Jakarta. Misalnya pada Desember 2016, menimpa jurnalis Tirto.id. Kemudian 
tidak berselang lama menimpa jurnalis Metro TV oleh oknum dari massa aksi 212, 
berlanjut pengepungan mobil Kompas TV yang juga dilakukan oleh oknum aksi massa 
212 pada Feburari 2017. Tidak berselang lama, intimidasi menimpa jurnalis Metro 
TV dan Global TV pada Februari 2017.
 “Terakhir 16 Maret 2018 terhadap Tempo,” imbuhnya.
 Aksi-aksi tersebut, tambah Nawawi, terus berlanjut karena adanya pembiaran 
oleh penegak hukum. Terhadap kelompok-kelompok intoleran yang melakukan 
persekusi terhadap media massa.
 Seharusnya, lanjut Nawawi, pihak Kepolisian RI mengambil sikap lebih proaktif 
untuk melindungi warga negara dari intimidasi kelompok-kelompok tersebut. 
Langkah tegas Kepolisian bisa mencegah aksi-aksi serupa terjadi di kemudian 
hari.
 “Dengan tidak tegasnya Kepolisian, kami menduga hal serupa akan terjadi lagi 
di kemudian hari,” jelasnya. (DS/zh)
 


 

 

Kirim email ke