Rizal: BI harus terbuka ungkapkan data ekonomi
Senin, 26 Maret 2018 17:59WIB

Jakarta (ANTARA NEWS) Ekonom senior Rizal Ramli, mengatakan Deputi Gubernur dan 
Gubernur baru Bank Indonesia harus berani beraterus terang dalam menjelaskan 
data ekonomi Indonesia serta memberikan rekomendasi perbaikan kebijakan bagi 
pemerintah.
“Misalnya, soal pelemahan rupiah, jujur saja bukan hanya karena tekanan 
eksternal, tapi ada juga faktor domestik yang membuat rupiah melemah,” kata 
Rizal yang juga Mantan Menteri Keuangan dan Mantan Menteri Koordinator Bidang 
Perekonomian dalam Rapat Dengar Pendapat di Komisi XI DPR, Jakarta, Senin 
(26/3).
Menurut Rizal, melemahnya nilai tukar rupiah sejak awal tahun hingga Maret 2018 
bukan hanya disebabkan kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat dan rencana 
ekspansi fiskal Presiden Donald Trump, seperti yang kerap disebutkan BI sebagai 
penyebab utama depresiasi rupiah.
Namun, melemahnya rupiah, ujar Rizal, karena juga kondisi ekonomi domestik 
seperti masih banyaknya aliran modal jangka pendek di pasar keuangan, dan juga 
neraca transaksi berjalan yang terus menyisakan lubang defisit.
“Gubernur BI yang sekarang tidak pernah menyebutkan komponen domestiknya yang 
membuat rupiah melemah. Padahal ekonomi kita masih sangat rentan,” ujar dia.
“Selalu disebutkan alasannya, negara negara lain juga mata uang melemah, 
dikomparasikan, padahal ada pekerjaan rumah di kondisi domestik yang bisa 
menjadi catatan BI,” tambahnya.
Untuk perbaikan kebijakan di pasar keuangan, kata Rizal, Gubernur baru BI harus 
mampu berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan serta Otoritas Jasa Keuangan 
agar mampu mengurangi dana asing di pasar keuangan (hot money) dan 
menggantikannya dengan dana asing berjangka panjang.
Selain itu, Pimpinan Bank Sentral juga harus mampu mendorong pemerintah atau 
kementerian di sektor rill agar mampu memperbaiki defisit neraca transaksi 
berjalan, melalui kebijakan di sektor perdagangan.
“Itu adalah beberapa yang menjadi penyebab risiko domestik. Memang banyak yang 
bukan wewenang Gubernur BI, tapi Gubernur BI bisa mendorong itu,” ujar dia.
Rizal juga menyebut tidak tepat jika BI kerap membandingkan rasio utang 
pemerintah dengan Produk Domestik Bruto (Debt to GDP Ratio) Indonesia dengan 
Amerika Serikat. Menurutnya, perbandingan itu sangat tidak proposional dan 
dapat memberikan pemahaman yang keliru.
“Debt to GDP Indonesia yang sebesar 29 persen tidak bisa dibandingkan dengan 
AS. AS adalah negara satu-satunya di dunia yang dapat memproduksi dolar AS dan 
menjualnya ke negara lain. Sementara Indonesia apakah bisa melakukan itu dengan 
rupiahnya?” ujar dia.

Pewarta : Indra Arief Pribadi

Editor : Ruslan Burhan

COPYRIGHT © ANTARA 2018



Kirim email ke