----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: [email protected] [GELORA45] <[email protected]>Kepada: "[email protected]" <[email protected]>Terkirim: Selasa, 27 Maret 2018 04.33.37 GMT+2Judul: [GELORA45] Ternyata si artidjo itu .... mantan penasihat FP{I
Di Kick Andi dia bilang ga takut mati. Lah wong pelindungnya garong2. Payah deh Endonesya. Jangan2 bener deh omongan Prabowo th 2030. kalo liat hakim agungnya saja kaya gitu.kecian deh lu. https://seword.com/umum/ma- tolak-pk-ahok-sudah- diprediksi-hakim-ketuanya- mantan-penasihat-fpi-kok-r1_ b5r85z MA Tolak PK Ahok, Sudah Diprediksi, Hakim Ketuanya Mantan Penasihat FPI Kok - hysebastian - Umum - 14 hours ago - 4 min read - 12.6k Trending Pak Ahok, kami tahu bahwa kami adalah sekelompok orang yang gagal move on dari apa yang sudah Pak Ahok kerjakan kepada kami, para warga Jakarta. Dengan penuh keringat dan air mata, bahkan pengorbanan Bapak, Bapak memimpin kota ini. Entah kekuatan Bapak dari mana. Yang pasti apa yang Bapak kerjakan kepada kota Jakarta ini, berbekas sampai kapanpun. Dari infrastruktur, Anda memikirkan bagaimana cara memaksa para penduduk Jakarta menggunakan transportasi umum. Anda memanjakan warga Jakarta dengan trayek-trayek TransJakarta dan berbagai kemudaan transportasi yang ditawarkan. Bukan alih-alih menyuruh warga mengalihkan kegunaan transportasi pribadi kepada umum, Anda memberikan kami infrastruktur transportasi terlebih dahulu. Di dalam penanggulangan banjir, Anda ibarat avatar banjir, yang bisa mengurangi ratusan titik banjir di Jakarta. Metode kelola pompa yang kau jalankan, sangat efektif. Banjir berkurang jauh, bahkan pada titik-titik yang sebelumnya sangat rawan banjir. Pak Ahok, Anda benar-benar luar biasa dalam membangun infrastruktur jalanan. Percepatan proyek MRT alias moda transportasi yang sudah diwacanakan 20 tahun yang lalu, dijalankan di era Bapak dan Joko Widodo. Percepatan pembangunan Simpang Susun Semanggi, yang sempat dielu-elukan sebagai Simpang Susun Badja, benar-benar sudah teruji. Anda luar biasa. Terima kasih untuk semua hal ini, Pak Ahok. Sayangnya, semua yang kau berikan kepada kami ini, harus tinggal kenangan, yang hanya kami bisa nikmati. Sedikit pun hasil kerjamu, tidak kau nikmati untuk saat ini, sampai satu tahun lebih ke depan. Ini adalah bentuk ironi terbesar, yang mungkin Pak Ahok harus rasakan. Selama mendekam di penjara, apa kabarmu? Apakah kau sehat-sehat saja? Beberapa orang sudah menunggu antrian berjumpa denganmu, untuk dihibur oleh Pak Ahok. Loh? Kok orang yang dipenjara menghibur orang yang di luar penjara? Sosok Pak Ahok begitu luar biasa. Saking luar biasanya, penjara justru bukan tempat kesedihan, melainkan tempat penghiburan bagi para pendukungmu. Waktu yang kau sediakan untuk para pendukungmu, sangatlah banyak. Engkau begitu berdedikasi untuk rakyat ini. Sebagai sesama anak bangsa, kami tahu bahwa Pak Ahok sedang berjuang untuk bangsa dan negaranya. Kami tahu, Pak Ahok bukan Tuhan. Pak Ahok punya begitu banyak masalah yang saya sendiri jujur saja belum bisa tuntas memahaminya. Masalah keluarga, masalah hukum yang tidak berkeadilan, dan masalah ucapan yang dipelintir oleh sekelompok orang yang tidak suka dengan bapak, menggebuk Bapak dalam waktu yang singkat. Bapak harus masuk ke dalam penjara, karena ulah mereka yang tidak bertanggungjawab dan aji mumpung. Peninjauan Kembali alias PK yang Pak Ahok dan kuasa hukum ajukan, ternyata ditolak. Sebenarnya saya tidak heran. Mengapa? Karena hakim Artidjo Alkostar itu pernah diklaim oleh Rizieq sebagai penasihat FPI. Sedangkan musuh besar FPI adalah Pak Ahok sendiri. Jadi sebenarnya, hal ini sudah diprediksi dari awal. Hakim yang tega terhadap koruptor, ternyata tega juga terhadap Pak Ahok. Inikah yang dinamakan keadilan? Ketika Buni Yani divonis bersalah, dan itu menjadi bukti Ahok, tetapi pada akhirnya ditolak, inikah yang dinamakan keberadilan? Atau justru ini adalah sebuah bentuk keberpihakan? Hanya Tuhan dan Artidjo Alkostar yang tahu. Sampai saat ini, saya belum menerima alasan apapun mengenai penolakan PK Ahok. Saya ingin tahu, apa sebenarnya alasan di balik penolakan PK Ahok. Saya yakin, penolakan PK Ahok ini tentu ada alasan. Mahkamah Agung harus bertanggung jawab atas keputusan yang diambil. Mengapa? Karena keputusan MA harus merepresentasikan hukum yang tidak berpihak kepada siapapun, selayaknya Dewi klasik Yunani bernama Justitia. Dewi ini dengan mata tertutup, memegang timbangan dan pedang. Artinya keadilan itu tidak pandang suku, agama, ras, dan antara golongan alias SARA. Dengan pedang yang teracung, Dewi tersebut harus memilah mana yang benar dari yang salah. Apakah MA sudah menjalankan ini, saya tidak tahu. Prinsip keadilan macam apa yang MA saat ini ambil dalam mengambil keputusan PK Ahok, saya tidak tahu.. Saya menunggu dengan seksama, apa yang menjadi pertimbangan MA, dalam menggagalkan PK Ahok. Betul kan yang saya katakan? Jika pembaca Seword ingin melihat dan menikmati buah pemikiran saya yang lainnya, silakan klik link berikut: https://seword.com/author/ hans-sebastian/
