Di Kick Andi dia bilang ga takut mati. Lah wong pelindungnya garong2. Payah deh 
Endonesya. Jangan2 bener deh omongan Prabowo th 2030. kalo liat hakim agungnya 
saja kaya gitu.
 kecian deh lu.
 

 

 https://seword.com/umum/ma- tolak-pk-ahok-sudah- diprediksi-hakim-ketuanya- 
mantan-penasihat-fpi-kok-r1_ b5r85z 
https://seword.com/umum/ma-tolak-pk-ahok-sudah-diprediksi-hakim-ketuanya-mantan-penasihat-fpi-kok-r1_b5r85z

 MA Tolak PK Ahok, Sudah Diprediksi, Hakim Ketuanya Mantan Penasihat FPI Kok 
hysebastian   Umum   14 hours ago   4 min read    12.6k  Trending 
https://seword.com/tag/trending
 

 Pak Ahok, kami tahu bahwa kami adalah sekelompok orang yang gagal move on dari 
apa yang sudah Pak Ahok kerjakan kepada kami, para warga Jakarta. Dengan penuh 
keringat dan air mata, bahkan pengorbanan Bapak, Bapak memimpin kota ini.
 Entah kekuatan Bapak dari mana. Yang pasti apa yang Bapak kerjakan kepada kota 
Jakarta ini, berbekas sampai kapanpun. Dari infrastruktur, Anda memikirkan 
bagaimana cara memaksa para penduduk Jakarta menggunakan transportasi umum.
 

 Anda memanjakan warga Jakarta dengan trayek-trayek TransJakarta dan berbagai 
kemudaan transportasi yang ditawarkan. Bukan alih-alih menyuruh warga 
mengalihkan kegunaan transportasi pribadi kepada umum, Anda memberikan kami 
infrastruktur transportasi terlebih dahulu. Di dalam penanggulangan banjir, 
Anda ibarat avatar banjir, yang bisa mengurangi ratusan titik banjir di Jakarta.
 Metode kelola pompa yang kau jalankan, sangat efektif. Banjir berkurang jauh, 
bahkan pada titik-titik yang sebelumnya sangat rawan banjir. Pak Ahok, Anda 
benar-benar luar biasa dalam membangun infrastruktur jalanan. Percepatan proyek 
MRT alias moda transportasi yang sudah diwacanakan 20 tahun yang lalu, 
dijalankan di era Bapak dan Joko Widodo.
 Percepatan pembangunan Simpang Susun Semanggi, yang sempat dielu-elukan 
sebagai Simpang Susun Badja, benar-benar sudah teruji. Anda luar biasa. Terima 
kasih untuk semua hal ini, Pak Ahok. Sayangnya, semua yang kau berikan kepada 
kami ini, harus tinggal kenangan, yang hanya kami bisa nikmati.
 Sedikit pun hasil kerjamu, tidak kau nikmati untuk saat ini, sampai satu tahun 
lebih ke depan. Ini adalah bentuk ironi terbesar, yang mungkin Pak Ahok harus 
rasakan. Selama mendekam di penjara, apa kabarmu? Apakah kau sehat-sehat saja? 
Beberapa orang sudah menunggu antrian berjumpa denganmu, untuk dihibur oleh Pak 
Ahok.
 Loh? Kok orang yang dipenjara menghibur orang yang di luar penjara? Sosok Pak 
Ahok begitu luar biasa. Saking luar biasanya, penjara justru bukan tempat 
kesedihan, melainkan tempat penghiburan bagi para pendukungmu. Waktu yang kau 
sediakan untuk para pendukungmu, sangatlah banyak.
 Engkau begitu berdedikasi untuk rakyat ini. Sebagai sesama anak bangsa, kami 
tahu bahwa Pak Ahok sedang berjuang untuk bangsa dan negaranya. Kami tahu, Pak 
Ahok bukan Tuhan. Pak Ahok punya begitu banyak masalah yang saya sendiri jujur 
saja belum bisa tuntas memahaminya.
 Masalah keluarga, masalah hukum yang tidak berkeadilan, dan masalah ucapan 
yang dipelintir oleh sekelompok orang yang tidak suka dengan bapak, menggebuk 
Bapak dalam waktu yang singkat. Bapak harus masuk ke dalam penjara, karena ulah 
mereka yang tidak bertanggungjawab dan aji mumpung.
 Peninjauan Kembali alias PK yang Pak Ahok dan kuasa hukum ajukan, ternyata 
ditolak. Sebenarnya saya tidak heran. Mengapa? Karena hakim Artidjo Alkostar 
itu pernah diklaim oleh Rizieq sebagai penasihat FPI. Sedangkan musuh besar FPI 
adalah Pak Ahok sendiri. Jadi sebenarnya, hal ini sudah diprediksi dari awal. 
Hakim yang tega terhadap koruptor, ternyata tega juga terhadap Pak Ahok.
 Inikah yang dinamakan keadilan? Ketika Buni Yani divonis bersalah, dan itu 
menjadi bukti Ahok, tetapi pada akhirnya ditolak, inikah yang dinamakan 
keberadilan? Atau justru ini adalah sebuah bentuk keberpihakan? Hanya Tuhan dan 
Artidjo Alkostar yang tahu.
 

 Sampai saat ini, saya belum menerima alasan apapun mengenai penolakan PK Ahok. 
Saya ingin tahu, apa sebenarnya alasan di balik penolakan PK Ahok. Saya yakin, 
penolakan PK Ahok ini tentu ada alasan. Mahkamah Agung harus bertanggung jawab 
atas keputusan yang diambil. Mengapa?
 Karena keputusan MA harus merepresentasikan hukum yang tidak berpihak kepada 
siapapun, selayaknya Dewi klasik Yunani bernama Justitia. Dewi ini dengan mata 
tertutup, memegang timbangan dan pedang. Artinya keadilan itu tidak pandang 
suku, agama, ras, dan antara golongan alias SARA. Dengan pedang yang teracung, 
Dewi tersebut harus memilah mana yang benar dari yang salah.
 Apakah MA sudah menjalankan ini, saya tidak tahu. Prinsip keadilan macam apa 
yang MA saat ini ambil dalam mengambil keputusan PK Ahok, saya tidak tahu. Saya 
menunggu dengan seksama, apa yang menjadi pertimbangan MA, dalam menggagalkan 
PK Ahok.
 Betul kan yang saya katakan?
 Jika pembaca Seword ingin melihat dan menikmati buah pemikiran saya yang 
lainnya, silakan klik link berikut:
 https://seword.com/author/ hans-sebastian/ 
https://seword.com/author/hans-sebastian/
 



 

 

Kirim email ke