*Agaknya di surga tidak hanya ada taman Firdaus penuh dengan bidadari
cantik nan sexy, tetapi juga ada tanah luas untuk bisa berkebun,jadi kalau
Anda berprofesi sebagai petani atau hanya hobby bercocok tanam pasti bisa
terus berkebun setelah hayat meninggalkan badan. Apakah dibutuhkan
sertifikat tanah seperti yang dibagi-bagikan olehJokowi kepada para
transmigran di Kalimantan Selatan belum lama berselan, masalahnya tidak
jelas. Tetapi bagi yang ingin mendapatkan informasi silahkan berkonsultasi
dengan instansi bersangkutan atau mungkin bisa juga dengan Kementrian
Agraria NKRI.*


https://www.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2018/03/23/138664/mau-berkebun-di-surga.html


Mau Berkebun di Surga?

Jum'at, 23 Maret 2018 - 17:01 WIB

Maukah berkebun di Surga? Bersediakah memiliki kebun di akhirat? Dengan
bergabung dengan program sedekah ini



*DALAM* acara “Gala Dinner Pejuang Baitul Maqdis untuk Negeri yang
Diberkahi” di Hotel Bidakara Jakarta (22/03/2018), ada kisah menarik yang
disampaikan oleh Dr. Nawwaf Takruri (Ketua Ikatan Ulama Palestina Diaspor)
terkait keberkahan dan manfaat sedekah pohon zaitun.

Bagi beliau masalah sedekah pohon zaitun ini bukan perkara sederhana. Di
samping sebagai simbol keberpihakan dan kepedulian umat terhadap tanah
Baitul Maqdis, Palestina, juga kepedulian kita terhadap tanah suci ini,
seakan-akan sedang berkebun atau memiliki kebun di surga.

Dalam kesempatan yang cukup bersahabat ini, beliau mengangkat kisah menarik
mengenai sahabat Nabi bernama Abu Dahdah. Ahmad bin Hanbal dalam
“Musnad”-nya meriwayatkan:

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَجُلاً قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِفُلاَنٍ
نَخْلَةً وَأَنَا أُقِيمُ حَائِطِى بِهَا فَأْمُرْهُ أَنْ يُعْطِيَنِى حَتَّى
أُقِيمَ حَائِطِى بِهَا. فَقَالَ لَهُ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- «
أَعْطِهَا
إِيَّاهُ بِنَخْلَةٍ فِى الْجَنَّةِ ». فَأَبَى فَأَتَاهُ أَبُو الدَّحْدَاحِ
فَقَالَ بِعْنِى نَخْلَتَكَ بِحَائِطِى. فَفَعَلَ فَأَتَى النَّبِىَّ -صلى
الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّى قَدِ ابْتَعْتُ
النَّخْلَةَ بِحَائِطِى. قَالَ فَاجْعَلْهَا لَهُ فَقَدْ أَعْطَيْتُكَهَا. فَقَالَ
رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- «كَمْ مِنْ عَذْقٍ رَدَاحٍ لأَبِى
الدَّحْدَاحِ فِى الْجَنَّةِ». قَالَهَا مِرَاراً. قَالَ فَأَتَى امْرَأَتَهُ
فَقَالَ يَا أُمَّ الدَّحْدَاحِ اخْرُجِى مِنَ الْحَائِطِ فَإِنِّى قَدْ
بِعْتُهُ بِنَخْلَةٍ فِى الْجَنَّةِ. فَقَالَتْ رَبِحَ الْبَيْعُ أَوْ
كَلِمَةً تُشْبِهُهَا

Diriwayatkan dari Anas bin malik radhiyallahu ‘anhu bahwa ada seorang
lelaki yang berkata kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya si
fulan memiliki sebuah pohon kurma dan aku membangun kebun kurmaku disana,
maka perintahkanlah ia memberikan (pohon kurma)nya kepadaku sampai aku
mampu membangun kebun kurmaku disana.”, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
pun lalu bersabda: “Berikanlah kepadanya pohon kurma itu, maka kamu akan
mendapatkan satu pohon di dalam Surga.”

Baca: Mengunjungi Taman Surga
<https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&ved=0ahUKEwj9gY-EloLaAhWEOI8KHTEoCbMQFggsMAA&url=http%3A%2F%2Fwww.hidayatullah.com%2Fkajian%2Foase-iman%2Fread%2F2016%2F10%2F12%2F102499%2Fmengunjungi-taman-surga.html&usg=AOvVaw1A_R3Ob3BPZwjcWA1EUuPr>

Namun pemilik pohon ini menolak, maka Abu Dahdah mendatangginya dan
berkata: “Juallah kepadaku pohon itu dan ambil kebunku”, lalu ia setuju,
lalu Abu Dahdah mendatangi nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata:
“Aku telah membeli pohon tersebut dengan kebunku, berikanlah pohon tersebut
untuknya sungguh aku telah memberikan pohon itu untuknya.”

Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Berapa banyak kurma
yang tinggi besar buah yang dimiliki oleh Abu Ad Dahdah”, (beliau
mengulanginya berkali-kali ucapan itu), lalu Abu  Dahdah mendatangi
istrinya dan berkata kepadanya: “Wahai Ummu Dahdah, keluarlah dari kebun
ini karena aku telah menjualnya dengan satu pohon kurma di dalam surga.”
lalu Ummu Ad Dahdah berkata: “Perdagangan yang mendatangkan keuntungan”,
atau ucapan yang semisal dengannya.”  (HR. Ahmad)

Apa yang dilakukan Abu Dahdah ini mungkin dalam kaca mata orang ‘zaman now’
dianggap kurang waras karena kebun kurma yang sedemikian melimpah pohonnya
ditukar dengan satu pohon. Padahal, dengan pohon yang dimiliki, bisa saja
dia menjadi orang kaya raya saat itu.

Ternyata, cara pandang orang beriman berbeda. Baginya, tidak ada manfaatnya
berkebun di dunia kalau tidak bernilai akhirat. Tidak ada gunanya memiliki
harta yang melimpah tapi tidak berefek sampai Surga. Maka tidak berlebihan
jika berangan memiliki pohon kurma (bahkan kebun) di surga. Dan ternyata,
keinginannya kelak terkabul.

Baca: Imam Izzuddin Membeli Kebun di Surga untuk Istri
<https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=8&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwj9gY-EloLaAhWEOI8KHTEoCbMQFghQMAc&url=http%3A%2F%2Fwww.hidayatullah.com%2Fkajian%2Fhikmah%2Fread%2F2016%2F08%2F05%2F98844%2Fimam-izzuddin-membeli-kebun-di-surga.html&usg=AOvVaw3p-bYWgB1cS4pL7bj_cY0V>

Dalam acara yang diadakan *Spirit of Aqsa* dari jam 18.00 sampai 22.00 ini,
Dr. Nawwaf menekankan bahwa kalau Abu Dahdah dengan sedekah pohon atau
kebunnya bisa memiliki kebun di Surga, lalau bagaimana dengan umat Islam
sekarang yang berpartisipasi bersedekah pohon zaitun di tanah suci, tanah
yang diberkati Al-Aqsha dan demi kebebasan umat Islam di sana, tentu saja
–jika dilakukan dengan ikhlas- hasilnya akan dahsyat dan berujung manis di
akhirat.

Maukah berkebun di Surga? Bersediakah memiliki kebun di akhirat? Dengan
bergabung dengan program sedekah ini, dengan mengikuti jejak langkah Abu
Dahdah, insya Allah yang dibangun umat Islam di surga bukan sekadar kebun,
tapi bisa jadi taman luas nan indah yang keindahan dan pesonanya tidak akan
dijumpai di dunia.

Apa menunggu harta dan kebun kita hancur dulu seperti yang dialami oleh
pemilik kebun yang dengan sangat yakin dan bangga akan memanennya tanpa
memperdulikan Allah sehingga kebunnya ludes dan gagal panen?, lalu mereka
insaf seraya berkata:

عَسَى رَبُّنَا أَن يُبْدِلَنَا خَيْراً مِّنْهَا إِنَّا إِلَى رَبِّنَا
رَاغِبُونَ

*“Mudah-mudahan Tuhan kita memberikan ganti kepada kita dengan (kebun) yang
lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dati Tuhan
kita*.” (QS. Al-Qalam [68]: 32) Pilihan ada di tangan kita
masing-masing.*/*Mahmud
Budi Setiawan*

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar

Kirim email ke