----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: 'Chan CT' [email protected] 
[sastra-pembebasan] <[email protected]>Terkirim: Rabu, 28 Maret 
2018 02.15.42 GMT+2Judul: #sastra-pembebasan# Fw: [GELORA45] Misteri Indonesia 
2030
     

  From: 'j.gedearka' [email protected] [GELORA45] Sent: Wednesday, March 
28, 2018 1:58 AM


 

https://news.detik.com/kolom/d-3938767/misteri-indonesia-2030

Selasa 27 Maret 2018, 11:12 WIB
Kolom

Misteri Indonesia 2030
Anis Matta - detikNewsAnis Matta   Anis Matta (Foto: istimewa)  Jakarta - 
Diskursus tentang kemungkinan Indonesia bubar pada 2030 yang dipicu oleh buku 
Ghost Fleet (2015) dan dikomentari oleh politisi dan para tokoh Indonesia ini 
menarik. Saya ingin menggunakannya sebagai momentum mengukur ketegangan 
geopolitik dunia dan prospek kekuatan Indonesia. Apa yang akan terjadi masih 
misteri. Sejumlah pemikir strategis memperkirakan 2030 adalah titik persilangan 
antara menurunnya dominasi Amerika Serikat dengan menguatnya China di bidang 
ekonomi, teknologi, dan militer. Jika tidak ada interupsi, maka China akan 
menjadi negara adidaya nomor satu dunia. 

Di atas kertas sebenarnya AS masih jauh lebih unggul dari China, dalam hal 
ekonomi, teknologi, apalagi militer. Namun, yang dilakukan China sekarang 
adalah memperkecil jarak, seperti pelari di nomor dua yang sedang bekerja keras 
menyusul pelari pertama. Pada 2030 itulah diperkirakan mereka akan berlari 
seiring. Dalam perspektif strategi perang, ini berarti China akan siap dan 
mampu menghadapi AS jika terjadi eskalasi konflik yang serius di Asia dan 
dunia. 

Masalah di Amerika 

Amerika Serikat memang masih unggul dalam banyak ukuran namun ia sekarang 
tengah bergelut dengan krisis legitimasi para pemimpinnya serta konflik elite 
yang berlarut-larut sejak awal proses pemilihan umum hingga terpilihnya Donald 
Trump sebagai presiden. Krisis ini menyebabkan AS tidak mampu melakukan 
mobilisasi sumber daya besar-besaran karena tidak solidnya kekuatan-kekuatan 
domestik. Jika Amerika memutuskan pergi berperang, hambatan pertama yang akan 
dihadapi adalah penolakan besar-besaran dari rakyatnya sendiri. 

Amerika juga sedang mencari bentuk kebijakan luar negerinya. Slogan Trump "Make 
Amerika Great Again" dan "America First" membuatnya berorientasi ke dalam 
(inward looking) dengan cakrawala yang sempit. Faktor ini yang menyebabkan 
barisan Amerika tampak belum rapi di tengah konflik global yang terus naik 
tensinya. 

Menurunnya kemampuan Amerika melakukan mobilisasi besar-besaran juga disebabkan 
menurunnya kekuatan ekonomi. Jika dulu "Barat" menguasai sekitar 70-80% ekonomi 
global, kini tinggal sekitar 40% karena direbut oleh Asia, khususnya China dan 
India. 

Amerika juga masih limbung karena belum pulih dari terpaan krisis ekonomi 2008. 
Krisis yang dimulai dari kredit macet sektor properti ini berkembang hingga 
memukul jantung kapitalisme, pasar bebas, dan secara khusus meruntuhkan 
kepercayaan kepada sistem keuangan global. Satu per satu raksasa keuangan 
Amerika tumbang, mulai dari Bear Sterns, Lehman Brothers, hingga AIG. Kemudian 
muncul krisis utang di Eropa yang meluluhlantakkan Yunani dan merembet ke 
Irlandia, Portugal, Spanyol, dan Siprus. Bersamaan itu, mulai timbul krisis 
gelombang pengungsi ke Eropa. 

Amerika kehilangan legitimasi di Eropa. Ini tampak dari sikap beberapa negara, 
salah satunya Kanselir Jerman Angela Merkel yang dengan tegas menyatakan sudah 
waktunya Barat tidak lagi tergantung pada kepemimpinan Paman Sam. Di dalam 
negeri, Amerika tidak bisa melakukan konsolidasi elite untuk melakukan 
agenda-agenda besar. 

Kembali ke Ghost Fleet, buku ini bisa dibaca sebagai warning dan provokasi agar 
Amerika segera melakukan interupsi ketika masih dalam posisi unggul. Ada pihak 
yang tidak menginginkan Amerika nantinya harus masuk ke suatu konflik-bahkan 
perang --yang tak mungkin dimenangkannya. 

Masalah di China

Dengan segala glorifikasi sebagai keajaiban ekonomi dari Timur, China bukan 
tanpa masalah. Setelah mencapai puncak pertumbuhan ekonomi 14,2 persen pada 
2007, mulai 2015 hingga sekarang angka pertumbuhan China selalu di bawah 7 
persen dengan tren menurun. Negeri Panda ini belum mendapat momentum lagi untuk 
menggenjot roda perekonomiannya. Padahal, dalam bahasa yang sederhana, tidak 
mudah memberi makan sekitar 1,4 miliar manusia. Konsekuensi dari perlambatan 
ekonomi adalah menurunnya penciptaan lapangan kerja dan kesejahteraan sehingga 
ancaman revolusi sosial terus membayangi negeri itu. 

Masalah kesenjangan ekonomi pun semakin banyak ditulis oleh media 
internasional. Pada akhir 2016, Forbes mengutip penelitian dari Nanjing 
Agricultural University, menggambarkan China yang terbagi dua: tujuh provinsi 
pesisir, yaitu Shanghai, Tianjin, Jiangsu, Zhejiang, Guangdong, Shandong, dan 
Fujian serta bagian Inner Mongolia adalah daerah berpendapatan tinggi; 
sementara daerah lain di pedalaman adalah daerah berpendapatan rendah. 
Pendapatan per kapita di daerah pedalaman hanya 60 persen dari mereka yang 
tinggal di daerah kaya. Tak heran ada yang menyebut, kota-kota pesisir yang 
berkilau seperti Shanghai, Guangzhou, atau Shenzhen tak ubahnya ruang tamu yang 
indah untuk menyembunyikan ruang dalam yang sederhana. 

Namun, Presiden Xi Jinping lebih mampu melakukan konsolidasi ke dalam, terutama 
setelah konstitusi negeri itu menghapus masa jabatan presiden. Ia tidak 
memiliki masalah legitimasi kepemimpinan dan konsolidasi elite seperti yang 
dihadapi Trump. Xi juga lebih mampu mengendalikan masyarakat sipil untuk 
konsolidasi agenda-agenda besar. 

Konsolidasi kekuatan militer tampak dari belanja persenjataan yang terus naik. 
Data resmi menunjukkan pada 2016 belanja militer China USD 146 miliar (Rp 1.900 
triliun), naik 11 persen dari USD 131 miliar pada 2014. Angka ini menempatkan 
China sebagai nomor dua persis di bawah AS. Dari sisi industri pertahanan pun 
China telah menjadi eksportir senjata terbesar nomor tiga dunia, memasok 
persenjataan ke 35 negara dengan pembelian signifikan dari Pakistan, 
Bangladesh, dan Myanmar. 

Dalam perspektif kritis, agenda Xi memperkuat militer juga bertujuan 
mengantisipasi kemungkinan terjadinya pembelahan sosial yang tidak terkendali. 
Konsolidasi elite juga dilakukan dengan memberangus lawan-lawan politiknya 
melalui isu pemberantasan korupsi. 

China dengan cerdas memanfaatkan hamparan kontinen Asia untuk memperkuat posisi 
geopolitiknya melalui pembangunan jalan dan rel kereta serta jalur pipa gas. 
Belajar dari Barat, China juga memperkuat dominasinya dengan membentuk lembaga 
keuangan raksasa Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) dengan 67 negara 
anggota, termasuk sejumlah negara Eropa seperti Belanda, Swiss, Jerman, dan 
Israel. 

China mengadopsi kapitalisme untuk menggenjot pertumbuhan ekonominya, tetapi 
masih menetapkan komunisme dalam sistem ideologi dan politiknya, seraya menjaga 
jarak terhadap kapitalisme global. China bahkan mulai masuk ke isu sensitif 
seperti Palestina-Israel dan konflik Suriah. 

* * *

Mengikuti alur di atas, jika tidak ada interupsi, China akan menjadi negara 
adidaya nomor satu di dunia. Interupsi yang mungkin terjadi adalah krisis 
ekonomi dalam skala besar atau perang. Itulah misteri yang baru akan terjawab 
pada waktunya. Lalu, di mana Indonesia di tengah konflik yang memanas ini? 
Katakanlah, jika Laut China Selatan mengalami eskalasi, apa yang bisa kita 
lakukan? 

Lebih penting lagi, bisakah Indonesia menjadi faktor interupsi agar perimbangan 
kekuatan dunia tetap terjaga sehingga usia perdamaian bisa lebih panjang? Itu 
yang harus dijawab oleh para pemimpin. Jika bisa mengelola semua potensi yang 
dimiliki, seharusnya Indonesia duduk di meja utama perundingan dunia. 

Anis Matta pengamat politik internasional







    

Kirim email ke