https://news.detik.com/kolom/d-3940969/indonesia-di-tangan-kaum-muda?
_ga=2.29722296.600260742.1522258309-1826187598.1522258309
Rabu 28 Maret 2018, 12:20 WIB
Mimbar Mahasiswa
Indonesia di Tangan Kaum Muda
Aiman Nabilah Rahmadita - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-3940969/indonesia-di-tangan-kaum-muda?_ga=2.29722296.600260742.1522258309-1826187598.1522258309#>
Aiman Nabilah Rahmadita
<https://news.detik.com/kolom/d-3940969/indonesia-di-tangan-kaum-muda?_ga=2.29722296.600260742.1522258309-1826187598.1522258309#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-3940969/indonesia-di-tangan-kaum-muda?_ga=2.29722296.600260742.1522258309-1826187598.1522258309#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-3940969/indonesia-di-tangan-kaum-muda?_ga=2.29722296.600260742.1522258309-1826187598.1522258309#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-3940969/indonesia-di-tangan-kaum-muda?_ga=2.29722296.600260742.1522258309-1826187598.1522258309#>
0 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-3940969/indonesia-di-tangan-kaum-muda?_ga=2.29722296.600260742.1522258309-1826187598.1522258309#>
Indonesia di Tangan Kaum Muda Ilustrasi: Mindra Purnomo
<https://news.detik.com/kolom/d-3940969/indonesia-di-tangan-kaum-muda?_ga=2.29722296.600260742.1522258309-1826187598.1522258309#>
<https://news.detik.com/kolom/d-3940969/indonesia-di-tangan-kaum-muda?_ga=2.29722296.600260742.1522258309-1826187598.1522258309#>
<https://news.detik.com/kolom/d-3940969/indonesia-di-tangan-kaum-muda?_ga=2.29722296.600260742.1522258309-1826187598.1522258309#>
<https://news.detik.com/kolom/d-3940969/indonesia-di-tangan-kaum-muda?_ga=2.29722296.600260742.1522258309-1826187598.1522258309#>
*Jakarta* - Sebuah negara yang hingga detik ini tetap menyandang gelar
'berkembang', sebuah surga yang istilahnya masih perlu sentuhan dan
implementasi berkala. Tidak salah lagi bila sudah lama terdengar isu-isu
bahwa kita, sebagai negara yang telah bergabung dengan PBB sejak 1966,
akan turut bergabung bila ada pembaruan program pembangunan lagi dari PBB.
Sebab tiap program pembangunan dari PBB berlandaskan dua konsep, yaitu
kebutuhan dan keterbatasan, yaitu kesadaran akan adanya kebutuhan
masyarakat miskin di negara berkembang, dan adanya keterbatasan
teknologi dan organisasi sosial untuk mencukupi generasi sekarang maupun
yang akan datang.
Hingga akhirnya, belakangan ini, hal itu pun terwujud. Pembangunan
berkelanjutan, atau yang dalam bahasa PBB-nya disebut sebagai SDGs
--sebelumnya memakai istilah MDGs (/Millennium Development Goals/) yang
lahir pada tahun 2000. Diterbitkan pada tanggal 21 di bulan yang sama
dengan Sumpah Pemuda, program ini disahkan pada 2015.
SDGs adalah sebuah program pembangunan berkelanjutan yang terdiri dari
17 tujuan dengan 169 target yang terukur dalam sebuah tenggat waktu,
sejak tanggal disahkannya hingga tahun 2030 mendatang. Secara singkat,
17 tujuan itu dapat dirangkum dalam 3 aspek dasar yang sejalan dengan
prioritas maupun realitas nasional.
Dalam aspek ekonomi, /sustainable development/ atau SDGs ini berhubungan
dengan perkembangan ekonomi serta mencari cara untuk memajukan
perekonomian dalam jangka panjang tanpa menghabiskan modal alam. Sedang
dalam aspek sosial, SDGs bisa disebut sebagai pembangunan yang berkutat
pada manusia dalam hal berinteraksi, yang amat erat kaitannya dengan
aspek budaya. Dalam aspek lingkungan, SDGs berkaitan dengan perlindungan
lingkungan dan membatasi pembangunan agar tidak mencelakai alam maupun
menambah berat pekerjaan rumah (PR) globalisasi yang sudah ada.
Tentu, tujuan mulia itu bukanlah hal yang mudah untuk dicapai tanpa
adanya peran dari berbagai pihak. Kita tidak bisa membebankan saja
semuanya kepada pemerintah dan PBB, dan mengharapkan hasil yang
memuaskan. Kontribusi akademisi, politisi,
/non-//governmental//organization/ (NGO), perusahaan, serta elemen
masyarakat lainnya sungguh dapat menunjang pembangunan yang sangat konkret.
Bayangkan sebuah negara dengan lebih dari 1.000 suku yang berbicara
dalam 700 dialek berbeda, yang lebih lagi tersebar di antara 13.000
pulau sepanjang Samudra Pasifik. Bila Anda dapat membayangkan hal ini,
inilah negara kita, Indonesia. Menyatukan satu bahasa dengan bahasa lain
saja sudah cukup susah, seperti peristiwa pergantian nama belakang
Kerajaan Inggris yang terkesan terlalu 'Jerman' sehingga Sang Raja harus
mengganti nama menjadi /Windsor/ hanya supaya rakyatnya lebih condong
kepada monarki selama Perang Dunia. Lalu, bagaimanakah kabar negara
tercinta ini, yang mengambil /bhineka tunggal ika/ sebagai sumpahnya?
Kekuatan lokal memerankan peran amat penting. Sebuah artikel dari PBB
sendiri berucap bahwa masyarakat umum, pelajar, hingga pemimpin-pemimpin
suku di Indonesia haruslah berpartisipasi lebih dari program lahiran
tahun 2015 ini. Salah satu komentar yang pas untuk menggandeng hal ini
datang dari Mira Tayyiba, Asisten Deputi Pengembangan Ekonomi Kreatif
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, bahwa untuk mewujudkan SDGs
dapat dimulai dari lingkungan kampus, yaitu mahasiswa dan ilmu
pengetahuan itu sendiri.
Untuk mencapai pembangunan berkelanjutan dalam bidang ekonomi, mahasiswa
yang umumnya anak-anak milenial yang besar dengan teknologi dan ilmu
pengetahuan, dapat membuka usaha berbasis ekonomi kreatif demi
mengurangi pengangguran. Langkah kecil yang meninggalkan jejak banyak.
Zaman sekarang, mahasiswa tidak lagi hanya berperan sebagai penonton.
Justru kaum mudalah yang notabenenya memiliki banyak peluang dalam
membangun negeri. Seperti presiden pertama kita pernah berucap,
'/Berilah aku 10 orang pemuda dan akan //kuguncangkan//dunia./' Ditambah
lagi dengan status sebagai anak milenial yang telah disebutkan di atas,
ada banyak kesempatan terbuka gratis untuk kaum muda berinovasi.
Terlebih lagi, anak muda di Indonesia nyaris mencapai 1/3 dari jumlah
penduduk.
Contoh sederhananya, mahasiswa yang sering melakukan penelitian di
lapangan juga dapat membangkitkan kesejahteraan buruh tani dengan
peningkatan kualitas produk sumber pangan, yang secara langsung
mendukung kelancaran tercapainya tujuan SDGs dalam mencapai ketahanan
pangan dan peningkatan gizi, ditambah dengan berkembangnya produk lokal
berarti meningkatkan gaji per kapita per hari (PPP).
Indonesia membutuhkan mereka yang muda dan mampu berpikir kritis,
membuat analisis jernih, mampu terjun sekaligus membuat negeri ini
terlibat dalam konsep /Global Village/ (jadi bagian dunia), alias
menghilangkan hambatan dalam perdagangan global namun tetap mengontrol
agar perekonomian dalam negeri tidak dilindas produk luar.
Peningkatan layanan kesehatan juga merupakan PR penting. Semua dimulai
dari anak masih dalam kandungan hingga umur 2 tahun, di mana bisa
disebut sebagai usia krusialnya. Perhatian khusus ini dapat
diimplementasikan dalam program kesehatan nasional yang sudah atau akan
dicanangkan oleh pemerintah. Tapi ingat, pemerintah pastinya memerlukan
tenaga kerja ataupun SDM untuk melancarkan program-programnya. Di
situlah anak muda dapat berpartisipasi mengambil bagian.
Pendidikan juga harus merata. Sekolah di desa lebih kecil dalam memiliki
peluang untuk mendapatkan fasilitas dan guru yang kualitasnya baik. Hal
sekecil KKN dapat membuat sebuah perubahan. Disparitas kualitas
pendidikan di Indonesia dapat dilihat dari penelitian dari Bank Dunia
bahwa siswa-siswi di Jawa lebih cepat membaca dibanding para siswa di
Papua, NTT, dan Maluku.
Omong-omong tentang Papua, untuk menopang tahun 2025 nanti, ada PR yang
melekat dengan saudara kita yang seringkali terlupakan itu. Dengan judul
'Papua yang Mandiri secara Sosial, Budaya, Ekonomi, dan Politik',
pembangunan berkelanjutan di Papua menginginkan peningkatan dalam
pelayanan kesehatan dan taraf hidup, kualitas, dan peran perempuan,
hingga pendidikan dan aktualisasi budaya Papua.
Sosialisasi amat diperlukan dalam mewujudkan kesejahteraan Papua tahun
2025 tersebut, mengingat masih banyak keterbatasan informasi di Papua
dibanding daerah lainnya. Sedang kalau di pulau Jawa saja tidak banyak
yang benar-benar tahu tentang SDGs, bagaimana dengan Papua?
Diperkirakan pada 2025 penduduk RI akan mencapai 273,65 juta iwa, dengan
usia angka harapan hidup meninggi dari 69 tahun menjadi 73 tahun.
Pendapatan Per Kapita juga diharapkan akan lebih merata, dengan jumlah
penduduk miskin tidak lebih dari 5% dari jumlah keseluruhan. Target yang
lumayan dapat dijadikan PR bagi para aktivis dan pemikir yang /concern/
dengan impian ini dalam bidangnya masing-masing.
Media sosial, sahabat sejatinya anak muda, juga dapat menumbuhkan
optimisme tinggi dalam pencapaian SDGs. Lihat, pengguna internet di
Indonesia mencapai 132 juta, sebuah angka yang lumayan fantastis. Bila
ditilik ke belakang, akhir-akhir ini jalanan sudah diramaikan dengan
ojek berbasis aplikasi /online/, salah satu hasil pemanfaatan teknologi
untuk kreativitas dan produktivitas.
Hal paling sederhana yang sesungguhnya sangat berdampak adalah dengan
keikutsertaan kaum muda dalam dunia pendidikan. Tak perlu disebutkan
lagi bahwa hal itu turut membantu tercapainya tujuan berkembangnya
kualitas pendidikan. Tahun 2015, ada sekitar sekitar 4.500 mahasiswa
sarjana dan pascasarjana yang mendapat beasiswa LPDP. Sungguh angka yang
membanggakan, apalagi pemerintah secara aktif berupaya menarik penerima
beasiswa dari daerah-daerah kurang berkembang.
Ada banyak hal yang dapat dilakukan di dunia kampus. Sebab kampus
memiliki suara yang banyak tidak dimiliki oleh instansi lain. Kampus
dapat menjadi lembaga pemantau, dalam hal ini sebagai penyedia alat
penelitian dan tenaga, juga sebagai pengkritik kinerja pemerintah
apabila tidak maksimal dalam mewujudkan SDGs.
Salah satu tantangan dalam implementasi SDGs juga adalah ketidakpahaman
masyarakat tentang SDGs. Beberapa pihak masih memandang SDGs sebagai
agenda internasional yang terpisah dengan pembangunan nasional dan
daerah. Pemahaman ini tentunya bisa dipatahkan oleh kaum muda lewat
diadakannya seminar serta kajian, sebagai pemupuk pemahaman yang baik.
Ada juga yang merasa bahwa MDGs yang lalu belum berhasil memenuhi
kriteria sebagai pemuas ekspektasi. Mungkin juga hal itu dikarenakan
pemerintah yang kurang melibatkan pemangku kepentingan pembangunan yang
lain. Beberapa orang, istilahnya, masih menyisakan 'trauma' atas MDGs
yang lalu.
Inilah tentunya tantangan yang lagi-lagi menekankan peran lokal dan kaum
muda sebagai keniscayaan yang menyertai pembangunan berkelanjutan. Dan,
bila hal itu sudah terpenuhi, apakah target SDGs dapat terwujud dalam
kurun waktu 7 maupun 12 tahun lagi? Biarlah kaum muda sendiri yang menjawab!
*Aiman Nabilah Rahmadita* /mahasiswi STEI SEBI/
*(mmu/mmu)*