https://fokus.tempo.co/read/1073682/ahli-perang-diplomasi-rusia-barat-mengkhawatirkan
Ahli: Perang Diplomasi Rusia -- Barat
Mengkhawatirkan
Reporter:
Yon Yoseph
Editor:
Budi Riza
Selasa, 27 Maret 2018 13:57 WIB
Presiden Donald Trump, berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin,
saat berjalan menuju sesi foto dalam acara KTT APEC di Danang, Vietnam,
11 November 2017. REUTERS/Jorge Silva
<https://statik.tempo.co/data/2017/11/11/id_662073/662073_720.jpg>
Presiden Donald Trump, berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin,
saat berjalan menuju sesi foto dalam acara KTT APEC di Danang, Vietnam,
11 November 2017. REUTERS/Jorge Silva
*TEMPO.CO*, *Jakarta* - Pengusiran sejumlah diplomat Rusia
<https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=newssearch&cd=2&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwjRyprE84vaAhXDvo8KHZQxDgUQqQIILCgAMAE&url=https%3A%2F%2Fdunia.tempo.co%2Fread%2F1070223%2Famerika-vs-rusia-sanksi-baru-terhadap-2-lembaga-intelijen&usg=AOvVaw2X1IimeQNh0BI866I1d3zz>
dari Amerika Serikat, Australia, Kanada dan negara-negara Eropa,
dianggap menciptakan situasi yang lebih mencekam dari pada Perang Dingin.
Pengusiran sekitar 115 staf diplomatik Rusia dari 22 negara Barat
dilakukan sebagai bentuk protes terhadap insiden racun syaraf eks agen
mata-mata Rusia di Inggris. Seperti dilansir Reuters, bekas anggota
intelijen Rusia, Sergei Skripal dan putrinya, Yulia, terkapar di sebuah
mal di Salisbury, Inggris selatan, pada 4 Maret 2018.
*Baca: Amerika Serikat Usir 60 Diplomat Rusia
<https://dunia.tempo.co/read/1073523/amerika-serikat-usir-60-diplomat-rusia>*
Skripal dan putrinya terkena racun syaraf bernama Novichok, yang
menempel di koper yang dibawa korban. PM Inggris merespon dengan
mengusir 23 orang diplomat dan anggota intelijen Rusia. Ini dibalas
Rusia dengan mengusir 23 diplomat Inggris dan menutup kantor British
Council di St. Petersburg..
Terkait pengusiran besar-besaran terbaru ini, pemerintah Rusia bersumpah
untuk membalas tindakan itu yang dianggapnya sebagai langkah provokatif.
*Baca: 115 Diplomatnya Diusir Negara Barat, /Rusia/ Bakal Balas,
Caranya?
<https://dunia.tempo.co/read/1073642/115-diplomatnya-diusir-negara-barat-rusia-bakal-balas-caranya>*
Sergei Skripal, 66 tahun, dan putrinya Yulia, 33 tahun, dalam kondisi
kritis di rumah sakit saat ini.l [Rex Features]
Ketegangan hubungan antara Barat dan Rusia dalam beberapa tahun
belakangan termasuk konflik proksi di Timur Tengah dan risiko perang
nuklir saat ini, telah diperburuk oleh serangan racun saraf tadi.
Menurut Ivan I. Kurilla, seorang ahli di Hubungan Amerika-Rusia situasi
saat ini mengingatkan kembali para era 1917 saat Revolusi Bolshevik.
"Jika Anda mencari persamaan dengan apa yang terjadi, bukan Perang
Dingin yang dapat menjelaskan peristiwa tetapi rezim revolusioner
pertama Rusia, yang secara teratur membunuh lawan di luar negeri," kata
Kurilla, seorang sejarawan di Universitas Eropa di St. Petersburg.
Kurilla mengatakan Presiden Rusia, Vladimir V. Putin, tidak tertarik
menyebarkan ideologi baru dan mengobarkan revolusi dunia, tidak seperti
Bolshevik awal. Tetapi Rusia di bawah Putin telah menjadi rezim
revolusioner dalam kont3eks hubungan internasional.
Seperti dilansir /New York Times/ pada 26 Maret 2018, Kurilla mengatakan
Rusia saat ini tidak menyukai aturan global, yang didominasi Amerika.
Apalagi Presiden George W. Bush menarik Amerika Serikat dari perjanjian
Rudal Antibalistik, sebuah perjanjian Perang Dingin yang penting, pada
tahun 2002.
Theresa May dan Vladimir Putin. AP
Vladimir Inozemtsev, seorang cendekiawan Rusia di Institut Studi Lanjut
Polandia di Warsawa mengatakan situasi saat ini diperparah oleh sikap
Putin, yang dinilai tidak mengikuti ideologi atau aturan tetap tetapi
melakukan "kebijakan predator," tidak peduli seberapa ilegalnya itu.
Sikap itu, menurut Inozemtsev, tidak pernah dimiliki pemimpin Rusia di
era Perang Dingin. Ini akan meruntuhkan tatanan yang ada di Eropa yang
justru akan mengorbankan Rusia.
Politisi, penyiar, dan penulis terkemuka Inggris, George Galloway, yang
mengecam keputusan Donald Trump dan pemimpin Barat lainnya untuk
mengusir lebih dari 100 diplomat Rusia dan menutup konsulat Rusia di
Seattle, menganggapnya sebagai "deklarasi perang."
Menurutnya pengusiran besar-besaran itu adalah pendahuluan dari
kemerosotan hubungan yang sangat tajam.
Para ahli juga menyebutkan di era Perang Dingin, negara-negara yang
terlibat masih menunjukkan rasa hormat terhadap Perjanjian Kontrol
Senjata Nuklir yang dicapai sejak 1970-an. Namun kini terlihat
perjanjian nuklir sudah tidak dihormati lagi terutama sejak Bush keluar
dari perjanjian Rudal Antibalistik 1972, yang dikenal sebagai Perjanjian
ABM pada 2002.
Dalam pidato kenegaraan pada bulan Februari, Presiden Rusia
<https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=newssearch&cd=2&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwjRyprE84vaAhXDvo8KHZQxDgUQu4gBCC0oATAB&url=https%3A%2F%2Fdunia.tempo.co%2Fread%2F1070233%2Famerika-vs-rusia-ryabkov-siapkan-sanksi-balasan&usg=AOvVaw2KkqDnPYTbECsJh3sZj1L0>,
Putin, mengungkapkan apa yang dia sebut sebagai generasi baru rudal
nuklir jarak jauh, yang "tak terkalahkan". Dia menyalahkan Washington,
yang sebelumnya juga mengumumkan pembangunan rudal nuklir baru yang
lebih canggih.
------------------------------------------------------------------------