Menlu: pasukan PBB tidak lagi bekerja biasa
 Kamis, 29 Maret 2018 12:05 WIB
 
Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi pada Senin mengunjungi pasukan penjaga 
perdamaian Indonesia yang tergabung di misi penjaga perdamaian PBB UNIFIL di 
markas Indobatt (Indonesian Battalion) di Adchit Al-Qusayr, Lebanon Selatan. 
(Dokumentasi Kemlu)

Jakarta (ANTARA News) - Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi dalam pidatonya di 
Debat Terbuka Dewan Keamanan PBB menyampaikan bahwa pasukan penjaga perdamaian 
dan keamanan PBB tidak bisa lagi hanya bekerja seperti biasa (business as 
usual) dalam menghadapi tantangan di lapangan sekarang ini.

"Pasukan Keamanan PBB tidak bisa lagi bekerja business as usual, peacekeepers 
harus terlatih dengan baik, diperlengkapi dengan baik dan didukung sumber daya 
yang memadai," kata Menlu Retno Marsudi, seperti disampaikan dalam keterangan 
pers yang diterima di Jakarta, Kamis.

Pernyataan tersebut disampaikan Menlu RI pada debat terbuka DK PBB bertema 
"Collective Action to Improve UN Peacekeeping Operations" di hadapan 15 Anggota 
Dewan Keamanan (DK) PBB dan seluruh peserta debat, di Markas Besar PBB, New 
York, Rabu (28/3).

Pada kesempatan itu, Menlu RI menekankan pengembangan kapasitas pasukan penjaga 
perdamaian dan keamanan PBB harus disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan.

Lebih lanjut Menlu RI menyampaikan agar DK PBB terus mendorong inovasi dalam 
pembelian peralatan untuk misi pemeliharaan perdamaian, termasuk pengunaan 
industri strategis dari negara berkembang.

Menlu Retno juga menegaskan pentingnya peningkatan kemitraan dan koordinasi 
dengan seluruh pemangku kepentingan termasuk dengan organisasi regional.

Menlu RI diberi kesempatan sebagai pembicara pertama setelah 15 negara anggota 
DK PBB berbicara.

Sebagai koordinator ASEAN untuk DK-PBB, Menlu RI menyampaikan pidato atas nama 
ASEAN dan Indonesia. Untuk pertama kalinya, ASEAN, sebagai organisasi regional, 
menyampaikan pendapat di depan DK PBB.

Debat terbuka itu diselenggarakan di bawah presidensi Belanda di Dewan Keamanan 
PBB. Pertemuan dipimpin oleh Perdana Menteri Belanda Mark Rutte dan Sekretaris 
Jenderal PBB Antonio Guterres selaku pemapar. Sebanyak 13 pejabat setingkat 
menteri serta 69 negara anggota PBB ikut serta dalam debat terbuka itu.

Tema debat terbuka yang diusung Belanda dilatarbelakangi oleh semakin 
meningkatnya jumlah personil pasukan keamanan PBB yang menjadi korban dalam 
berbagai serangan dan ancaman kemananan terhadap misi PBB. Tercatat 57 korban 
selama 2017 dan merupakan jumlah terbesar selama dua dekade.

Selain itu, debat terbuka tersebut juga mencoba untuk membahas proses politik 
bagi penyelesaian konflik di berbagai Misi Pemeliharaan Perdamaian PBB.

Baca juga: Menlu: Kontingen Garuda UNIFIL terus jaga perdamaian 
Pewarta: Yuni Arisandy Sinaga
Editor: Ida Nurcahyani

Kirim email ke