RI Berpeluang Tingkatkan Ekspor ke AS dan Tiongkok
ID | Rabu, 28 Maret 2018 | 11:51

http://sp.beritasatu.com/home/ri-berpeluang-tingkatkan-ekspor-ke-as-dan-tiongkok/123396



Donald Trump dan Xi Jinping [Istimewa] [JAKARTA] Indonesia diyakini bisa 
mengambil peluang dari perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok, 
karena produk-produk yang menjadi sasaran perang dagang kedua negara itu dapat 
disubstitusi oleh produk-produk Indonesia. Tiongkok di antaranya telah 
menetapkan sekitar 120 produk AS yang bakal dikenai tarif bea masuk, sehingga 
Indonesia bisa memetakan produk-produk tersebut untuk dijadikan peluang ekspor.

Presiden AS Donald Trump telah menandatangani kebijakan pembatasan impor dengan 
menetapkan tarif 25% untuk baja dan 10% untuk alumunium dari Tiongkok. Hal 
tersebut dapat menjadi peluang untuk meningkatkan ekspor aluminium Indonesia ke 
AS. Saat ini kontribusi ekspor aluminium ke AS mencapai sekitar 31% dari total 
ekspor aluminium Indonesia.

Perang dagang antara AS dan Tiongkok dipicu oleh kebijakan poteksionisme Donald 
Trump. Dia pun menuding Tiongkok tidak menerapkan perdagangan secara adil 
sehingga membuat defisit neraca perdagangan AS terus meningkat. Berdasarkan 
data US Census Bureau, pada 2017, AS mencatatkan defisit neraca perdagangan 
sebesar US$ 375,23 miliar dengan Tiongkok, atau meningkat dibandingkan tahun 
2016 sebesar US$ 347,02 miliar dan tahun 2015 sebesar US$ 367,26 miliar.

Tiongkok siap bereaksi atas kebijakan AS tersebut dengan menerapkan tarif impor 
untuk produk ekspor unggulan AS seperti daging babi, aluminium daur ulang, pipa 
baja, buah-buahan, dan minuman anggur.

Sementara itu, berdasarkan data Kementerian Perdagangan RI, neraca perdagangan 
Indonesia mencatatkan surplus sebesar US$ 9,67 miliar dengan AS pada 2017, atau 
meningkat dari posisi tahun 2016 sebesar US$ 8,84 miliar. Sebaliknya, Indonesia 
mencatatkan defisit perdagangan sebesar US$ 12,72 miliar dengan Tiongkok pada 
2017 dan US$ 14,01 miliar pada 2016.

“Ada 120 produk, mungkin di antaranya pipa baja, daging babi, dan anggur. Untuk 
produk tersebut mungkin kita nggak bisa ambil peluang, tapi yang lainnya kita 
bisa ambil, kan 120 produk itu beragam,” kata Kepala Ekonom PT Bank Central 
Asia Tbk David Sumual, Senin (26/3).

Kendati demikian, David mengatakan, Indonesia tetap perlu meminimalisasi dampak 
perang dagang dengan melakukan diversifikasi produk dan tujuan ekspor. Artinya, 
negara tujuan ekspor RI harus diperluas.

Senada dengan David, analis dari Recapital Securities Kiswoyo Adi Joe 
mengungkapkan, Indonesia bisa mengambil peluang dari perang dagang AS-Tiongkok 
untuk meningkatkan ekspor ke kedua negara tersebut. Tiongkok di antaranya bisa 
saja menerapkan tarif bea masuk (impor) untuk produk jagung dan kedelai, dan 
hal tersebut dapat menguntungkan produk sawit Indonesia.

“Kalau jagung dan kedelai AS dikenai tarif bea masuk/impor oleh Tiongkok, kan 
produk sawit kita menjadi lebih murah. Kita bisa ekspor sawit ke sana,” ujar 
Kiswoyo.

Memanfaatkan

Anggota Komisi XI DPR dari Fraksi Partai Golkar Muhammad Sarmuji mengatakan, 
dampak proteksionisme AS terhadap Indonesia tergantung bagaimana 
memanfaatkannya.

“Ibarat mengayuh di antara dua karang, harus jitu benar langkahnya. Salah satu 
langkah yang diambil adalah memacu ekspor ke AS dengan mencari komoditi apa 
yang selama ini diimpor dari Tiongkok yang kita dapat memproduksinya dan 
mengekspornya,” kata Sarmuji.

Dia mencontohkan, aluminium yang kebetulan Indonesia sudah mengekspor ke 
Amerika, Tiongkok juga mengekspor, maka dapat menggantikan porsi ekspor 
Tiongkok ke Amerika dengan produk aluminium Indonesia.

“Nilai ekspor Tiongkok ke Amerika sangat besar untuk dapat kita gantikan 
sebagian. Amerika juga secara tradisional merupakan negara tujuan ekspor 
terbesar kedua setelah Tiongkok. Jadi eksportir Indonesia sebenarnya sudah 
hafal benar bagaimana cara ekspor ke AS. Sekarang peluang menjadi lebih besar 
setelah ada perang dagang dengan Amerika,” kata dia.

Secara otomatis, lanjut dia, jika ekspor dan cadangan devisa (cadev) meningkat 
maka stabilitas mata uang akan semakin baik.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima 
Yudistira Adhinegara juga berpendapat, Indonesia bisa melakukan negosiasi 
bilateral dengan AS untuk menjadi pengganti impor barang dari Tiongkok yang 
dihambat. “Ketika impor dari Tiongkok berkurang, AS tetap butuh bahan baku 
industri, jadi Indonesia bisa substitusi Tiongkok. Syaratnya, kapasitas 
produksi domestik harus kuat untuk penuhi permintaan AS,” jelas dia.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, dampak langsung bagi ekspor 
Indonesia ke AS setelah pemerintah AS mengenakan tarif impor untuk baja 
cenderung marginal mengingat kontribusi ekspor baja ke AS relatif kecil, yakni 
sekitar 1-2% dari total ekspor baja Indonesia.

Namun demikian, akan cukup berdampak bagi ekspor aluminium ke AS mengingat 
kontribusi ekspor aluminium ke AS mencapai sekitar 31% dari total ekspor 
aluminium Indonesia.

Di sisi lain, dia menilai dampak dari proteksionisme AS tersebut adalah potensi 
peningkatan impor baja dan aluminium dari Tiongkok yang berpotensi akan 
mendorong pelebaran defisit perdagangan Indonesia dengan Tiongkok dari tahun 
lalu yang mencapai defisit US$ 12,72 miliar.[ID/M-6]



Kirim email ke