https://nasional.tempo.co/read/1074433/pengamat-ungkap-risiko-anies-baswedan-jika-jadi-cawapres-prabowo
Pengamat Ungkap Risiko Anies Baswedan Jika
Jadi Cawapres Prabowo
Reporter:
Imam Hamdi
Editor:
Juli Hantoro
Kamis, 29 Maret 2018 13:45 WIB
Prabowo Subianto mengucapkan selamat kepada Anies Baswedan usai dilantik
sebagai Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022 di Istana Negara,
Jakarta, 16 Oktober 2017. TEMPO/Subekti.
<https://statik.tempo.co/data/2017/10/16/id_655444/655444_720.jpg>
Prabowo Subianto mengucapkan selamat kepada Anies Baswedan usai dilantik
sebagai Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022 di Istana Negara,
Jakarta, 16 Oktober 2017. TEMPO/Subekti.
*TEMPO.CO*, *Jakarta* - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan
<https://nasional.tempo.co/read/1074358/elektabilias-anies-baswedan-sebagai-capres-dan-cawapres-di-survei>
dan mantan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo masuk dalam radar calon
wakil presiden untuk mendampingi Prabowo Subianto.
<https://nasional.tempo.co/read/1074256/soal-pencapresan-desmond-gerindra-keputusan-di-tangan-prabowo>
Menurut pengamat politik Universitas Islam Negeri Syarief Hidayatullah
Adi Prayitno, memang kedua nama tersebut yang dianggap bisa membantu
mengerek nama Prabowo di Pilpres 2019.
"Yang beredar untuk cawapres Prabowo memang Anies dan Gatot," kata Adi
saat dihubungi, Kamis, 29 Maret 2018. Namun, ada untung rugi jika
menggaet salah satu dari dua tokoh tersebut.
Baca juga: Gerindra Ajak PKS Bahas Anies Baswedan untuk Cawapres Prabowo
<https://nasional.tempo.co/read/1073749/gerindra-ajak-pks-bahas-anies-baswedan-untuk-cawapres-prabowo>
Anies Baswedan, kata dia, memang sangat berpeluang dan bisa diolah untuk
mendampingi Prabowo, karena popularitasnya yang menjulang. Bahkan, nama
Anies menjadi sangat dikenal setelah memenangkan Pilkada DKI Jakarta
tahun kemarin. Ditambah, Anies dianggap bisa memolekan dirinya sendiri.
Namun, masalahnya, menurut dia, tidak mudah bagi Anies begitu saja
meninggalkan jabatannya yang sekarang, untuk bertarung pada Pilpres
2019. Apalagi, posisinya mendampingi Prabowo berisiko, melihat lawannya
adalah Joko Widodo, yang elektabilitasnya sudah menjulang tinggi.
"Menjadi calon wakil presiden Prabowo berisiko. Yang ada sudah jatuh
tertiban tangga pula, karena kalah," ujarnya. "Saat menjadi gubernur
juga bukan perkara mudah. Ada pengorbanan darah dan air mata. Bahkan,
meninggalkan luka yang begitu mendalam."
Anies Baswedan akan mengalami dilema jika diminta menjadi pendamping
Prabowo. Bahkan, Anies akan sulit meninggalkan posisinya saat ini. Lebih
baik, kata dia, Anies Baswedan berkonsentrasi menjadi Gubernur DKI.
Sebab, jika Anies Baswedan
<https://nasional.tempo.co/read/1074321/gaya-mengelak-anies-baswedan-ditanya-jadi-cawapres-prabowo>
dinilai lebih baik dari gubernur sebelumnya, tidak mustahil dia akan
menjadi kandidat terkuat untuk menjadi presiden setelah ini. "Jadi
sekarang investasi dulu. Kalau sampai Anies buru-buru, bisa layu sebelum
berkembang. Gubernur kalah, di Pilpres kalah."
Baca juga: Ditanya Soal Cawapres, Anies Baswedan Ingin Fokus RPJMD
<https://metro.tempo.co/read/1074258/ditanya-soal-cawapres-anies-baswedan-ingin-fokus-rpjmd>
Sedangkan, Gatot Nurmantyo saat ini memang terlihat mendekat ke
Gerindra. Bahkan, Gatot kerap memuji Prabowo di beberapa kesempatan.
"Gatot memang mungkin diterima. Dan Prabowo mendapatkan pendamping yang
elektabilitasnya lumayan," ujarnya.
Namun, menaikkan Gatot akan menutup partai politik lain menjadi koalisi
Gerindra. Jika Gatot dipilih menjadi cawapres, diperkirakan hanya akan
ada dua partai pengusung, yakni Gerindra dan PKS. "Jangan harap dari PAN
dan partai lainnya. Karena pintu sudah ditutup dengan mengambil Gatot,"
ujarnya.