Pergantian Pejabat DKI: Serangan ke Ahok Kena Anies Baswedan


| 
| 
| 
|  |  |

 |

 |
| 
|  | 
Pergantian Pejabat DKI: Serangan ke Ahok Kena Anies Baswedan

Irsyan Hasyim (Kontributor)

Menurut Trubus, serapan anggaran pada periode Ahok lebih baik daripada masa 
Anies Baswedan. Penyerapan Triwulan ...
 |

 |

 |



Reporter: 
Irsyan Hasyim (Kontributor)
Editor: 
Jobpie Sugiharto
Senin, 2 April 2018 18:56 WIB

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok bertemu dengan Gubernur 
DKI terpilih Anies Baswedan di Balai Kota Jakarta, 20 April 2017. Humas Pemprov 
DKI

TEMPO.CO, Jakarta - Pengamat Kebijakan Publik Trubus Rahadiansyah mengatakan, 
penyakit kronis birokrasi di Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yakni lemahnya 
penyerapan anggaran. Masalah ini pernah digunakan oleh Gubernur Anies Baswedan 
dan wakilnya, Sandiaga Uno, untuk menyerang pejabat sebelumnya yakni Basuki 
Tjahaja Purnama alias Ahok.

“Ironisnya, kini Anies Baswedan dan Sandiaga Uno seperti menelan ludah sendiri 
karena mengalami hal yang sama, ” kata Trubus pada saat dihubungi Tempo hari 
ini, Senin, 2 Maret 2018.

Menurut Trubus, bahkan pada era Anies Baswedan kondisinya lebih buruk 
dibandingkan serapan anggaran pada periode Ahok. Pada 2016, serapan anggaran 
semester pertama DKI Jakarta 33,06 persen atau sebesar Rp 19,8 triliun dari 
total Rp67,1 triliun. Sedangkan pada 2017, anggaran yang terserap pada periode 
yang sama hanya 25,31 persen atau Rp 16,1 triliun dari total Rp 63,61 triliun.

Dia lantas merujuk informasi pada website publik.bapedadki.net bahwa per 27 
Maret 2018 dana yang dibelanjakan oleh seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah 
(SKPD) hanya Rp 5,8 triliun atau 8,1 persen dari total anggaran. Ini menunjukan 
serapan anggaran di jajaran SKPD DKI Jakarta pada Triwulan I 2018 masih jauh 
dari target yang direncanakan oleh Anies Baswedan, yakni 90 persen.

Baca: Yusril Sebut Ahok Mustahil Jadi Capres, Ini Tanggapan Fifi Lety

Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno mengatakan berencana merombak jabatan 
sejumlah pegawai negeri sipil pada pertengahan April 2018 karena seretnya 
penyerapan anggaran yang hingga Triwulan I 2018 baru 6 persen. "Panitia 
seleksinya sudah mulai dibentuk. Kemarin sudah ada pertemuan awal," katanya di 
sela-sela acara Fast Open Archery Tournament 2018 di Gelanggang Olahraga (GOR) 
Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur, pada Sabtu, 31 Maret 2018.

Trubus, yang juga Dosen Universitas Trisakti, menuturkan bahwa argumentasi yang 
dibangun oleh Anies Baswedan dan Sandiaga Uno dalam menangani rendahnya 
penyerapan anggaran belum menyentuh akar persoalan. Akar masalahnya adalah 
ketidakmampuan Gubernur untuk melakukan konsolidasi internal birokrasi 
Pemerintah Provinsi DKI.

“Gubernur kurang mampu mendorong SKPD untuk mencapai target yang ditetapkan,” 
ucapnya.

Anies Baswedan dan Sandiaga Uno juga dinilai kurang kapabilitas untuk 
mengontrol anak buah dalam mengimplementasikan program. Ada kendala psikologis 
Gubernur DKI untuk mengintervensi perangkat bawahannya karena sebagian staf 
birokrasi diangkat di era Ahok dan Djarot Saiful Hidayat. Trubus malah melihat 
ada kecenderungan perangkat di bawah Anies Baswedan melakukan "pembangkangan" 
setelah mendengar akan dilakukan mutasi besar-besaran

Di sisi lain, Gubernur Anies Baswedan mengatakan, penyerapan anggararan seret 
karena pembelanjaan baru dieksekusi pada pertengahan tahun. Bahkan, sebagian 
program dilaksanakan pada akhir tahun. “Itu yang mau digeser," katanya. Maka 
dia berharap pada 2018 pelaksanaan belanja diupayakan di tengah tahun, bahkan 
awal tahun.

Adapun Sandiaga Uno berpendapat bahwa banyak faktor yang menyebabkan penyerapan 
anggaran DKI sangat rendah. Salah satu penyebabnya, kinerja pegawai yang belum 
optimal. "Apa ada yang salah di dinas-dinas? Nah, ini yang kami harapkan jadi 
masukan nanti saat melakukan perombakan," ujarnya.

Sandiaga Uno meminta anak buahnya tidak khawatir dengan rencana perombakan ini. 
"Enggak usah waswas." Dia berjanji perombakan dan pergantian posisi akan 
disesuaikan dengan keahlian masing-masing. Sistem merit atau pengelolaan tenaga 
kerja berdasarkan kinerja dan keahlian ketimbang koneksi politik akan 
diterapkan dalam perombakan ini.

Trubus mengutarakan keengganan sebagian besar pegawai untuk berinovasi di era 
disruptif menjadi akar rendahnya layanan publik. Loyalitas yang rendah dan 
disertai tingkat kompetensi pegawai yang minim menyebabkan instruksi gubernur 
kurang bisa dilaksanakan secara optimal dan tidak berjalan efektif. Meskipun 
Gubernur DKI telah membentuk Tim Khusus Penyerapan Anggaran sejak Januari 2018 
untuk membantu agar penyerapan APBD 2018 bisa lebih baik, namun dalam 
prakteknya tidak berpengaruh pada peningkatan kinerja.

"Tak berpengaruh bila tidak disertai pengawasan yang memadai," kata Trubus.

Menurut dia, Tim tadi punya tugas berat yakni mengubah pola pikir jajaran SKPD 
agar tidak ada lagi praktik penyerapan anggaran besar-besaran di akhir tahun. 
Telah menjadi adat tradisi yang mendarah daging di Pemerintah Provinsi DKI 
yakni SKPD terbiasa baru melakukan penyerapan anggaran secara besar-besaran di 
penghujung tahun. Seharusnya, penyerapan anggaran di pos-pos belanja daerah 
yang bersentuhan langsung dengan masyarakat seperti pendidikan, kesehatan dan 
transportasi, bisa dimaksimalkan pada tiap kuartal.

Politikus Partai NasDem Bestari Barus menyoroti rendahnya serapan anggaran 
pemerintah DKI Jakarta pimpinan Gubernur Anies Baswedan dan Wakil Gubernur 
Sandiaga Uno (Anies-Sandi) pada triwulan pertama 2018. Dia menilai hal itu 
disebabkan SKPD sibuk mengikuti pendidikan.

"Kemarin itu terlalu sibuk eselon II dan III ikut pendidikan selama hampir 
sebulan lebih, mungkin itu jadi penyebab," ujarnya kepada Tempo, pada Minggu, 1 
April 2018.

Menurut Bestari, seharusnya Anies menyeleksi SKPD yang mengikuti pendidikan.. 
Sehingga, kata dia, tak terjadi kekosongan SKPD dalam penyerapan anggaran.. 
"Jadi tak berantakan di dalam penyerapan anggaran," katanya.

Bestari mengatakan seleksi pendidikan tak serta merta diikuti semua anggota 
SKPD. Selain itu, dia melanjutkan, seleksi juga lebih baik dilakukan pada 
pertengahan tahun, seperti Juni dan Juli. "Ini karena gubernur baru semuanya 
ingin ikut seleksi. Saya kira tak harus seperti itu," ucapnya.

Di sisi lain, Bestari menilai perombakan jabatan sejumlah pegawai negeri sipil 
(PNS) akibat rendahnya serapan tak menjadi masalah. Menurut dia, beberapa 
perombakan perlu dilakukan untuk berbenah dan dikonsolidasikan agar anggaran 
terserap dengan baik. "Gubernur (Anies Baswedan) harus punya keyakinan bahwa 
timnya nanti harus bisa menjadi tim yang baik dalam penyerapan," tutur Bestari 
yang partainya mendukung Ahok pada Pilkada DKI 2017.





Kirim email ke