DIUNDUH dari Facebook 

Facebook



| 
| 
|  | 
Facebook


 |

 |

 |




Dhia Prekasha Yoedha membagikan kiriman Wahyu Sutono.
1 April pukul 15:37 · Wahyu SutonoIkuti30 Maret pukul 12:40 · 
PRABOWO SALAH ALAMAT

Prabowo Subianto, Ketua Umum Partai Gerindra, kembali melakukan blunder karena 
tidak tahu bila penetapan Indonesia sebagai tuan rumah Asian Games 2018 oleh 
Dewan Eksekutif Dewan Olimpiade Asia terjadi pada tanggal 19 September 2014 
atau 30 hari sebelum Jokowi dilantik pada tanggal 20 Oktober 2014.

Secara nalar bila pemerintah SBY menerima keputusan Indonesia sebagai tuan 
rumah Asian Games 2018 tentulah sudah ada cetak biru terkait dengan 
penyelenggaraan pekan olahraga Asia itu. Kalau saja pemerintah SBY-Boediono 
sudah menyiapkan cetak biru pembangunan sarana olahraga dan persiapan atlet 
untuk Asian Games 2018 tentulah pemerintah Jokowi tidak kalang kabut.

Rupanya Prabowo hanya melihat ekor persoalan. Dengan berapi-api Prabowo 
mengatakan: “Asian Games itu memakai uang rakyat. Berapa triliun uang rakyat 
yang dipakai untuk membangun infrastruktur? Padahal, tahun ini gilirannya 
Vietnam yang menjadi tuan rumah.”

Prabowo salah alamat mengkritisi pemerintahan Jokowi. Yang lebih arif adalah 
meminta pertanggungjawaban kepada SBY-Boediono mengapa menerima keputusan yang 
menetapkan Indonesia sebagai tuan rumah Asian Games 2018. Semula Asian Games 
XVIII dilangsungkan tahun 2019, tapi karena bertepatan dengan Pemilu Legislatif 
dan Presiden maka dimajukan ke tahun 2018.

Bila langkah ini yang ditempuh Prabowo itu namanya pemimpin yang ciamik karena 
menyasar fakta. Celakanya, Prabowo mengkritisi pemerintah Jokowi disaat 
penyelenggaraan sudah sangat mepet, yakni tanggal 18 Agustus - 2 September 2018 
di Jakarta Palembang. Jumlah cabang olahraga yang akan dipertandingkan pada 
Asian Games 2018 sebanyak 41 cabang, terdiri atas 33 cabang olahraga olimpiade 
dan 8 cabang olahraga non olimpiade.

Perlu dipahami bahwa tidak ada lagi celah bagi Jokowi untuk menolak atau 
membatalkan Asian Games 2018 karena sudah diterima oleh SBY. Lagipula mungkin 
saja ada konsekuensi kalau membatalkan atau mengundurkan diri setelah 
ditetapkan. Prestasi olahraga nasional yang terpuruk tidak semata-mata karena 
gizi buruk. Atlet di beberapa cabang olahraga hanya menjalani olahraga itu saat 
latihan, seperti balap sepeda. Ini terjadi karena fasilitas olahraga yang tidak 
mendukung dan pembinaan yang tidak konsisten.

Selain itu sarana, dalam hal ini lapangan dan peralatan, yang juga sangat 
minim. Seperti lapangan sepak bola di sebuah kota atau kecamatan yang bisa 
dihitung dengan jadi. Pemerintah dan masyarakatpun tidak adil dalam menilai 
prestasi olahraga. Hanya sepakbola dan bulutangkis yang dijadikan ‘dewa’ dalam 
olahraga nasional, padahal penyumbang medali terbanyak ada di atletik dan 
renang.

"Salam NKRI Gemilang"

Kirim email ke