http://internasional.republika.co.id/berita/internasional/asia/18/04/08/p6ubpm384-dino-dorong-semenanjung-adopsi-penyelesaian-konflik-aceh
Dino Dorong Semenanjung Adopsi Penyelesaian Konflik Aceh

Ahad 08 April 2018 07:22 WIB

Red: Andi Nur Aminah


[image: Dino Patti Djalal]Dino Patti Djalal

Foto: Yogi Ardhi/ Republika

*Walau berbeda situasi, ada beberapa rumus yang bisa digunakan untuk
melihat ke depan.*

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Pendiri Komunitas Kebijakan Luar Negeri
Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal mendorong pihak-pihak bertikai di
Semenanjung Korea mengadopsi cara penyelesaian konflik di Aceh dan Timor
Timur atau Timor Leste. Saat bertemu Wakil Presiden Korea Utara Kim Yong
Dae dan jajaran pejabat di Pyongyang pada 3-7 April 2018, dia menyampaikan
beberapa hal tentang penyelesaian konflik itu.

"Walaupun situasi berbeda (antara Semenanjung dan Aceh-Timtim, Red), ada
beberapa rumus yang bisa digunakan untuk melihat ke depan," kata mantan
Wakil Menteri Luar Negeri itu, di Beijing, Cina, Ahad (8/4).


Ia menyebutkan keempat faktor terpenting yang efektif mengatasi konflik
adalah kompromi, membangun rasa saling percaya, sabar, dan gigih. Menurut
dia, konflik di ujung tenggara dan barat laut wilayah NKRI itu berlangsung
dalam waktu yang relatif lama, sehingga kesabaran dan kegigihan mutlak
diperlukan.

Dino bersama tujuh pakar Asia lainnya yang tergabung dalam 'Track 2
Delegation' mendapatkan undangan dari Pemerintah Korut untuk dimintai
pendapatnya. Sepulang dari Pyongyang, Sabtu (7/4), siangnya, para delegasi
yang terdiri atas Indonesia sebanyak dua orang ditambah Myanmar, Selandia
Baru, Thailand, Vietnam, Filipina, dan Kamboja masing-masing satu orang itu
singgah di Beijing.

Para delegasi di bawah kepemimpinan Dino itu berlatar belakang pengusaha,
akademisi, peneliti, aktivis, dan lembaga swadaya masyarakat. "Sejak tahun
lalu kami mendorong perdamaian di Semenanjung, namun baru kali ini kami
dipanggil. Mereka (pejabat Korut, FRed) tahun depan akan mengundang kami
lagi," kata mantan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat itu pula.

Ia menganggap kedatangan delegasi di luar lembaga pemerintahan itu sebagai
momentum yang tepat di tengah meningkatnya intensitas komunikasi antara
Korut dengan China, AS, Jepang, dan Korsel untuk mengakhiri krisis nuklir
di Semenanjung. "Memang komunikasi mereka sejauh ini masih defensif dan
konfrontatif. Kami menawarkan model komunikasi yang berbeda sesuai dengan
pengalaman masing-masing delegasi," ujarnya.

Para delegasi tersebut selama di Korut mendiskusikan beberapa isu
kontemporer. Para delegasi juga berbagi pengalaman di negaranya
sendiri-sendiri. "Berbagai isu strategis yang dibahas, di antaranya
ekonomi, pendidikan, pertanian, dan tantangan pada masa mendatang," katanya.

Indonesia bersama Vietnam dan Myanmar pernah mendapatkan sanksi dari Barat.
Saat ini Korut yang terkena sanksi dari PBB sebagai konsekuensi mengabaikan
peringatan uji coba senjata nuklir. "Soal krisis nuklir, mereka (pejabat
Korut, Red) sendiri yang menyampaikan perkembangannya. Alhamdulillah ada
perkembangan secara diplomatik dengan kehadiran kami," kata Dino pula.

Sumber : Antara

Kirim email ke