Tak Cuma Senyum, Soeharto Juga Bisa Marah
Soeharto. FOTO/LIFE
12 April 2018https://tirto.id/tak-cuma-senyum-soeharto-juga-bisa-marah-cHDm
Di balik pembawaannya yang tenang, kalem, dan murah senyum, Soeharto ternyata 
bisa juga meledak saat kemarahannya memuncak. 
Satu hal yang pasti membuat Soeharto marah: jika bisnis keluarganya 
diusik.tirto.id - Tanggal 13 Juni 1967, Soeharto menemui sejumlah aktivis 
mahasiswa, salah satunya Adnan Buyung Nasution. Kala itu, ia belum menjadi 
presiden, melainkan Ketua Presidium Kabinet Ampera, posisi pembuka menuju kursi 
kepresidenan yang masih diduduki Sukarno.

Kepada Soeharto yang dikawal lima petinggi militer, Buyung menyodorkan dokumen 
tertulis dan memintanya agar menindak tegas para anggota Angkatan Bersenjata 
Republik Indonesia (ABRI) yang telah terbukti melakukan pelanggaran, termasuk 
korupsi.

Buyung juga berharap supaya tentara fokus kepada tugas utamanya saja, yakni di 
sektor militer, bukan malah melahap sektor-sektor lainnya, termasuk di ranah 
sipil. Selanjutnya ia mengatakan bahwa ABRI sudah terlalu rakus. 


Baca juga: Dwifungsi ABRI dan Jalan Terbuka Politik Tentara

Perkataan pedas itu membuat wajah Soeharto merah padam. Pria yang dikenal kalem 
ini sebenarnya sudah berusaha menahan diri, tetapi tak kuasa, lalu berucap 
dengan suara gemetar, “Kalau bukan saudara Buyung yang mengatakan, pasti sudah 
saya tempeleng!”


Calon Penguasa Unjuk Wibawa
“Soeharto marah betul kepada saya,” kenang Adnan Buyung dalam buku Pergulatan 
Tiada Henti: Dirumahkan Soekarno, Dipecat Soeharto (2004: 191).

Adnan Buyung menjadi bagian dari gerakan mahasiswa yang menumbangkan Orde Lama, 
dan secara tidak langsung mengantarkan Soeharto ke pucuk kekuasaan. Namun, ia 
tetap kritis dalam mengawal suksesi rezim, dari era Sukarno ke Orde Baru, 
termasuk masukannya yang membuat Soeharto berang tersebut.


Baca juga: Berjibaku Melawan Orde Baru Demi Hak Umat Khonghucu

Setelah kejadian itu, Buyung dan kawan-kawannya memang tidak langsung diciduk. 
Namun, nasib buruk terus membayanginya, apalagi setelah Soeharto berkuasa. Usai 
peristiwa Malari 15 Januari 1974, misalnya, Buyung termasuk orang yang 
ditangkap aparat. Bahkan, pada 1987, Buyung sempat terusir dari tanah airnya 
karena ancaman Orde Baru.

Pamor Soeharto sendiri melejit setelah terjadinya tragedi Gerakan 30 September 
1965. Ia tampil sebagai tokoh yang seolah-olah menjalankan peran paling krusial 
dalam upaya “penyelamatan negara”. Maka itu, Soeharto beberapa kali bertindak 
tegas atau keras untuk menunjukkan wibawanya, semisal kata-kata “tempeleng” 
terhadap Adnan Buyung Nasution pada 1967 itu.

Sebelumnya, Soeharto bahkan pernah memperlihatkan sikap penentangan terhadap 
Presiden Sukarno. Usai terjadinya G30S 1965 yang memakan korban jiwa sejumlah 
petinggi militer, Bung Karno memilih Mayjen Pranoto Reksosamodra sebagai 
pelaksana harian pimpinan TNI-AD. Keputusan ini tidak bisa diterima Soeharto.

Soeharto sudah terlanjur mengklaim dirinya mengambilalih pimpinan TNI-AD 
setelah Jenderal Ahmad Yani tiada. Lagipula, selama ini Soeharto memang 
mengemban tugas itu setiap kali Ahmad Yani selaku Menteri/Panglima AD 
berhalangan.


Baca juga: Sepak Terjang Ahmad Yani Menjelang 1 Oktober 1965

Namun, Sukarno punya pilihan lain dengan menunjuk Pranoto sebagai pengganti 
Ahmad Yani untuk sementara. Di Istana Bogor tanggal 2 Oktober 1965, Soeharto 
memprotes keputusan Sukarno dengan suara keras, bukan seperti Soeharto yang 
biasanya bertutur kata halus.

Melihat Soeharto mulai tersulut emosi, Bung Karno justru melunak lantaran tidak 
ingin memperkeruh suasana dan peran Soeharto tentunya masih dibutuhkan dalam 
situasi yang pelik itu. "[…] bukan maksud saya begitu. Harto tetap bertanggung 
jawab mengenai keamanan dan ketertiban," ucap Sukarno seperti dikutip dalam 
Otobiografi Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya (1989: 131).

“Kalau memang demikian tugas saya, maka agar jangan menimbulkan dualisme 
pimpinan dalam Angkatan Darat harus ada penegasan langsung dari Bapak 
Presiden,” balas Soeharto.

“Bagaimana maksud kamu?” tanya Sukarno.

Dengan kepala sedikit mendongak, yang ditanya menjawab tegas. Satu-satunya 
cara, kata Soeharto, adalah Presiden Sukarno mengumumkan kepada rakyat bahwa 
mandat untuk memulihkan keamanan dan ketertiban setelah G30S diberikan 
kepadanya. 


Baca juga: Prijono: Menteri Kiri Berprestasi, Diculik Sebelum Mati

P. Bambang Siswoyo melalui buku Menelusuri Peran Bung Karno dalam G30S-PKI 
(1989) menggambarkan tegangnya suasana di Istana Bogor saat itu. “[…] semua 
ruangan seperti terisi oleh dinding-dinding. Udara membeku, tajam dan kaku. 
Angin terasa padat,” tulisnya (hlm. 66).

Apa yang kemudian terjadi? Sukarno ternyata menuruti permintaan Soeharto. Dan, 
pada 16 Februari 1966, Soeharto memerintahkan penangkapan terhadap Mayjen 
Pranoto dengan tudingan terlibat G30S.


Dampak Murka Sang Jenderal
Rum Aly dalam Titik Silang Jalan Kekuasaan Tahun 1966 (2006) menulis, Soeharto 
pada awal masa kekuasaannya pernah berkali-kali menunjukkan kegusaran, yang 
memperlihatkan betapa dirinya, sebagai orang yang makin berkuasa, 
perlahan-lahan mulai berubah (hlm. 287). 

Sikap menentang yang ditunjukkan terhadap Sukarno, kata-kata penuh amarah yang 
dialamatkan kepada Adnan Buyung Nasution, serta sejumlah tindak represif 
lainnya, memang beberapa kali diperlihatkan Soeharto menjelang dan pada 
awal-awal kepresidenannya.


Baca juga: Kain Kafan dan Lantunan Yasin saat Benny Moerdani Wafat

Lambat-laun, setelah pemerintahannya berjalan cukup stabil, ia kembali ke sifat 
aslinya: kalem, tenang, penuh perhitungan. Setiap kali ada persoalan, Soeharto 
jarang bereaksi langsung. Perintah dalam senyap sudah cukup untuk menghabisi 
lawan-lawan politiknya atau siapapun yang berpotensi mengancam kekuasaannya.

Leonardus Benyamin (Benny) Moerdani pernah merasakan kemarahan Soeharto yang 
terlihat sunyi tapi berdampak ngeri. Suatu ketika, pada pertengahan dekade 
1980-an, Benny dan Soeharto sedang main biliar berdua. Benny, yang kala itu 
menjabat sebagai Panglima ABRI, menyinggung bisnis anak-anak Soeharto, tentunya 
dengan ucapan santai.

Namun, Soeharto rupanya tak berkenan. “Begitu saya angkat masalah tentang 
anak-anaknya tersebut, Pak Harto langsung berhenti main, segera masuk kamar 
tidur, meninggalkan saya di ruang biliar,” kenang Benny seperti dikutip Julius 
Pour dalam Benny, Tragedi Seorang Loyalis (2007: 343).

Benny lantas menceritakan kejadian tersebut kepada Panglima Komando Pemulihan 
Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) Sudomo. “Wah, bapake kethoke nesu 
banget (bapak kelihatannya marah sekali). Jadi, (karier) saya pasti sudah 
selesai, hanya sampai di sini,” kata Benny, dikutip dari buku Sintong dan 
Prabowo karya A. Pambudi (2009: 79).


Baca juga: Algojo Orde Baru Itu Bernama Sudomo

Prediksi Benny ternyata menjadi kenyataan. Ia dicopot dari jabatannya pada 27 
Februari 1988. Soeharto kemudian menempatkannya di kabinet sebagai Menteri 
Pertahanan dan Keamanan, barangkali agar mudah diawasi karena Soeharto 
memperoleh informasi bahwa Benny juga berambisi menjadi presiden.






Jangan Usik Keluarga Cendana
Soeharto adalah tipikal suami sekaligus ayah yang barangkali mendekati ideal. 
Ia nyaris tidak pernah berbuat macam-macam dan teramat sayang dengan istri 
serta anak-anaknya. Maka, jangan sekali-kali mengusik Keluarga Cendana jika 
tidak ingin membuat senyum ramah Pak Harto menjadi seringai penuh makna.. Ya, 
Benny Moerdani sempat merasakannya.

Sebelum persoalan Benny yang menyinggung proyek anak-anaknya, emosi Soeharto 
juga pernah terpantik pada era 1970-an. Tepatnya di penghujung 1971, Siti 
Hartinah alias Ibu Tien, istri Soeharto, di forum pertemuan dengan para 
gubernur dari seluruh Indonesia meminta mereka untuk berpartisipasi dalam 
proyek besar: pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII).


Baca juga: Siti Hartinah, Pengerem Ambisi Berkuasa Soeharto

Tien memproyeksikan TMII sebagai replika dari seluruh provinsi yang ada di 
tanah air. Oleh karena itu, seluruh pemerintah daerah, juga segenap masyarakat, 
hendaknya turut membantu, termasuk dalam pembiayaannya. Ibu negara 
memperkirakan proyek TMII membutuhkan dana sekitar 10,5 miliar rupiah, dan 
meminta para gubernur untuk ikut mengumpulkan uang yang dibutuhkan.

Sontak, perkara ini menuai protes dari berbagai pihak, terutama kaum mahasiswa, 
dan disorot media ketika itu. Terlebih lagi, Soeharto berulang kali menyerukan 
kepada pemerintah daerah dan masyarakat untuk mengurangi pengeluaran yang tidak 
perlu. Proyek TMII tentunya kontraproduktif dengan imbauan sang presiden. 

Soeharto semula bergeming dalam hening di tengah suara-suara sumbang terhadap 
istrinya itu. Namun, akhirnya ia tak tahan lagi. Pada 6 Januari 1972, saat 
menyampaikan pidato dalam acara peresmian Rumah Sakit Pertamina di Kebayoran 
Baru, kekesalannya terluapkan.

“Perbedaan pendapat memang merupakan bumbu demokrasi,” ucap Soeharto dengan 
nada vokalnya yang khas, kalem namun dalam, seperti dikutip dari buku Menyilang 
Jalan Kekuasaan Militer Otoriter yang disusun Rum Aly dan ‎Hatta Albanik (2004: 
175).

“Tetapi harus dalam batas-batas keserasian dan jangan hanya ingin 
menggunakannya sehingga timbul kekacauan, khususnya, dalam menghadapi proyek 
miniatur Indonesia (TMII),” lanjutnya.

Dalam bukunya itu, Rumy Aly dan Hatta Albanik menuliskan bahwa Soeharto tampak 
berkeringat saat mengucapkan kata-kata tersebut. Barangkali menahan amarah agar 
tidak sepenuhnya meledak.

Jauh berpuluh tahun kemudian, murka Soeharto kembali tersulut karena 
keluarganya diusik. Kali ini pelakunya adalah Amien Rais, tokoh Muhammadiyah 
yang memang senang membuat Soeharto panas. 

Greg Barton dalam buku Biografi Gus Dur (2003) mengungkapkan, pada awal 1997, 
Amien Rais mengatakan bahwa 90 persen keuntungan pertambangan Freeport di Irian 
Jaya (Papua) dibawa ke luar negeri, sedangkan sebagian besar dari 10 persen 
sisanya jatuh kepada satu keluarga saja (hlm. 297).


Baca juga: Kisah Lukman Harun Melawan Amien Rais

Amien memang tidak menyebut Keluarga Cendana, namun Soeharto paham betul bahwa 
dirinya sedang diserang. Ia pun murka, kemudian memarahi B.J. Habibie, Menteri 
Negara Riset dan Teknologi sekaligus Ketua ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim 
Indonesia). Amien adalah anggota ICMI.

Kepada Habibie, Suharto berkata dengan nada geram, “Amien membuat pernyataan 
subversif dan ia lebih berbahaya daripada Gus Dur!” 

Nyali Amien, seperti yang ditulis Barton dalam bukunya, ternyata ciut setelah 
mendengar kata-kata Soeharto yang disampaikan Habibie. Amien pun keluar dari 
ICMI.

Beruntung, Soeharto tidak sempat menggasak Amien karena situasi pelik saat itu. 
Kekuasaannya sebagai presiden sedang di ujung tanduk dan akhirnya tumbang pada 
Mei 1998. Soeharto menyatakan lengser keprabon, turun dari kursi kepresidenan 
yang telah diduduki sekian lama. The Smiling General berparas ramah ini rupanya 
sudah terlalu lelah untuk marah.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Iswara 
N Raditya

(tirto.id - Politik) 

Reporter: Iswara N Raditya
Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Ivan Aulia Ahsan

Kirim email ke