ARTIKEL - Penipuan pelajar Indonesia di China, tanggung jawab siapa?
 Minggu, 15 April 2018 07:33 WIB
 
Mahasiswa Indonesia bersepeda bersama seusai pengajian di Masjid Huxi Shanghai 
menjelang pergantian tahun. (Permusim)

Beijing (ANTARA News) - "Saya belum pernah mendengarkan ini sebelumnya," kata 
Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir di Beijing, Jumat 
(13/4) sore.

Ia tidak hanya tertegun, melainkan juga kesulitan menjawab pertanyaan seorang 
mahasiswa kedokteran Capital Medical University, Beijing, asal Makassar, 
Sulawesi Selatan, pada sore itu.

"Kepada siapa saya mesti mengadukan praktik yang sudah berlangsung 
bertahun-tahun ini?" tanya Bagus Ari Haryo Anugrah saat bertatap muka dengan 
Menristekdikti di aula Kedutaan Besar RI di Beijing pada sore hingga malam itu.

Ia merasa beruntung di antara ribuan mahasiswa asal Indonesia lainnya yang 
turut menjadi korban penipuan agen penyalur pelajar Indonesia ke China.

"Ada teman kami yang terpaksa mencari utangan dan ada juga orang tua yang harus 
menjual sawah dan ladangnya untuk menebus ijazah nanti kalau sudah lulus," 
tutur Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia di Tiongkok (PPIT) periode 2016-2017 
itu seraya menyebutkan bahwa sebagian besar dari 14.000 pelajar Indonesia di 
China menjadi korban penipuan.

Mahasiswa tingkat akhir CMU itu menjadi korban karena terbatasnya informasi 
mengenai seluk-beluk pendidikan di China.

Haryo tidak sedikit pun ragu saat mendapatkan tawaran beasiswa di China dari 
seorang agen beberapa tahun silam.

"Pada saat itu, agen tersebut mengaku orang kementerian. Bagi kami yang tinggal 
di daerah percaya saja. Siapa yang tidak ingin kuliah gratis di negeri maju 
seperti China," kata anggota Paskibraka upacara 17 Agustus 2017 di KBRI Beijing 
yang akan lulus kedokteran pada Juli 2018 itu.

Demikian juga dengan rekan kuliahnya, Wawan Haryanto, yang berasal dari 
Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat.

"Korbannya terus bertambah karena praktik itu sampai sekarang masih berlangsung 
tanpa ada satu pun pihak yang mencegahnya," ujar calon dokter dari CMU itu 
menambahkan.


Sasar Daerah

Kepada Antara di Beijing, keduanya mengaku menjadi korban dari agen yang gencar 
melakukan praktik penipuan terhadap lulusan sekolah menengah atas, terutama 
yang tinggal di daerah.

"Mereka sengaja menyasar daerah-daerah, terutama yang tidak memiliki akses ke 
luar sehingga calon korban tidak cukup waktu untuk menelusuri atau mengetahui 
lebih lanjut sistem pendidikan di China," kata Wawan.

Para agen itu menawari program beasiswa kepada calon korban. Kemudian agen 
tersebut membantu pengurusan sejumlah dokumen calon korban, termasuk visa dan 
persyaratan mendaftar di perguruan tinggi di China.

Beasiswa yang ditawarkan ada yang 100 persen biaya pendidikan. Ada juga yang 
diminta hanya membayar 25 persen dari biaya pendidikan per semester dengan 
jaminan kuliah di perguruan tinggi ternama di negara berpenduduk terbanyak di 
dunia itu.

Yang membuat calon korban tertarik adalah mendaftar di kampus favorit di China 
tanpa melalui tes saringan masuk. Calon korban kebanyakan tertarik dengan 
program sarjana kedokteran.

Tentu saja hal ini aneh bin ajaib karena untuk bisa masuk perguruan tinggi di 
China, para lulusan SMA setempat harus melalui persaingan yang sangat ketat.

Sistem pendidikan di China tidak hanya dikenal ketat dalam menerapkan kurikulum 
dan disiplin, melainkan juga SMA di "Tirai Bambu" itu juga paling banyak 
memberikan pekerjaan rumah atau PR kepada murid-muridnya.

Para siswa SMA di China setiap hari mendapatkan PR. Padahal setiap hari pula 
mulai Senin hingga Sabtu mereka belajar di kelas mulai pukul 08.00 hingga 18.00 
dan hampir pasti tidak pernah ada siswa membolos atau "keleleran" di 
tempat-tempat umum pada jam-jam pelajaran.

Belum lagi soal-soal ujian nasional mereka yang sangat sulit. Saat hendak 
memasuki pendidikan tinggi mereka juga dihadapkan dengan tes yang tidak kalah 
beratnya.

Khusus untuk siswa yang berasal dari negara lain harus lulus ujian HSK (Hanyu 
Shuiping Kaoshi/tes bahasa Mandarin bagi pelajar asing berstandar nasional di 
China) level IV terlebih dulu jika ingin mendapatkan ijazah SMA di China.

Sertifikat HSK IV ini merupakan prasyarat bagi warga asing yang hendak memasuki 
perguruan tinggi di China. Namun tidak sedikit perguruan tinggi di daratan 
Tiongkok itu mempersyaratkan HSK V untuk pendidikan strata 1 dan HSK VI untuk 
jenjang strata 2 ke atas.

Ujian HSK pun biasanya digelar dua kali dalam satu tahun di lembaga khusus dan 
pelajar asing di China harus bisa mendapatkan skor minimal 180 untuk bisa lulus 
HSK di setiap level.

Contoh sederhana ini luput dari perhatian calon korban yang sudah telanjur 
tergiur dengan janji manis para agen penyalur pelajar Indonesia ke China.

Akhirnya begitu mengikuti pendidikan di China, bukan saja mengalami kesulitan 
beradaptasi dengan sistem pengajaran, melainkan juga pelajar Indonesia terjerat 
beban biaya kuliah yang nilainya bisa puluhan hingga ratusan juta rupiah per 
semester itu.

Itu baru satu kasus. Belum lagi lembaga pendidikan yang menjadi tujuan korban 
penipuan tidak terakreditasi atau tidak memiliki sertifikat dari Kementerian 
Pendidikan China agar bisa mengadakan pengajaran dengan menggunakan Bahasa 
Inggris sebagai bahasa pengantar.

Sayangnya, tidak ada korban yang berani melaporkan praktik penipuan seperti 
yang dialami Haryo dan Wawan kepada pihak berwajib, baik di China maupun di 
Indonesia.

"Padahal di daerah-daerah, seperti Wuhan (Provinsi Hubei) banyak korban dari 
kita. Bahkan ada yang sampai pindah jurusan atau pindah kampus karena tidak 
mendapatkan akreditasi dari pemerintah setempat," kata Haryo.

Keengganan mereka melaporkan hal itu sangat mungkin didasari oleh faktor 
rendahnya biaya kuliah di China dibandingkan dengan di Indonesia, khususnya 
untuk jurusan kedokteran.

Demikian halnya dengan fasilitas perkuliahan, praktik laboratorium, dan praktik 
klinik yang lebih memadai ditambah biaya pembelian alat praktik yang lebih 
murah sehingga bagaimana pun biaya kuliah kedokteran di China jatuhnya lebih 
murah.

Namun praktik penipuan harus segera dihentikan agar tidak makin banyak 
menimbulkan jatuhnya korban karena bagaimana pun bentuk praktik ilegal tersebut 
sangat merugikan.

"Laporkan! Biar polisi nanti yang tangkap," tegas Menristekdikti seusai 
pertemuan dengan 90 pelajar asal Indonesia di sela-sela kunjungan kerjanya ke 
China pada 12-15 April 2018 seraya berjanji akan membongkar praktik ilegal 
tersebut. 
Pewarta: M. Irfan Ilmie
Editor: Monalisa

Kirim email ke