Dari banyak setan yang terdapat dalam tulisan ini, Amien Rais termasuk setan 
yang mana???

   ----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: [email protected] [GELORA45] 
<[email protected]>Kepada: "[email protected]" 
<[email protected]>Terkirim: Rabu, 18 April 2018 07.08.08 GMT+2Judul: 
[GELORA45] AGAMA YANG TAK LAGI AMPUH UNTUK MENGUSIR SETAN
     







AGAMA YANG TAK LAGI AMPUH UNTUK MENGUSIR SETAN
AGUS MULYADI 14 APRIL 2018
MOJOK.CO – Sejak bom “Pengabdi Setan”, cara-cara keagamaan tak lagi berhasil 
untum mengusir setan. Kini, setannya bahkan ikut zikir dan salat. Hiiiy.




Saya bukan orang yang sering menonton film horor. Selain karena saya memang 
tipikal orang yang penakut, saya juga merasa bahwa kegiatan nonton film adalah 
kegiatan yang seyogianya memunculkan rasa bahagia, bukannya rasa takut.




Saya ingat betul, film horor pertama yang saya tonton di bioskop adalah film 
“Kuntilanak”. Sebuah film horor yang kala itu cukup membuat saya punya 
perspektif baru soal kuntilanak. Sungguh, saya baru tahu kalau ternyata ada 
teori kuntilanak berkaki kuda.

Setelah film “Kuntilanak” tersebut, hampir tak ada film horor lain yang 
kemudian saya tonton di bioskop. Kalaupun iya, saya nontonnya di YouTube. Itu 
pun biasanya tak sampai selesai dan lebih banyak saya skip kecuali pada 
adegan-adegan yang membuat jiwa kelelakian saya bangkit.




Kalaupun kemudian saya sempat beberapa kali nonton film horor (utamanya film 
horor Indonesia), itu lebih karena saya penasaran dengan kehadiran 
aktris-aktris panas dengan ukuran payudara sporadis yang memang beberapa tahun 
belakangan banyak bermain di film-film horor yang dibalut dengan nuansa 
sensual. Sebuah genre film yang oleh banyak orang disebut sebagai horor tetek 
(Koya Pagayo, bedebah kau).




Ibarat majalah, horor tetek ini serupa majalah Liberty, majalah yang isinya 
dunia mistis, tapi juga bercampur dengan dunia erotis. Majalah yang kolom 
iklannya adalah percampuran antara penjual dildo dan obat kuat dengan padepokan 
gaib dan pesugihan. Pokoknya sesuatu yang menawarkan sensasi merinding dan 
menggelinjang dalam waktu yang bersamaan.




Namun, beberapa waktu terakhir ini, kebiasaan saya yang tak mau menonton film 
horor mulai terkikis. Alasannya mungkin sama dengan alasan yang banyak dipakai 
oleh orang-orang: efek film “Pengabdi Setan”.




Ya, saya akui, saya sangat penasaran dengan “Pengabdi Setan”. Maklum, film 
horor remake garapan Joko Anwar ini disebut-sebut membawa kebaruan dalam film 
horor. Ia mendobrak tren horor tetek dan benar-benar membawa semangat horor 
murni kembali kepada khitahnya.



BACA JUGA:  Pindah Agama Lantas Mengejek Keyakinan Terdahulu Itu Buat Apaan Sih?
Rasa penasaran saya terbayar lunas. Film “Pengabdi Setan” memang memberikan 
pengalaman horor yang begitu dalam. Sepanjang film berlangsung, saya dan Arman 
Dhani (iya, saya nonton “Pengabdi Setan” sama makhluk gembul ini, bukan sama 
pacar saya) berkali-kali merasakan ketakutan yang benar-benar paripurna. Dhani 
bahkan sampai mengumpat setelah film selesai, “Joko Anwar ki cen asu og,” 
katanya.




Saking seramnya, Dhani bahkan sampai tak berani tidur sendiri di kantor.




Entah ada hubungannya atau tidak, yang jelas film “Pengabdi Setan” benar-benar 
menjadi titik balik film horor Indonesia. Para produser lalu berlomba-lomba 
membuat film-film horor yang murni horor, bukan lagi horor tetek.




Hal ini tentu saja memunculkan optimisme yang bagus soal film horor. Sebab, 
film horor kembali kepada jalurnya: yang besar harusnya rasa takutnya, bukan 
ukuran teteknya.




Walaupun begitu, ada satu yang cukup membuat saya agak ngeri dengan fenomena 
film-film horor murni ini, yaitu semakin berkurangnya kesaktian entitas agama.




Konsep “lawan terbaik setan adalah agama” benar-benar semakin hilang dan tak 
tersisa.

Di film “Pengabdi Setan”, misalnya, ada adegan ketika setannya menunggu sosok 
Rini yang sedang salat dan kemudian menampakkan diri tepat di depan Rini saat 
ia masih memakai mukena. Selain itu, ustaz di film tersebut tidak tampil 
sebagai sosok yang superior. Ia mati dibunuh sama setannya.




Ini tentu saja sangat mengerikan. Padahal selama ini, hampir di semua film-film 
horor kita, sosok ustaz (atau pak kiai) selalu hadir sebagai pengusir setan. 
Pokoknya kalau pak ustaz atau pak kiai sudah baca Ayat Kursi, beres urusan.




Logikanya, kalau pak ustaznya saja mati dibunuh setan, apalagi yang bisa 
diharapkan dari orang yang tidak punya kapasitas soal agama?
BACA JUGA:  Catatan Mualaf Mudik Ke Jerman
Fenomena mengerikan ini benar-benar berlanjut.




Di film “Sajen”, setannya tak kalah kurang ajar dibandingkan setan di film 
“Pengabdi Setan”. Kalau biasanya setan akan panas saat dibacakan Ayat Kursi, 
setan di film “Sajen” ini sebaliknya, ia malah semakin beringas dan berani. 
Ayat Kursi tak mempan untuk menjadi senjata melawan setan.




Yang cukup baru, ada film “Danur 2”. Di film ini, setannya keparat betul. Lha 
gimana nggak keparat, saat ada tokoh yang sedang berzikir tahlil, setannya 
bisa-bisanya ikut menggangguk-anggukkan kepala sesuai bacaan tahlil.




Yang paling bajingan tentu saja film “Makmum” yang dibikin oleh Riza Pahlevi. 
Dalam film tersebut, setannya nggak tanggung-tanggung, ia ikut salat menjadi 
makmum.




Aneka fenomena ketidaktakutan setan pada entitas dan simbolisasi beragama Ini 
boleh jadi adalah efek dari fenomena masa kini, ketika agama semakin tidak 
dianggap tinggi. Agama menjadi semakin profan. Semakin ora kajen.




Orang-orang banyak yang menggunakan agama sebagai kedok kepalsuan, 
menggunakannya sebagai senjata politik, menggunakannya sebagai bisnis, dan yang 
paling bangsat, menggunakannya sebagai pemecah belah masyarakat.




Agama semakin pop, tetapi bukan pada posisi yang tinggi.




Maka, tak aneh jika kemudian, dalam film horor, agama bukan lagi menjadi 
sesuatu yang punya posisi paling paripurna. Ia tak lagi menjadi simbol 
perlawanan keburukan yang disimbolkan dengan setan.




Lha gimana, kadang manusia sekarang ini jauh lebih jahat dan lebih 
nggenthoketimbang setan itu sendiri je.






Entah kenapa, saya semakin yakin, di tahun 2019 nanti, setan benar-benar tidak 
lagi takut sama agama. Ia akan lebih takut sama politik. Karena itu jangan 
heran kalau besok, yang bisa mengobati orang kesurupan bukan lagi ustaz atau 
kiai, melainkan politisi, aparat, dan anggota organisasi kemasyarakatan.






    

Kirim email ke