Setan ular dengan dengan lidah bercabang........ 2018-04-18 7:36 GMT+02:00 Chalik Hamid [email protected] [GELORA45] < [email protected]>:
> > > Dari banyak setan yang terdapat dalam tulisan ini, Amien Rais termasuk > setan yang mana??? > > > ----- Pesan yang Diteruskan ----- > *Dari:* [email protected] [GELORA45] <[email protected]> > *Kepada:* "[email protected]" <[email protected]> > *Terkirim:* Rabu, 18 April 2018 07.08.08 GMT+2 > *Judul:* [GELORA45] AGAMA YANG TAK LAGI AMPUH UNTUK MENGUSIR SETAN > > > > > [image: malam_jumat_pocong_silam_mojok] > > AGAMA YANG TAK LAGI AMPUH UNTUK MENGUSIR SETAN > <https://mojok.co/agus-mulyadi/esai/agama-yang-tak-lagi-ampuh-untuk-mengusir-setan/> > [image: Agus Mulyadi]AGUS MULYADI <https://mojok.co/penulis/agus-mulyadi/> > 14 APRIL 2018 > > *MOJOK.CO <http://MOJOK.CO>* – *Sejak bom “Pengabdi Setan”, cara-cara > keagamaan tak lagi berhasil untum mengusir setan. Kini, setannya bahkan > ikut zikir dan salat. Hiiiy.* > > > Saya bukan orang yang sering menonton film horor > <https://mojok.co/haris-firmansyah/esai/indonesia-2017-dalam-pusaran-film-horor/>. > Selain karena saya memang tipikal orang yang penakut, saya juga merasa > bahwa kegiatan nonton film adalah kegiatan yang seyogianya memunculkan rasa > bahagia, bukannya rasa takut. > > > Saya ingat betul, film horor pertama yang saya tonton di bioskop adalah > film “Kuntilanak”. Sebuah film horor yang kala itu cukup membuat saya punya > perspektif baru soal kuntilanak > <https://mojok.co/irwan-bajang/corak/malam-jumat/tentang-kuntilanak-dan-nenek-tua-yang-muncul-setiap-saya-bertemu-puthut-ea/>. > Sungguh, saya baru tahu kalau ternyata ada teori kuntilanak berkaki kuda. > > Setelah film “Kuntilanak” tersebut, hampir tak ada film horor lain yang > kemudian saya tonton di bioskop. Kalaupun iya, saya nontonnya di YouTube. > Itu pun biasanya tak sampai selesai dan lebih banyak saya *skip* kecuali > pada adegan-adegan yang membuat jiwa kelelakian saya bangkit. > > > Kalaupun kemudian saya sempat beberapa kali nonton film horor (utamanya > film horor Indonesia), itu lebih karena saya penasaran dengan kehadiran > aktris-aktris panas dengan ukuran payudara sporadis yang memang beberapa > tahun belakangan banyak bermain di film-film horor yang dibalut dengan > nuansa sensual. Sebuah genre film yang oleh banyak orang disebut sebagai > horor tetek (Koya Pagayo, bedebah kau). > > > Ibarat majalah, horor tetek ini serupa majalah *Liberty*, majalah yang > isinya dunia mistis, tapi juga bercampur dengan dunia erotis. Majalah yang > kolom iklannya adalah percampuran antara penjual dildo dan obat kuat dengan > padepokan gaib dan pesugihan. Pokoknya sesuatu yang menawarkan sensasi > merinding dan menggelinjang dalam waktu yang bersamaan. > > > Namun, beberapa waktu terakhir ini, kebiasaan saya yang tak mau menonton > film horor mulai terkikis. Alasannya mungkin sama dengan alasan yang banyak > dipakai oleh orang-orang: efek film “Pengabdi Setan > <https://mojok.co/redaksi/corak/kilas/pengabdi-setan-film-horor-indonesia-terlaris/> > ”. > > > Ya, saya akui, saya sangat penasaran dengan “Pengabdi Setan”. Maklum, film > horor *remake* garapan Joko Anwar ini disebut-sebut membawa kebaruan > dalam film horor. Ia mendobrak tren horor tetek dan benar-benar membawa > semangat horor murni kembali kepada khitahnya. > > > BACA JUGA: Pindah Agama Lantas Mengejek Keyakinan Terdahulu Itu Buat > Apaan Sih? > > <https://mojok.co/khadafi-ahmad/esai/pindah-agama-lantas-mengejek-keyakinan-terdahulu-itu-buat-apaan-sih/> > > Rasa penasaran saya terbayar lunas. Film “Pengabdi Setan” memang > memberikan pengalaman horor yang begitu dalam. Sepanjang film berlangsung, > saya dan Arman Dhani (iya, saya nonton “Pengabdi Setan” sama makhluk gembul > ini, bukan sama pacar saya) berkali-kali merasakan ketakutan yang > benar-benar paripurna. Dhani bahkan sampai mengumpat setelah film selesai, > “*Joko > Anwar ki cen asu og*,” katanya. > > > Saking seramnya, Dhani bahkan sampai tak berani tidur sendiri di kantor. > > > Entah ada hubungannya atau tidak, yang jelas film “Pengabdi Setan” > benar-benar menjadi titik balik film horor Indonesia. Para produser lalu > berlomba-lomba membuat film-film horor yang murni horor, bukan lagi horor > tetek. > > > Hal ini tentu saja memunculkan optimisme yang bagus soal film horor. > Sebab, film horor kembali kepada jalurnya: yang besar harusnya rasa > takutnya, bukan ukuran teteknya. > > > Walaupun begitu, ada satu yang cukup membuat saya agak ngeri dengan > fenomena film-film horor murni ini, yaitu semakin berkurangnya kesaktian > entitas agama. > > > Konsep “lawan terbaik setan adalah agama” benar-benar semakin hilang dan > tak tersisa. > > Di film “Pengabdi Setan”, misalnya, ada adegan ketika setannya menunggu > sosok Rini yang sedang salat dan kemudian menampakkan diri tepat di depan > Rini saat ia masih memakai mukena. Selain itu, ustaz di film tersebut tidak > tampil sebagai sosok yang superior. Ia mati dibunuh sama setannya. > > > Ini tentu saja sangat mengerikan. Padahal selama ini, hampir di semua > film-film horor kita, sosok ustaz (atau pak kiai) selalu hadir sebagai > pengusir setan. Pokoknya kalau pak ustaz atau pak kiai sudah baca Ayat > Kursi, beres urusan. > > > Logikanya, kalau pak ustaznya saja mati dibunuh setan, apalagi yang bisa > diharapkan dari orang yang tidak punya kapasitas soal agama? > BACA JUGA: Catatan Mualaf Mudik Ke Jerman > <https://mojok.co/katrin-bandel/esai/catatan-mualaf-mudik-ke-jerman/> > > Fenomena mengerikan ini benar-benar berlanjut. > > > Di film “Sajen”, setannya tak kalah kurang ajar dibandingkan setan di film > “Pengabdi Setan”. Kalau biasanya setan akan panas saat dibacakan Ayat > Kursi, setan di film “Sajen” ini sebaliknya, ia malah semakin beringas dan > berani. Ayat Kursi tak mempan untuk menjadi senjata melawan setan. > > > Yang cukup baru, ada film “Danur 2”. Di film ini, setannya keparat betul. > Lha gimana nggak keparat, saat ada tokoh yang sedang berzikir tahlil, setannya > bisa-bisanya ikut menggangguk-anggukkan kepala sesuai bacaan tahlil > <https://mojok.co/bagus-panuntun/corak/malam-jumat/tak-ada-pocong-yang-tak-islam/> > . > > > Yang paling bajingan tentu saja film “Makmum” yang dibikin oleh Riza > Pahlevi. Dalam film tersebut, setannya nggak tanggung-tanggung, ia ikut > salat menjadi makmum. > > > Aneka fenomena ketidaktakutan setan pada entitas dan simbolisasi beragama > Ini boleh jadi adalah efek dari fenomena masa kini, ketika agama semakin > tidak dianggap tinggi. Agama menjadi semakin profan. Semakin *ora kajen*. > > > Orang-orang banyak yang menggunakan agama sebagai kedok kepalsuan, > menggunakannya sebagai senjata politik, menggunakannya sebagai bisnis, dan > yang paling bangsat, menggunakannya sebagai pemecah belah masyarakat. > > > Agama semakin pop, tetapi bukan pada posisi yang tinggi. > > > Maka, tak aneh jika kemudian, dalam film horor, agama bukan lagi menjadi > sesuatu yang punya posisi paling paripurna. Ia tak lagi menjadi simbol > perlawanan keburukan yang disimbolkan dengan setan. > > > Lha gimana, kadang manusia sekarang ini jauh lebih jahat dan lebih > *nggentho*ketimbang setan itu sendiri *je*. > > > Entah kenapa, saya semakin yakin, di tahun 2019 nanti, setan > <https://mojok.co/amanatia/corak/malam-jumat/teror-andong-pocong-di-sidoarjo/> > benar-benar > tidak lagi takut sama agama. Ia akan lebih takut sama politik. Karena itu > jangan heran kalau besok, yang bisa mengobati orang kesurupan bukan lagi > ustaz atau kiai, melainkan politisi, aparat, dan anggota organisasi > kemasyarakatan. > > > > >
