Kenapa harus dibatasi, toh PDIP yang juara pemilu 2014 itu saja 
cuma punya angka 18%. Apalagi dengan bertambahnya jumlah 
partai peserta pemilu 2019 mana ada partai yang bisa meraih 20% 
kursi di DPR -- pekan lalu PTUN menangkan gugatan PKPI pimpinan 
Hendropriyono sehingga bertambahlah jumlah partai peserta 
pemilu 2019 menjadi 16 partai.
Jelas & gamblang penerapan ambang batas ini cuma akal-akalan 
supaya partai terpaksa berpatungan jumlah kursi untuk dapatkan 
tiket ke pilpres. Apa namanya ini kalau bukan pilpres bohong-bohongan 
karena memaksakan patungan (koalisi) sebagai syarat mengajukan capres, 
sedangkan UUD cuma mensyaratkan paslon pres-wapres diajukan 
oleh partai atau gabungan partai. Artinya, koalisi / gabungan bukanlah 
syarat utama apalagi satu-satunya syarat. Jadi, meminjam judul subject 
di atas, bisa dikatakan bahwa presidential threshold adalah kebohongan 
pertama dalam pertarungan politik.
Lalu, kenapa jadi demokrasi pura-pura? 

Begini, karena maksud dari presidential threshold ini adalah pembentukan 
koalisi di DPR / legislatif, maka jelas tujuannya adalah supaya legislatif 
menjadi pendukung eksekutif. Dengan kata lain, tidak ada lagi fungsi pengimbang 
dan fungsi kontrol dalam penyelenggaraan negara. Singkatnya, ya sama saja 
dengan rezim Orba. 

Bedanya, dulu eksekutif didukung Golkar yang memang menjadi mayoritas 
di legislatif. Sedangkan sekarang, cuma punya kursi < 20% tapi mau pura-pura 
sebagai mayoritas dengan meminjam kursi / suara partai lain supaya legislatif 
menjadi sah sebagai stempel pemerintah.
Sebaiknya semua partai itu membaca & memahami ujaran Lincoln yang barusan 
diposting Noroyono 1963 - trims buat noroyono1963@...

Nah, sekarang apa saja masalah pilpres di Indonesia yang menurut Anda 
masih banyak kekurangan itu?
--- SADAR@... wrote:
  

 
Bung Ajeg yb, Bahwa PILPRES yang dijalankan di Ind. sejak tahun 2004 ini masih 
banyak masalah dan kekurangannya, sudah PASTI! Tapi, saya tidak berhasil 
menangkap, kenapa dikatakan dengan threshold 20% sama saja dengan pilpres 
bohong-bohongan, demokrasi pura-pura?Bukankah dengan adanya threshold 20% itu 
hanya untuk membatasi capres yang keluar TIDAK terlalu banyak dan dengan 
setidaknya sebagai ambang pintu penyaringan calon yang keluar adalah yang 
“terbaik” dengan asumsi banyaknya pendukung, ...Atau mungkin bung bisa 
mengajukan cara dan jalan lain mengeluarkan capres-capres nya yang diperkirakan 
lebih baik?Salam,ChanCT 
From: ajeg 
Dengan menerapkan presidential threshold, apalagi sampai 20%, 
ya sama saja dengan pilpres bohong-bohongan, demokrasi pura-pura.Partainya 
banyak, capresnya sama.
--- SADAR@... wrote:
Kebenaran, Korban Pertama Pertarungan Politik
Senin , 16 April 2018 | 
20:37http://www.sinarharapan.co/opinidaneditorial/read/937/kebenaran__korban_pertama_pertarungan_politik
 Sumber Foto Geotimes
IlustrasiOleh Taufik DarusmanDalam peperangan, yang menjadi korban pertama 
biasanya adalah kebenaran. Pihak A meng-klaim mereka telah membinasakan sekian 
banyak musuh dan merebut sekian luas teritori. Pihak B juga akan mengatakan 
yang sama. Keduanya terlibat dalam perang urat syaraf dengan tujuan menampilkan 
diri sebagai pemenang dengan mengelabui publik dan media.Demikian juga dalam 
pertarungan politik seperti pilpres. Kita masih ingat pilpres di AS pada 2008, 
ketika beberapa anggota Partai Republik menyebar kabar bohong bahwa Barack 
Obama, dari Partai Demokrat, bukan dilahirkan di AS tetapi di sebuah negara 
asing. Karena itu, lawan-lawannya berkilah ia melanggar konstitusi AS yang 
mengharuskan seorang presiden AS warga negara yang lahir di AS. Ternyata, 
tuduhan itu bohong semua dan tidak kurang dari Donald Trump, kini presiden AS, 
terpaksa mengakui dan meminta maaf.Di Indonesia hal yang sama berlaku. Pada 
pilpres 2014, Joko Widodo (Jokowi) dituduh sebagai anggota PKI, dalam suatu 
black campaign yang nyaris membuat ia kalah.. Kenyataannya, Jokowi baru berusia 
4 tahun ketika Gestapu/PKI 1965 terjadi..Minggu lalu, dalam suatu ceramah 
anggota Dewan Penasihat Persaudaraan Alumni 212, Eggi Sudjana, mengatakan 
'presiden membuat rakyat miskin'. Kenyataannya, data BPS menunjukkan jumlah 
penduduk miskin justru menurun di pemerintahan Jokowi."Hasil survei menunjukkan 
pada 2017 angka kemiskinan malah turun sekitar satu juta orang. Karena itu, 
mestinya kita bicara berdasarkan data," kata Menteri Sosial Idrus Marham di 
kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (16/4/2018). "Dulu 27 juta lebih, 
sekarang tinggal 26.580.000, jadi turun satu juta lebih. Jadi ini luar biasa," 
sambungnya, seraya mengajak Eggi untuk berbicara berdasarkan data yang 
akurat.Sebelumnya, Ketua Majelis Kehormatan PAN Amien Rais mengritik Jokowi 
melakukan pembohongan melalui program bagi-bagi sertifikat tanah. "Ini 
pengibulan, waspada bagi-bagi sertifikat. Bagi tanah sekian hektar, namun 74% 
negeri ini dimiliki kelompok tertentu dan dibiarkan. Ini apa-apaan?" kata Amien 
saat menjadi pembicara dalam diskusi 'Bandung Informal Meeting' yang digelar di 
Hotel Savoy Homman, Jalan Asia Afrika, Bandung, Minggu (18/3/2018).Amien pun 
berbicara soal PKI yang menurutnya sedang bangkit selama pemerintahan Jokowi. 
Namun, Amien, seorang akademisi yang seharusnya paham akan prinsip-prinsip 
suatu argumentasi, tidak menyampaikan bukti-bukti untuk memperkuat 
tuduhannya.Setelah Amien Rais menyebut 74% tanah Indonesia dikuasai apa yang 
dia sebut sebagai kelompok tertentu, Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo 
Subianto juga menyatakan hal yang sama. Namun, kali ini Prabowo menyebut angka 
80%. Prabowo malahan menambahkan, 50% kekayaan Indonesia dikuasai oleh hanya 1% 
rakyat Indonesia.Lagi-lagi, tidak ada di antara mereka yang datang dengan bukti 
konkrit. Namun lebih aneh lagi, tidak ada unsur pemerintah yang membantah semua 
tudingan-tudingan itu. Tanggapan justru datang dari Ketua Umum Pengurus Besar 
Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj, yang mempertanyakan siapa yang 
memberikan tanah kepada pihak asing tersebut.“Yang bagi tanah sebenarnya siapa 
sih? Apakah Pak Jokowi?” tanya Said usai bertemu Jokowi di Kompleks Istana 
Kepresidenan, Jakarta, Rabu (21/3). Mantan Wakil Ketua Tim Gabungan Pencari 
fakta (TGPF) Kerusuhan Mei 1998 ini langsung menjawab pertanyaannya sendiri 
dengan membantah bahwa Jokowi membagi-bagi tanah kepada pihak asing.“Malah 
Jokowi mendistribusikan tanah kepada rakyat,” ia menegaskan. Said mengambahkan 
bahwa pada era presiden sebelumnya banyak tanah sudah diberikan kepada pihak 
asing, tanpa menyebut siapa yang dimaksud.Kasus-kasus semacam ini diperkirakan 
akan meningkat intensitasnya. Bukan saja karena waktu bergerak semakin dekat 
dengan pilpres, tetapi seiring malasnya pihak oposisi Jokowi untuk berpikir. 
Seharusnya pihak oposisi dapat mengritik pemerintah sekarang, misalnya, kenapa 
masih banyak murid sekolah harus menyeberang kali di atas seutas tambang tali 
untuk mencapai sekolah mereka? Mengapa masih banyak balita kekurangan gizi 
seperti di Papua? Mengapa kita belum juga menambah kilang minyak sehingga tidak 
perlu lagi mengimpor dan menghabiskan devisa?Pihak lawan Jokowi tampaknya bukan 
saja sudah kekurangan amunisi untuk menyerang pertahana; mereka tidak inovatif 
dan menderita defisit dalam segi imajinasi. Ini patut disayangkan karena suatu 
pertarungan politik dapat menarik dan bisa menjadi proses pembelajaran bagi 
para politisi muda.(Penulis adalah wartawan senior yang tinggal di Jakarta)
   

Kirim email ke